Langsung ke konten utama

Me & My WAGs


Dalam dunia sepakbola, WAGs adalah singkatan dari Wife and Girlfriends. Sebuah label yang disematkan oleh media untuk deretan kekasih para pesepakbola baik di level klub maupun timnas. Bukan, bukan, saya tidak akan membicarakan tentang my wife and girlfriends (nikah aja belom, pacar pun masih abstrak. Wkwk). WAGs yang saya maksud adalah WhatsApp Groups. Well, saya iseng mengecek berapa sih jumlah WAGs saya, dan ternyata ada 17 grup dalam nomor WhatsApp saya (Setelah dikurasi dan out dari grup-grup unfaedah).

Oke, grup WhatsApp sebenarnya adalah media untuk memudahkan komunikasi untuk, minimal, lebih dari dua orang. Karena WhatsApp Group kini memang lebih populer ketimbang BBM Group (anyway, aplikasi chat ini sudah punah ya?) atau LINE Group. Sisi positif dari WAGs kita bisa memberi atau mendapatkan informasi dengan cepat dan menyeluruh, serta menjalin silaturahmi. Namun poin negatifnya adalah terkadang ada chit chat ngalor ngidul tak penting, bahkan membuat hp hang saking beratnya (apalagi jika hp murah di bawah sejuta dan belinya masih nyicil).

Beberapa waktu lalu saya juga sempat keluar atau left group (bukan di-kick ya) dengan beberapa alasan. Pertama, grupnya sudah sepi seperti kuburan. Tak ada info penting dalam kurun waktu cukup lama. Kedua, saya merasa grup itu sudah waktunya dikremasi karena sudah tercapai tujuan dibentuknya grup tersebut. Ketiga, saya left karena merasa grup tersebut sudah unfaedah dan hanya menuh-menuhin WAGs.

Dari beberapa WAGs saya akan menceritakan sedikit kisahnya sesuai dengan kategorinya masing-masing, yaitu:


Grup keluarga
Isinya sih cuma ada tiga orang. Saya dan dua kakak saya, tapi asli ini grup yang paling bikin gregetan. Jarang bunyi tapi sekalinya bunyi isinya bisa menguras emosi dan memporakporandakan akal sehat. Jadi tujuan dibentuk grup ini hanya untuk menyampaikan info yang bersifat urgent. Sejujurnya sih saya sudah mau left, tapi ya sudahlah....

Grup teman sebaya
Isinya adalah sahabat-sahabat dekat saya dan kita laki semua. Ada yang sudah berkeluarga sampai yang masih jomblo (ngaca). Jumlah penghuninya hanya 9 ekor. Isinya kadang unfaedah, bahkan sering kirim gambar atau video "you know who". Disini kami saling berkomunikasi, saling membully, menginformasikan ajakan hangout, dll. Btw, saya sudah jarang aktif di kegiatan offline mereka sampai di-cap sombong. Namanya juga orang sibuk. Hahahaha.

Grup trip
Tujuannya sih hanya untuk memudahkan komunikasi antar peserta trip. Mulai dari bawel nagih duit trip sampai share foto pas ngetrip. Setelah trip selesai, biasanya akan terjadi dua hal. Beberapa orang akan left karena merasa grupnya sudah tidak penting, atau jika kekompakan dan rasa kekeluargaan grup itu kuat maka mereka akan menjelma menjadi semacam geng.

Misal, dulu nama grupnya "Explore Lombok" setelah trip selesai mereka berubah menjadi "Ghibah Backpacker". Rata-rata grup trip saya termasuk di kategori kedua. Dimana kami masih menjalin komunikasi, mengadakan kopdar sampai ngetrip bareng lagi. Dan sayapun akhirnya menemukan sahabat-sahabat baru. :)

Grup job
Ehem, sebagai blogger abal-abal, tentunya saya memiliki grup yang khusus hanya untuk job. Jadi mengumpulkan para peserta, memberikan informasi detail mengenai job tersebut, setor artikel, kemudian admin akan menginformasikan pembayaran fee. Biasanya setelah job selesai, kita akan left atau out. Tapi ada juga grup job yang masih bertahan karena (siapa tahu) admin akan share job lagi.

Grup komunitas
Ini nih yang porsinya paling banyak. Mayoritas sih komunitas yang sesuai dengan minat dan hobby saya. Mulai dari grup traveler, grup backpacker, grup blogger, grup hobby, dll. Honestly, jika chat sudah membludak saya akan skimming atau membaca cepat, beberapa ada yang hanya di-mark as read (bcoz unfaedah, absolutely!). Satu grup isinya rata-rata 100 orang lebih, dan meski demikian saya masih mendapatkan manfaat dan grup-grup ini sangat informatif.

