Langsung ke konten utama

Menabur Perjumpaan Menuai Silaturahmi, Menabur Toleransi Menuai Kebhinnekaan


Beberapa bulan terakhir, isu terorisme dan radikalisme merebak dengan sangat cepat. Teror demi teror dari kelompok ekstrimis radikal dan berhaluan garis keras sangat meresahkan masyarakat. Adanya berbagai kepentingan politik dan kekuasaan dalam teror tersebut semakin memperkeruh suasana.

Sebagai anak bangsa, tentu wajib hukumnya kita menjaga kerukunan, persaudaraan dan persatuan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai negara berasaskan Pancasila dengan ideologi Bhinneka Tungga Ika, kemajemukan dan keberagaman sudah menjadi harga mati dari identitas bangsa yang pondasinya telah dibangung oleh Founding Fathers kita.

Sayangnya, kepentingan-kepentingan seperti bisnis, ekonomi, politik, kekuasaan dan popularitas berusaha mencabik-cabik kebersamaan, persaudaraan dan persekutuan yang sudah kita bangun. Belum lagi ada banyak oknum yang berusaha memecahbelah dan menciptakan permusuhan dan perselisihan karena kesombongan, keangkuhan, kecemburuan dan iri hati. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk melawannya?

***


Atas dasar keanekaragaman yang mulai luntur itulah Gereja St. Paskalis - Paroki Cempaka Putih dalam rangka HUT Paroki ke-66 menyelenggarakan acara "Sambung Rasa Anak Bangsa Lintas Agama & Buka puasa Bersama" pada Sabtu (26/5/2018) silam. Dengan tema "Menabur Perjumpaan, Menuai Toleransi", acara ini sekaligus mengisi Tahun Persatuan yang diamanahkan oleh Gereja lokal dan Keuskupan Agung Jakarta yang dirumuskan dalam gerak bersama "Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka, Kita Indonesia."

Acara ini diisi oleh narasumber seperti Ibu Alissa Wahid (Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian Indonesia), Bp. Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed (Sekretaris Umum PP Muhammadyah), Rm. Agustinus Ulahayanan, Pr (Sekretaris Eksekutif Komisi HAK-KWI) dan Rm. Felix Supranto, SSCC (Praktisi Kerukunan Umat Beragama - Tangerang). Dialog dan diskusi ini juga dimoderatori oleh Prof. Dr. Paulus Wirutomo (Sosiolog dan Guru Besar UI).

Acara dibuka dengan Wadroh dan Paduan Suara serta kata sambutan dari panitia. Kemudian dilanjutkan dengan acara utama dimana para narasumber memaparkan apa makna dari kebhinnekaan, toleransi, keberagaman dan kebersamaan melalui pengalaman pribadi masing-masing. Tak hanya itu, mereka juga memberikan pesan akan pentingnya merawat persaudaraan, bergandengan tangan dan menghargai perbedaan sebagai saudara dan sesama anak bangsa.





Romo Agustinus misalnya, ia mengatakan bahwa cara untuk melawan perpecahan maupun pertikaian ialah lewat 'Budaya Kekitaan', suatu budaya solidaritas, inklusivitas dan kemajemukan untuk melawan eksklusivitas. Beliau mengumpamakan Indonesia sebagai taman yang indah dengan bunga yang berwarna-warni dan keindahan inilah yang wajib kita rawat, kita pelihara dan kita jaga. Bagaimana caranya? Dengan menerapkan 5S, yaitu Senyum, Sapa, Salam dan Sopan Santun.

Ibu Alissa Wahid tak ketinggalan dengan menceritakan salah satu kisah keberagaman yang sangat inspiratif. Ketika ia berada di Desa Sawangan, Magelang dalam acara dialog antar agama di suatu gereja yang kebetulan berada tepat di samping masjid. Ketika waktu sholat tiba, ia tak mendengar adzan berkumandang. Ia pun bertanya pengurus setempat dan mereka mengatakan bahwa masjid sengaja tidak mengumandangkan adzan dengan suara keras demi menghormati acara dan ibadah di gereja. Luar biasa!

Sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadyah, Bapak Abdul Mu'ti juga mengatakan bahwa salah satu cara untuk menekan radikalisme dan perpecahan adalah dengan sering-sering berjumpa. Hal ini juga diamini oleh Romo Felix bahwa perjumpaan akan memperkuat tali silaturahmi, khususnya antar umat beragama. Beliau juga menceritakan pengalamannya menjadi guru di pondok pesantren, atau ketika menjalin persaudaraan dengan ormas setempat, salah satunya FPI.




Dengan saling mengenal kita akan semakin menghargai perbedaan, seperti Romo Felix yang selalu diundang di acara-acara keagamaan dari Ormas Muslim baik acara formal maupun acara santai. Bahkan oleh petinggi disana beliau sudah dianggap sebagai adik bahkan keluarga. Tak ada sekat yang memisahkan karena sejatinya kerukunan tidak bisa dibeli, tetapi diciptakan. Dengan menenun kebhinnekaan, kita juga akan melawan radikalisme. Tak lupa, beliau juga memberi pesan bahwa silaturahmi bisa dimulai dari kehadiran, keteladanan, pelayanan kemudian kepeloporan.

