Langsung ke konten utama

"Memanusiakan" Para Penderita Tuberkulosis


"Uhukkk.. uhukkk.. uuhhuukkk.."

Bunyi suara batuk menggelegar dan ternyata berasal dari seorang penderita TBC (tuberkulosis). Bila berada di dekatnya, apakah yang akan kita lakukan? Langsung menjauh, atau tetap bersikap biasa saja. Secara refleks atau spontan kita pasti langsung menjauh. Tapi bagaimanakah dengan respon si penderita TBC tersebut?

Mari posisikan diri bila kita menjadi pasien atau penderita penyakit tuberkulosis tersebut. Bagaimana rasanya ketika orang-orang menjauhi kita? Dijauhi karena alasan psikis saja sudah sakit rasanya, apalagi bila karena alasan seperti sakit fisik, tentu akan mempengaruhi sisi psikologis. Tak jarang banyak penderita tuberkulosis yang memilih untuk menjauh dari lingkungan sekitar, belum lagi segala penolakan yang ia dapatkan jika "terpaksa" berhubungan dengan dunia luar.

Penderita tuberkulosis (yang sekarang disebut TB) juga seorang manusia biasa. Namun perlakuan dari lingkungan sekitar ada yang kurang manusiawi. Padahal dukungan moril dibutuhkan agar pasien TB bisa segera sembuh. Dan dukungan tersebut bisa diberikan jika kita "memanusiakan" para penderita penyakit tersebut. Bukan malah menjauhi dan menghindarinya, seolah dia bukanlah manusia.

***


Pada Senin (19/3/2018) kemarin, saya mengikuti sebuah workshop atau lokakarya dengan tema "Peduli Tuberkulosis, Indonesia Sehat". Selain memberikan pemahaman mengenai penyakit yang biasanya menjangkiti paru-paru ini serta sosialisasi pencegahan dan pengobatannya, kami juga kedatangan tamu istimewa. Pak Edi Junaidi, mantan penderita tuberkulosis berbagi cerita suka duka dan pengalamannya ketika menjadi pasien tuberkulosis multi-drug reistant (TB MDR). Ia bercerita bagaimana harus menjalani pengobatan selama 21 bulan dan berbagai kisah pelik yang dialaminya sebagai penderita TB.

Pak Edi harus berpisah dengan istrinya, lalu anak-anaknya pun dibawa dan dibesarkan oleh kerabatnya. Ia hidup menyendiri dan sebatang kara. Tak terhitung pula biaya yang telah dikeluarkan untuk pengobatan. Suatu kali, saat berobat ia juga pernah diberi "perlakuan khusus" yakni menjadi pasien yang terakhir diperiksa, dimana para pekerja rumah sakit itu berusaha menjauhkan beliau dari orang lain.

BENCI PENYAKITNYA, TAPI JANGAN BENCI ORANGNYA! Begitulah seharusnya sikap kita terhadap penderita penyakit-penyakit mematikan meski memang berpotensi menular. Dengan cara yang tepat, kita masih bisa bergaul dengan para penderita TB sehingga morilnya terangkat serta motivasinya untuk sembuh meninggi. Dengan begitu kita juga telah "memanusiakan" para penderita tuberkulosis dan bukan menganggapnya seperti sesuatu yang harus dihindari. Ingat, tuberkulosis bukanlah penyakit kutukan atau penyakit kiriman sehingga kita alergi bila berada dekat dengannya.


Penyakit tuberkulosis disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang bisa ditularkan melalui udara. Apabila penderita TB bicara ada 210 partikel bakteri yang keluar (maksimal), jika batuk sekitar 3500 partikel keluar dari mulut penderita TB, sementara bersin menjadi pensuplai bakteri terbanyak dengan 4500 sampai 1 juta partikel. Namun bakteri atau kuman TB ini akan mati dalam hitungan jam bila berada di ruangan terbuka dan terpapar sinar matahari. Sementara itu, lingkungan yang tertutup, lembab dan gelap justru menjadi sarang kuman hingga beberapa bulan.

Ciri-ciri orang yang terinfeksi bakteri TB akan mengalami gejala seperti batuk (baik berdahak maupun tidak), demam, meriang, nyeri dada, berkeringat, nafsu makan hilang serta berat badan menurun. Bila mengalami gejala-gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter. Selain itu, ada faktor risiko yang memudahkan penularan TBC, misalnya tinggal di daerah padat penduduk serta daya tahan tubuh yang rendah. Namun, perlu diketahui bahwa hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB menjadi sakit TB.

