Langsung ke konten utama

Vaksin VS Antivaks


Vaksin adalah suatu produk yang biasa diberikan saat imunisasi. Gunanya adalah untuk menghasilkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Vaksin dapat diberikan melalui jarum suntik, oral atau penyemprotan dan biasa disebut vaksinasi. Vaksin juga termasuk salah satu intervensi kesehatan yang paling berhasil karena efektif dan juga hemat biaya.

Vaksin rutin diberikan untuk anak di usia sampai dua tahun. Setelah itu vaksin masih boleh diberikan secara berkesinambungan atau bertahap. Sayangnya penyebaran vaksin dan imunisasi masih terkendala oleh isu-isu yang membentuk suatu pola atau keraguan terhadap imunisasi.

Media dan isu antivaksinasi

Mengapa isu-isu mengenai antivaksinasi cepat menyebar luas dan bikin heboh masyarakat? Sederhana saja, meski keliru dari ilmu pengetahuan dan tak memiliki bukti konkret namun isu ini sanggup menyentuh sisi emosi masyarakat. Siapa sih yang mau melihat anaknya menderita, tambah sakit bahkan meninggal karena imunisasi. Lalu ada banyak aktivis antivaks garis keras yang aktif bergerak menyebarkan isu dengan memanfaatkan media sosial maupun media massa konvensional.


Meme antivaks pun sangat banyak, beragam dan masif. Kita tahu sekarang "The Power of Social Media" dimana sesuatu yang menarik bisa viral dan menghebohkan. Postingan di socmed baik Facebook, Twitter atau Instagram dengan foto yang mengekspos sisi negatif dari imunisasi serta caption yang menyudutkan tentu semakin menguatkan keraguan terhadap imunisasi. Padahal kita semua tahu bahwa tak semua informasi yang tersebar di dunia maya itu benar, bahkan ada yang mengarah ke hoax.

Belum lagi peran media baik televisi maupun surat kabar yang membahas vaksinasi. Judul yang provokatif meski dengan embel-embel "diduga" turut membentuk stigma negatif akan keamanan dari vaksinasi itu sendiri. Semua Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dianggap sebagai akibat dari imunisasi. Kita pun akan dengan mudah melihat berita bayi yang lumpuh, sakit bahkan meninggal setelah imunisasi. Padahal statement itu belum tentu benar adanya.

Sayangnya berita baik tentang vaksinasi atau pro imunisasi sangat sedikit. Contohnya adalah kasus difteri di Aceh Utara dimana ada seorang anak yang tak imunisasi DPT akhirnya meninggal dunia setelah dirawat tiga hari di rumah sakit. Atau cerita seorang anak yg congekan (OMSK) dan tidak diimunisasi DPT menjadi tetanus dan kejang-kejang dalam kondisi sadar. Kedua berita ini tentu memberikan pernyataan akan pentingnya imunisasi.


Mengenal KIPI

Sebelumnya sudah dijelaskan mengenai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau Vaccines Adverse Event Reactions (VAERS) yang dianggap bertanggung jawab akan semua efek samping yang ditimbulkan setelah pasien diimunisasi. KIPI adalah semua kejadian medik yang terjadi setelah imunisasi, yang menjadi perhatian dan diduga berhubungan dengan imunisasi. KIPI bisa berupa gejala, tanda, penyakit afau hasil pemeriksaan laboraturium. Kasus-kasus KIPI inilah yang menjadi dasar dari isu Antivaks.

Penyebab KIPI terdiri dari komponen dan cara pemberian. Komponen vaksin antara lain antigen, stabilizer, adjuvan, antibiotik dan pengawet yang merupakan penanganan vaksin. Sementara rute pemberian bisa lewat mulut, otot, lapisan permukaan kulit atau lapisan bawah kulit.

KIPI juga dapat diklasifikasikan menjadi lima bagian, yaitu:
  1. Reaksi KIPI yang terkait komponen vaksin. Contohnya demam sesudah vaksin pertusis.
  2. Reaksi KIPI terkait dengan cacat mutu vaksin. Misalnya kasus ivaginasi setelah vaksinasi rotarius generasi pertama.
  3. Kesalahan prosedur. Contoh paling konkret seperti penyuntikan vaksin kadaluarsa yang jelas-jelas salah.
  4. Reaksi anxiety atau kecemasan. Misalnya anak yang berteriak histeris pedahal belum dilakukan vaksinasi.
  5. Koinsiden atau tidak berhubungan. Contohnya demam seminggu setelah imunisasi DPT.
Akan tetapi, tidak semua kasus KIPI diakibatkan oleh vaksin. Dalam imunisasi ada yang namanya Kejadian Ikutan (adverse event) dan Reaksi Simpang (adverse reactions). Kejadian ikutan adalah kejadian yang tidak diharapkan yang dilihat tanpa menilai apakah ada hubungan sebab-akibat dengan vaksin. Sementara reaksi simpang adalah kejadian yang tidak diharapkan yang diakibatkan oleh vaksin/obat dan ada bukti yang mendukung suatu hubungan sebab-akibat.