***

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, terbentang ribuan pulau yang terdiri dari beragam suku, agama, adat, bahasa, budaya maupun golongan. Indonesia sebagai zamrud khatulistiwa adalah negara yang indah dengan keberagamannya. Jangan sampai isu-isu yang bertujuan memecah belah bangsa itu mulai melunturkan nilai-nilai kebhinnekan dan melupakan identitas kita sebagai bangsa yang majemuk.

Terorisme dan radikalisme adalah musuh utama, namun janganlah kita melawannya dengan kekerasan. Lawanlah dengan cinta kasih dan kelemahlembutan. Karena seperti yang sudah ditegaskan oleh narasumber, yang diperlukan hanyalah sering-sering berjumpa, bertemu dan bersilaturahmi agar pola pikir eksklusif akan pudar perlahan-lahan karena sikap intoleran terbentuk karena eksklusivitas dan menutup diri dari luar.


Sedikit tambahan dari penulis pribadi. Saya sangat bersyukur dalam satu tahun terakhir dipertemukan dan menjalin persahabatan dengan orang-orang yang berasal dari ras, suku, agama maupun golongan yang berbeda. Disitulah saya belajar lebih toleran, saling memahami dan menghargai setiap perbedaan tanpa melihat apa sukumu, apa agamamu, dsb. Perbedaan bukanlah menjadi alasan kita tercerai berai, tetapi justru perbedaanlah yang menyatukan dan menguatkan kita.

Semoga benih-benih perjumpaan dan silaturahmi semakin menguatkan tali persaudaran dan persatuan, merawat kebhinnekaan di bangsa dan negara yang kita cintai ini. Kita juga wajib mendoakan para peminpin bangsa dan NKRI agar dijauhkan dari segala musibah, tantangan dan kesulitan dalam membangun bangsa kita.

Berdoa agar Indonesia dijauhkan dari segala bentuk perselisihan dan pertikaian yang akan melemahkan sendi-sendi persatuan dan kesataun di antara kita. Kemajemukan dalam bingkai Pancasila wajib kita rawat, agar menjadi pembawa damai dan penyuluh semangat, bahwa KITA BHINNEKA, KITA INDONESIA.

Kita Bhinneka, Kita Indonesia, bersatu membangun bersama

Kita Bhinneka, Kita Indonesia, mari amalkan Pancasila

Tuhan menciptakan kita unik dan berbeda-beda, beragam suku, ras, agama dan budaya
Untuk bersatu menghargai sesama

Perbedaan bukan persoalan, tapi rahmat untuk persatuan

Di bawah Pancasila kita berada, Bhinneka Tunggal Ika


Komentar

  1. Indonesia indah karena keberagaman. Yuks saling menghargai dalam berbagai perbedaan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Mbak Tuty, keberagaman itulah yg mempersatukan kita.. 🙏🏼

      Hapus
  2. Keras di lawan keras nanti benjol kedua duanya. Cinta kasih saling menghargai satu dengan yang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, keras harus dilawan dengan lembut..

      Hapus
  3. Keren ini, toleransi yang bisa membuat semuanya damai..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, toleransi harus tetap kita pelihara..

      Hapus
  4. Masyarakat butuh pemimpin dan banya tokoh yang bisa menerapkan pluralisme serta juga menjadi teladan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, butuh pemimpin dan tokoh masyarakat yg plural dan mengayomi agar bisa memberi contoh pada masyarakat..

      Hapus
  5. Kerukunan tidak bisa dibeli, namun diciptakan. Setuju banget. Semoga benih2 perpecahan hilang, sejatinya kita semua satu. Seperti aku dan dia menjadi satu #ehhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sudah saatnya nanti dipersatukan juga koq mbak #eh

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Hidupkan MalamMu dengan Brilliant Portrait Oppo F11 Pro

Sekitar 10-15 tahun lalu kita mungkin tidak pernah menduga kalau posisi camera digital akan tergantikan oleh kamera ponsel. Memang, saat itu bentuk ponsel masihlah konvensional dimana keyboard fisik masih mendominasi. Kamera dengan layar penuh yang mengandalkan fitur touchscreen (layar sentuh) masih bisa dihitung dengan jari.

2010-an awal, era ponsel pintar (smartphone) dengan layar sentuh mulai menunjukkan tajinya. Dengan fisik yang lebih besar dan layar lebih luas, smartphone menjadi alat telekomunikasi andalan kaum urban.

Fitur yang paling memanjakan pengguna tentu adalah kamera yang semakin canggih serta display layar yang lebih luas. Hal inilah yang membuat kamera digital semakin tergerus, apalagi fitur-fiturnya telah diadopsi oleh smartphone.

Akan tetapi, sebagus atau secanggih apapun kamera smartphone tetaplah memiliki kekurangan. Salah satunya memotret di malam hari. Seperti kita tahu, di ruangan yang gelap dan minim cahaya, kamera ponsel akan menunjukkan "kelemahan"…