***

Tuberkulosis memang merupakan penyakit menular langsung yang dapat menyerang siapa saja. Bila tidak diobati, penyakit ini juga dapat menyebabkan kematian. Karena itulah orang-orang sehat berusaha menjauhi kuman atau bakteri penyebab munculnya penyakit ini. Namun bukan berarti kita harus menjauhi penderita penyakit TB.

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan agar tetap dekat dengan penderita TB tanpa perlu menjauhi, menghindari atau mengucilkannya. Antara lain:


Selalu gunakan masker
Himbau penderita atau pasien TB untuk selalu menggunakan masker selama beraktivitas. Setelah menjalani pengobatan selama minimal dua minggu, TB tidak akan menular lagi dan ini hanya berlaku untuk pasien TB dengan kuman TB positif tinggi. So, tak perlu takut untuk berinteraksi dengan pasien TBC. Himbau penderita TB agar menggunakan masker, supaya penyakitnya tidak sampai menular ke orang-orang disekitarnya. Dan untuk kita sendiri, tak ada salahnya juga menggunakan masker demi proteksi diri.

Beri dukungan untuk rajin berobat
Membatasi pergaulan dan mengucilkan penderita TB hanya akan memperburuk kondisi psikologisnya. Padahal mereka juga manusia yang butuh dukungan untuk bisa sembuh. Pengobatan TB bisa memakan waktu 6-8 bulan, namun banyak penderita TB yang menghentikan pengobatan di tengah jalan hanya karena merasa sudah baikan. Padahal pengobatan TB harus dilakukan sampai tuntas. Imbasnya penyakit akan kambuh dan tetap menular, penyakit bertambah berat, pengobatan semakin lama serta biaya pengobatan semakin membengkak.


Kita harus memberikan dukungan agar pasien rutin mengonsumsi obat. Jangan sampai terjadi mutasi kuman atau resistan yang biasa dikenal TB RO (tuberkulosis resistan obat) yang membuat pasien menjadi kebal pada obat biasa. Bila terjadi, dibutuhkan penanganan yang lebih kompleks dan pengobatan menjadi lebih lama (sekitar 2 tahun).


Beri dukungan moril
Tuberkulosis dapat membuat seseorang merasa tertekan dan stres. Kondisi ini tentu akan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Sebagai sesama manusia, kita harus beri dukungan untuk menyemangatinya memerangi penyakit tersebut. Caranya sederhana, ajak ia mengobrol, mendorongnya untuk menekuni hobi serta memiliki pola hidup sehat.


Jaga kekebalan tubuh
Dalam tubuh kita terdapat antibodi yang dapat menangkis segala macam kuman dan bakteri penyebab penyakit. Karena itu kita juga wajib menjaga kekebalan tubuh dengan pola makan sehat, istirahat cukup dan rajin berolahraga. Konsumsi multivitamin dan antioksidan juga membuat kita imun terhadap penyakit seperti tuberkulosis. Bisa saja bakteri tersebut hinggap di tubuh kita namun hancur dengan sendirinya berkat antibodi yang ada dalam diri kita. Karena itulah, kekebalan tubuh harus terus dijaga.

***

Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat penyakit TB tertinggi dengan 1.020.000 kasus/tahun atau 391 kasus/100.000 penduduk. Dalam workshop blogger, ini bukan sekedar tugas melainkan tanggung jawab kami untuk menekan angka trsebut. Apalagi hanya 730.000 kasus TB yang sudah diobati di fasilitas layanan kesehatan dan 290.000 kasus TB belum terjangkau dan terdeteksi.

Kementerian Kesehatan sendiri sudah mencanangkan program TOSS TBC (Temukan, Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis) yang berfokus pada tiga hal. Pertama, bagaimana menemukan para penderita tuberkulosis. Kedua, bagaimana agar penderita TB mau diobati secara teratur. Dan ketiga, bagaimana agar penyakit tersebut tidak tertular.

Program TOSS TBC sendiri digagas oleh Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. Dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) demi membantu penderita untuk sembuh, memutus rantai penularan TBC. Target jangka panjang adalah Eliminasi Tuberculosis 2030 serta Indonesia Bebas TBC 2050.