Media juga memiliki peranan penting, terutama dalam memberikan klarifikasi mengenai kasus KIPI. Misalnya penyebab kematian yang tidak berkaitan dengan imunisasi seperti pendarahan di otak, luka akibat benda tumpul atau kecelakaan dalam berkendara.

Cara menanggulangi KIPI

Siapa yang mengawasi bila terjadi kasus KIPI dan mengkajinya? Ada Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan (Komnas PP) KIPI, yakni komite independen yang melakukan pengkajian untuk penanggulangan laporan kasus diduga KIPI di tingkat nasional. Jika terjadi di daerah, ada 34 Komite Daerah (Komda) PP KIPI yang melakukan pengkajian dan penanggulangan di tingkat provinsi.

Semua kejadian setelah pasien diimunisasi harus dilaporkan. Deteksi dan pelaporan KIPI tersebut akan menjadi langkah awal untuk memperkuat monitoring keamanan vaksin (vaccine safety). Dengan begitu, meningkatnya keamanan vaksin tentu akan meningkatkan keamanan pasien (patient safety).


Badan POM juga memiliki peran dalam memastikan mutu vaksin yang diduga penyebab kasus KIPI. Laporan kasus KIPI yang diterima oleh Komnas/Komda PP KIPI akan diteruskan ke Badan POM untuk pengambilan sampel dan pengujian vaksin. Jenis-jenis KIPI yang perlu dilakukan pengujian sampel adalah:
  • KIPI yang dicurigai berhubungan dengan reaksi vaksin berat (Serious Adverse Event) dan KIPI serius dengan sebab yang tidak dapat dijelaskan.
  • KIPI berkelompok (cluster).
  • Proses pengambilan dan pengiriman sampel sesuai ketentuan dan persyaratan Cold Chain serta dilengkapi dengan Berita Acara pengambilan sampel vaksin.
Melawan Antivaks

Dengan mendapatkan informasi mengenai vaksin dan KIPI yang benar, isu-isu antivaks tentu bisa diklarifikasi. Imunisasi pada dasarnya adalah hak asasi setiap anak karena kesehatan itu sangat penting dan mahal harganya. Sayangnya isu antivaks yang menyebarkan hoax membuat masyarakat ragu akan imunisasi dan vaksinasi.



Kelompok antivaks sering melebih-lebihkan risiko imunisasi tanpa bukti ilmiah dan konkret. Mereka menyebut bahwa vaksin itu tidak efektif, padahal risiko terserang penyakit dan wabah lebih besar apabila anak tidak divaksinasi. Vaksin terbukti aman dan efektif! Proses produksinya juga melalui riset panjang dengan standar Good Clinical Practive. Dan meski telah dilisensi, vaksin tetap dipantau oleh pemerintah maupun badan independen yang kompeten.

Karena itu dibutuhkan strategi-strategi untuk melawan antivaks dan mengatasi keraguan terhadap imunisasi, seperti:
  • Menyentuh sisi emosional saat kampanye imunisasi (kesehatan anak dan kebahagiaan keluarga) sehingga bukan hanya membahas aspek pengetahuan semata.
  • Menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami mengenai KIPI. Dengan pengertian yang benar, masyarakat akan paham bahwa tidak semua dampak negatif ditimbulkan oleh KIPI.
  • Meyakinkan masyarakat akan keamanan vaksin. Peran serta tokoh masyarakat juga diperlukan agar masyarakat paham akan pentingnya imunisasi.
Imunisasi dan vaksinasi adalah upaya promosi kesehatan yang berkesinambungan. Karena itu dibutuhkan peran serta pemerintah, organisasi profesi, media, LSM, mitra swasta dan masyarakat sendiri untuk menyadarkan betapa pentingnya imunisasi. Dengan demikian visi warga Indonesia yang sehat dapat segera terwujud.


Komentar

  1. Tulisannya bermanfaat sekali, bang!
    Baru tau istilah mengenai KIPI, kejadian ikutan, & reaksi simpang dalam dunia vaksinasi beserta alasan2 kenapa masyarakat kita banyak yang antivaks.
    Keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thx Lisa..
      Semoga bermanfaat and get well soon for u ya.. 😊

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Semangkuk Soto, Segelas Anggur dan Peragaan Busana

Beberapa waktu lalu Kementerian Pariwisata telah menetapkan lima makanan yang menjadi kuliner nusantara. Selain menjadi ikon kuliner, makanan-makanan tersebut juga menjadi salah satu media promosi untuk memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Menariknya, Rendang yang saya kira berada di urutan pertama, ternyata ada di posisi kedua. Nomor satu yang menjadi ikon kuliner Indonesia adalah SOTO.
Mengapa soto bisa jadi nomor satu, dibandingkan rendang yang sudah mendunia (apalagi ketika dinyanyikan oleh Bule yang jatuh cinta pada masakan khas Minang itu). Jawabannya adalah selain merupakan kuliner asli Indonesia, soto mudah ditemukan di dimana-mana, bahkan setiap daerah punya ciri khas soto masing-masing. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan atau Soto Banjar dengan bumbu, rempah serta kearifan lokal dari kota asalnya.
Selaras dengan momen tersebut, Summarecon Mal Kelapa Gading bersama Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarak…

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…