Langsung ke konten utama

Ada "Co-Working Space" di Jakarta Fair Kemayoran


Lebaran sebentar lagi tiba. Mereka yang sudah 'cuti' dari pekerjaannya kini disibukkan dengan berbagai hal. Mulai dari persiapan mudik, sibuk belanja, dan juga memperbanyak amal ibadah di hari-hari terakhir Ramadhan. Namun tak semua orang merasakan nikmatnya libur panjang. Ada yang masih harus bekerja bahkan di hari H lebaran sekalipun.

Beberapa perusahaan memang memiliki kebijakan untuk tetap beroperasional meski di hari besar atau hari raya. Sebut saja perusahaan di bidang retail, food and beverages, transportasi, dll. Ada juga pekerja yang tetap bekerja dan tak mengenal hari libur, contohnya profesional kreatif dan freelancer. Lalu, bagaimana caranya agar tetap menikmati libur panjang meski diselingi tugas dan pekerjaan yang harus diselesaikan.

Solusinya hanya satu, ya jalan-jalan saja sambil liburan! Koq bisa? Bagaimana caranya? Apa lagi jika tinggal di kota besar seperti Jakarta.


Jangan khawatir, jika Anda adalah pekerja profesional yang tak sempat merasakan nikmatnya liburan datang saja ke Jakarta Fair Kemayoran (JFK). Salah satu pameran expo terbesar, terlengkap dan terlama ini memang sudah menjadi agenda wajib dalam rangka memperingati HUT DKI Jakarta. Apa lagi kini di JFK ada co-working space lho...

***

Apa itu Co-Working Space?

Sebagian orang mungkin belum familiar dengan istilah co-working space atau ruang kerja bersama. Co-working space menawarkan konsep 'kantor idaman' yang bernuansa homy, menunjang lifestyle namun tetap profesional. Disini para pekerja bisa meningkatkan produktivitasnya tanpa harus terikat dengan aturan dan jam kantor yang monoton.

Co-working space biasanya menjadi solusi untuk perusahaan startup berskala kecil yang membutuhkan ruang kerja dengan harga murah namun berkualitas. Tak hanya itu, co-working space kini juga dilirik oleh para kaum digital nomad atau freelancer yang sejatinya tidak membutuhkan 'kantor' untuk bekerja. Penulis, programmer, trader, desainer/pengembang website, fotografer, penerjemah, internet marketing, atau konsultan adalah beberapa profesi para pekerja digital nomad.






Pekerja-pekerja ini adalah profesional kreatif dengan waktu kerja yang fleksibel. Mereka juga bekerja secara independen dan tak terikat dengan tempat atau lokasi. Pekerjaan mereka hanya membutuhkan gawai dan koneksi internet. Agar dapat memancing mood dan mengasah kreativitas, mereka biasanya memilih bekerja di tempat yang nyaman, misalnya di co-working space.

Menjamurnya tren co-working space di Indonesia juga turut mengakomodir para freelancer digital nomad ini untuk tetap produktif. Salah satunya adalah EV Hive, sebuah perusahaan co-working space yang menyewakan ruang kerjanya untuk para profesional kreatif.

Di JFK, EV Hive mendirikan booth co-working space yang bisa dimanfaatkan untuk tetap bekerja sambil mencuci mata. Event Jakarta Fair memang selalu menjadi oase bagi warga ibu kota yang mencari hiburan one stop shopping selain mall, apa lagi JFK tahun ini juga bertepatan dengan Ramadhan dan libur Lebaran. Jadilah warga Jakarta yang tidak mudik bisa menikmati liburannya sambil berbelanja, cuci mata, kuliner ria atau menikmati musik di panggung hiburan.





Bagaimana jika masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan?

Tenang saja. Seperti yang sudah dijelaskan, di JFK ada co-working space yang bisa dimanfaatkan untuk tetap produktif sambil menikmati waktu berkualitas. Dukungan koneksi internet, beanbag yang nyaman, meja tinggi serta lubang charger untuk pengisi daya adalah beberapa fasilitas yang bisa kita dapatkan disini. Selain itu, EV Hive juga menambahkan kesan "go-green" dengan menambahkan beberapa pot tanaman di sudut ruangannya.