Hari Tuberkulosis diperingati tiap 24 Maret, hari dimana Robert Koch (1843-1910) mengumumkan bakteri mycobacterium tuberkulosis penyebab TBC. Indonesia juga memiliki tema untuk memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia, yaitu "Peduli TBC, Indonesia Sehat". Rangkaian kegiatan dimulai dari deteksi dini serentak di 34 provinsi dan kabupaten kota bersama petugas kesehatan dan masyarakat setempat dengan tujuan edukasi, skrining gejala TBC, rujukan untuk orang dengan gejala TBC ke puskesmas terdekat, serta pembagian masker untuk mereka yang kontak langsung dengan pasien TB.

Selain itu ada Live Talkshow HTBS 2018 di tv nasional dengan narasumber Menteri Kesehatan dan Dirjen P2P. Ada juga Temu Media HTBS 2018 dengan membagikan masker di fasilitas publik. Puncaknya adalah pada 24 Maret 2018, Menteri Kesehatan RI akan menghadiri puncak Hari Tuberkulosis (TBC) sedunia tahun 2018 di Monumen Nasional pukul 06.30 - 16.00 WIB yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi TBC khususnya di ruang publik.

Kegiatan akan didahului dengan senam bersama dan Flashmob TOSS TBC 2018, pemeriksaan kesehatan gratis, pameran upaya pengendaliann TBC dari berbagai organisasi serta kegiatan Informasi Edukasi. Ada juga panggung hiburan dan booth pameran kesehatan, video confrence 5 provinsi pilihan serta Rekor MURI untuk penemuan kasus TB dengan target 1 juta orang diskrining dan diedukasi TBC.

Masih ada banyak PR yang harus diselesaikan demi menekan kasus penyakit TB. Namun setidaknya dengan akslerasi program pemerintah dalam mengobati penderita TB bisa mengurangi jumlah kasus tersebut.  Sebagai masyarakat, kita juga wajib sadar TB dengan mencegah penularan penyakit tersebut, serta tak lupa untuk memanusiakan penderita tuberkulosis untum mengeliminasi penyakit ini. Ini bukanlah sebuah tugas, melainkan tanggung jawab bersama agar negeri kita tercinta bebas dari penyakit.

#SayaPeduliTuberkulosis


Komentar

  1. Dukungan membangkitkan semangat. Peduli adalah bentuk perhatian terhadap negri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, peduli bisa dimulai dr hal kecil dgn mensupport para penderita atw pasien tuberkukosis

      Hapus
  2. Kadang karena takut tertular banyak yang menghindari dan menjauhi para penderita TB padahal mereka butuh dukungan dan support

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, karena itulah harus diberikan pemahaman lagi baik bagi pasien atau orang-orang yang berada di dekatnya..

      Hapus
  3. Perjuangan pasien TB untuk sembuh itu luar biasa. Harus rutin minum obat sekaligus menghadapi stigma negatif dari lingkungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, butuh dukungan moril yg luar biasa juga agar ia termotivasi untuk sembuh..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Hidupkan MalamMu dengan Brilliant Portrait Oppo F11 Pro

Sekitar 10-15 tahun lalu kita mungkin tidak pernah menduga kalau posisi camera digital akan tergantikan oleh kamera ponsel. Memang, saat itu bentuk ponsel masihlah konvensional dimana keyboard fisik masih mendominasi. Kamera dengan layar penuh yang mengandalkan fitur touchscreen (layar sentuh) masih bisa dihitung dengan jari.

2010-an awal, era ponsel pintar (smartphone) dengan layar sentuh mulai menunjukkan tajinya. Dengan fisik yang lebih besar dan layar lebih luas, smartphone menjadi alat telekomunikasi andalan kaum urban.

Fitur yang paling memanjakan pengguna tentu adalah kamera yang semakin canggih serta display layar yang lebih luas. Hal inilah yang membuat kamera digital semakin tergerus, apalagi fitur-fiturnya telah diadopsi oleh smartphone.

Akan tetapi, sebagus atau secanggih apapun kamera smartphone tetaplah memiliki kekurangan. Salah satunya memotret di malam hari. Seperti kita tahu, di ruangan yang gelap dan minim cahaya, kamera ponsel akan menunjukkan "kelemahan"…