Grup "ya gitu deh"
Maksudnya grup yang gak penting-penting banget. Sekedar iseng-iseng atau buat seru-seruan aja. Status grup ini juga hidup segan mati tak mau. Left rasanya gak enak, bertahan pun cuma sekedar formalitas. Bisa dibilang grup ini seperti gangs wanna be. Dibuat dengan harapan agar hubungan antar anggotanya makin kuat.


That's my WAGs. And i will tell you something, semua grup saya silent agar tidak berisik dan menenggelamkan private chat atau japri. Saya sendiri juga membagikan keaktifan di beberapa grup. Ada yang aktif pake banget, ada pula yang sekedar SR (silent reader) dan balas chat seperlunya dan sepengennya aja.

Sejatinya WhatsApp Groups memang sangat bermanfaat, tapi alangkah baiknya bila grup-grup tersebut berisikan informasi yang bermanfaat, berfaedah dan bergizi serta bebas dari hoax. Selain itu, komunikasi di dalamnya juga harus bersifat konstruktif, bukan yang destruktif seperti ajang pembullyan atau saling menghujat.

Saya tidak tahu ada berapa banyak WAGs di hp Anda. Namun pastikan bahwa grup-grup tersebut bermanfaat sebagaimana mestinya dan sesuai dengan arah dan tujuan dibentuknya grup tersebut. Semoga selain menjaga silaturahmi, kita juga bisa saling mensupport dan membantu sama lain. Karena tujuan dibentuknya grup atau kelompok memang untuk itu bukan?

As closing, ada quote yang menarik mengenai WhatsApp Group dan fenomenanya. Terutama soal meng-kick atau left yang sudah menjadi makanan sehari-hari dan menjadi perdebatan dalam dunia WAGs.

"Kalau lo left, artinya lo lemah. Tapi kalau lo di-kick, artinya mereka yang lemah.."

Salam dari Admin

Komentar

  1. Seru juga ya 'membedah' nilai gizi dari WAGs yang melibatkan kita....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, pastikan WAGs kita setidaknya 60% bergizi 😝

      Hapus
  2. Banyakin grup job untuk membiayai hidup. Banyakin juga grup komunitas untuk menikmati hidup. Salam lemper.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, hidup harus seimbang..
      Salam kamper.

      Hapus
  3. Hahaha.....lucu quote nya dan bener juga sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berlaku di grup dimana kita aktif disitu. Intinya jangan baper. Haha

      Hapus
  4. Ghibah backpacker , wondering apa yg dighibahin after trip... Hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua dighibahin, saya sih gak ngeghibah cuman ngomporin aja..
      Wkwk

      Hapus
  5. Hahahaha suka sama tulisannya. Kepikiran aja buat nulis tema WAGs. Kreatif hehehe

    BalasHapus
  6. Bener banget. Akhir-akhir ini saya juga merasa bahkan grup di aplikasi chat saya sudah kebanyakan. Ada yang membernya aktif tapi isi chatnya gak jelas, ada juga yang isinya cuma ucapan selamat ulang tahun tiap kali ada member yang ultah, udah aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg ngeselin, ucapan ultah atau semacemnya cmn modal copas dr chat di atasnya. Zzzz

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

JNE Kini Bisa Kirim Paket ke Luar Negeri

Pernahkah Anda terpikir untuk touring ke luar negeri dengan kendaraan kesayangan? Para pecinta motor klasik dan legendaris pastinya tak ingin jauh dari tunggangannya. Namun perkara membawa motor ke luar negeri bukan hal yang mudah. Apalagi jika jaraknya terbentur laut, bukan daratan yang bisa dilalui kendaraan roda dua.

Jangan khawatir. JNE sebagai perusahaan kurir terbesar di Indonesia kini memiliki layanan untuk mengirimkan kendaraan roda dua ke luar negeri. Tentu saja keperluan pengiriman juga harus jelas, untuk keperluan pribadi, komersil, atau untuk eksebisi, alat profesional atau kemanusiaan. Karena itu dibutuhkan dokumen ATA Carnet atau CPD Carnet yang berfungsi layaknya paspor sebagai pengganti dokumen pabean nasional.

Dokumen ATA Carnet berfungsi sebagai dokumen impor dan ekspor sementara untuk barang-barang dengan keperluan pameran/eksebisi, alat profesional, pendidikan, keperluan pribadi wisatawan, keperluan pribadi olahraga dan untuk tujuan kemanusiaan. Sementara dokumen …