Dengan begitu, Anda bisa membagi waktu untuk tetap bekerja sambil cuci mata. Jika merasa penat bisa jalan-jalan sejenak, atau jika lapar ada stand-stand penjual makanan yang bisa menjadi pilihan. So, tak perlu takut untuk tetap produktif sambil menikmati liburan meski hanya di ibu kota.

***





Sekedar informasi, selama libur lebaran (11 - 20 Juni) Jakarta Fair Kemayoran tetap buka dari jam 10.00 - 23.00 WIB. Pengecualian pada malam takbiran (14/6) dimana JFK beroperasi dari pukul 10.00 - 18.00 WIB. Di hari pertama lebaran (15/6), JFK buka dari jam 14.00 - 23.00 WIB. So, libur lebaran di Jakarta Fair tentu akan menjadi pilihan menarik.

Dalam rangka menyambut Piala Dunia 2018, JFK juga menyelenggarakan event Dunia PestaBola setiap harinya selama JFK berlangsung (23 Mei - 1 Juli 2018). Tak lupa, ada 64 pertandingan yang disiarkan LIVE di layar raksasa di area Gambir Expo JIExpo Kemayoran pada 14 Juni - 15 Juli 2018.

Kini tak perlu takut mati gaya meski hanya berlibur di ibu kota. Nikmati setiap momen berkesan bersama keluarga, sahabat maupun pasangan di Jakarta Fair Kemayoran. Dapatkan beragam promo khusus dan diskon menarik serta konser dan nobar yang turut menyemarakkan event ulang tahun ibu kota.

Selamat berlibur di Jakarta Fair..

Komentar

  1. Asik liburan lebaran sambil ngajak anak senang senang lalu bisa memanfaatkan waktu untuk pantau kerjaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, sekarang bisa banget mbak di JFK..

      Hapus
  2. Co working space bagus bgt buat freelance dan bisnis baru yah kak,, ga repot mikirin design cukup sewa tempat aja,, tampilan ruangannya biasanya bagus-bagus, bersih dan rapi..

    cuma trendnya baru ada di kota besar, belum nyampe ke daerah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena bisnis startup skala kecil dan kaum digital nomad lebih banyak di kota2 besar..
      Ke depannya dengan semakin canggih teknologi tak menutup kemungkinan co-working space akan hadir di kota2 kecil..

      Hapus
  3. Pekerja kreatif terutama desainer grafis biasanya jam kerjanya panjang. Mudah-mudahan bisa terakomodir oleh Co-working space.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups..
      Co-working space bisa menjadi tempat yg nyaman untuk mendapatkan mood bekerja dan meningkatkan produktivitas..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Hidupkan MalamMu dengan Brilliant Portrait Oppo F11 Pro

Sekitar 10-15 tahun lalu kita mungkin tidak pernah menduga kalau posisi camera digital akan tergantikan oleh kamera ponsel. Memang, saat itu bentuk ponsel masihlah konvensional dimana keyboard fisik masih mendominasi. Kamera dengan layar penuh yang mengandalkan fitur touchscreen (layar sentuh) masih bisa dihitung dengan jari.

2010-an awal, era ponsel pintar (smartphone) dengan layar sentuh mulai menunjukkan tajinya. Dengan fisik yang lebih besar dan layar lebih luas, smartphone menjadi alat telekomunikasi andalan kaum urban.

Fitur yang paling memanjakan pengguna tentu adalah kamera yang semakin canggih serta display layar yang lebih luas. Hal inilah yang membuat kamera digital semakin tergerus, apalagi fitur-fiturnya telah diadopsi oleh smartphone.

Akan tetapi, sebagus atau secanggih apapun kamera smartphone tetaplah memiliki kekurangan. Salah satunya memotret di malam hari. Seperti kita tahu, di ruangan yang gelap dan minim cahaya, kamera ponsel akan menunjukkan "kelemahan"…