Langsung ke konten utama

"High Tea+", Lebih dari Sekedar Ngeteh dan Ngemil


Apa yang pertama terlintas dalam benak Anda ketika mendengar High Tea? Pesta kecil, tempat berkumpulnya para sosialita, budaya barat, ngeteh cantik, lalu apa lagi? Tak ada yang salah dengan opini-opini tersebut. Sayangnya masih banyak yang salah kaprah mengenai tradisi high tea sebagai ajang para sosialita berkumpul sambil ngeteh dan ngemil kudapan manis karena itu sebenarnya adalah afternoon tea, bukan high tea.

Lalu, apa yang membedakan keduanya? Baik, sebelumnya mari kita pahami dulu sejarah afternoon tea maupun high tea. Pada abad ke-19, afternoon tea menjadi kebiasaan bangsawan yang gemar mengonsumsi teh khususnya di waktu sore yang disajikan antara pukul tiga sampai empat sore.

Tradisi ini pertama kali diperkenalkan oleh Anna Maria Russell, salah satu putri bangsawan bergelar Duchess of Bedford.  Anna menggelar tradisi afternoon tea untuk mengobati rasa lapar dan keinginan untuk mengemil, karena waktu makan malam pada masa itu dimulai pukul delapan malam.




Awalnya, afternoon tea hanya dilakukan secara pribadi oleh Anna di kamar tidurnya. Kebiasaan ini lalu menular dan menjadi tradisi para bangsawan, bertepatan saat teh baru masuk ke Inggris dan langsung populer di kalangan kelas atas. Teh dipilih sebagai minuman untuk mengisi jeda di antara jam makan siang dan makan malam keluarga kerajaan.

Karena dikonsumsi oleh para bangsawan, maka penyajian afternoon tea dibuat secantik mungkin baik dari peralatan maupun cemilan. Selain cangkir berisi teh, ada nampan tiga susun (three tier) berisi makanan pendamping minum teh seperti kue tart kecil, mini sandwich, scones dan scotch fingers. Makanan yang dipilih memang tidak terlalu mengenyangkan karena masih ada acara makan malam.

Jamuan afternoon tea juga hanya menjadi ajang sosialisasi kaum kelas atas. Karena itulah ngeteh cantik di sore hari ini lebih mengutamakan lifestyle atau gaya hidup ketimbang cita rasa teh itu sendiri.




Sementara high tea adalah kebalikan dari afternoon tea. Pada masa revolusi industri, banyak bermunculan pabrik-pabrik. Para pekerja buruh pabrik ini biasanya pulang pada pukul 4-5 sore dengan kondisi perut lapar. Karena budaya minum teh disana sangat kuat, jadilah mereka minum dengan makanan yang lebih berat dan mengenyangkan seperti pie daging, cake, roti isi, dan lain-lain.

High tea dilakukan pada sekitar pukul lima sore sampai tujuh malam. Karena sudah makan berat, biasanya tidak perlu makan malam lagi. High tea juga dikenal sebagai tradisi untuk kalangan menengah ke bawah.

Perbedaan selanjutnya adalah penggunaan meja baik untuk afternoon tea maupun high tea. Afternoon tea dikenal juga dengan nama low tea karena menggunakan coffee table atau meja yang lebih rendah (low table). Fungsi meja memang hanya sebagai tempat untuk menaruh makanan dan minuman. Cara menikmati afternoon tea adalah dengan duduk di kursi sofa sambil memegang cangkir dan piring kecil berisi cemilan.




Berbeda dengan high tea. Banyak orang memaknai kata "high" sebagai kemewahan padahal ini sebenarnya merujuk pada dining table (meja makan) yang biasa digunakan untuk high tea. Meja makan digunakan untuk menaruh cangkir, teko, three tier atau nampan berisikan cemilan, jadi disebut high table. Tampilannya juga sederhana dan tidak mewah.

High Tea+

Berhubung saya memang lebih menyukai ngeteh, beruntung sekali saya mendapatkan undangan tea time dari BloggerCrony dan Hotel Aston Marina Ancol di 33 Degree Skybridge Lounge. Diklaim sebagai bangunan tertinggi di Jakarta Utara, dari atas kita bisa melihat pemandangan kota Jakarta serta laut Jawa.

Ada ruangan indoor maupun outdoor. Di rooftop bar & lounge juga tersaji dua pemandangan, yaitu city view dan ocean view. Di bagian luar rooftop (outdoor), tersedia kursi rotan putih dengan cushion berwarna biru yang sangat nyaman untuk menikmati sajian teh dan teman-temannya.





Di dalam ruangan (indoor), terdapat sofa, coffee table, kursi bersandaran tinggi dan juga piano yang menambah kesan layaknya reading room di Eropa. Pengunjung bisa memilih untuk menikmati tea time di dalam ruangan yang homy atau di luar ruangan sambil menikmati pemandangan.

Anyway, High Tea+ (high tea plus) adalah salah satu program di 33 Degree Skybridge Lounge yang dimulai dari jam 16.30 - 20.00 WIB (Rabu-Minggu). Diberi nama high tea plus karena selain menyediakan teh dan berbagai cemilan dalam porsi kecil, juga disajikan menu makanan Indonesia yang setiap hari berganti menu.  Minumannya sendiri bukan hanya teh, tetapi ada kopi serta minuman dingin seperti pineapple juice dan ice lemon tea.

Menu makanan dan minuman disajikan secara buffet atau prasmanan. High tea+ juga dipadu dengan kearifan lokal dan makanan kekinian. Contohnya ada bakwan atau bala-bala, banana nugget, kwetiau goreng, spagheti, salad dan sate buah. Masih ada menu otentik untuk tea time seperti mini sandwich, samosa, cake, tart kecil, puding sampai salad mentimun.




Menu "Indonesian section" kali ini adalah nasi hijau, gado-gado, orek tempe, telur dadar dan ayam goreng. Meskipun porsinya tidak terlalu banyak, dengan tambahan menu high tea lainnya rasanya kita tidak perlu makan berat lagi. High tea+ benar-benar menganut prinsip high tea dengan menu yang mengenyangkan namun dinikmati di kursi sofa dan coffee table layaknya afternoon tea.

Bagi Anda yang tertarik untuk mencicipi sajian teh dan cemilan di puncak tertinggi Jakarta Utara, High tea+ dapat dinikmati dengan harga Rp 110.000 nett/orang (sudah termasuk pajak). Harga ini adalah promo dari tanggal 4 Juli s/d 4 Agustus. Selain itu, customer yang menginap di Hotel Aston Marina Ancol mendapat keistimewaan dengan hanya membayar Rp 50.000 nett/orang.

So, jika ingin menikmati high tea yang bukan ganya otentik tapi juga dipadu kearifan lokal, High tea+ adalah pilihan yang tepat. Sambil menikmati pemandangan laut atau city light, Anda akan merasakan sensasi dan pengalaman ngeteh di ketinggian ibu kota. Karena high tea+ lebih dari sekedar ngeteh dan ngemil.

Hotel Aston Marina Ancol
Jl. Lodan Raya No. 2A
021- 69837120 (3804)
www.astonhotelsinternational.com



Komentar

  1. Jadi captionnya socialite itu selama ini salah kaprah, yah? Terima kasih pencerahannya , Den .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap, high tea sebenarnya malah untuk kalangan menengah ke bawah, bukan sosialita..

      Hapus
  2. Kelas sosial yang beda ya. Kalo orang kaya ngeteh itu buat lifestyle. Sedangkan orang biasa ngeteh (dan ngemil) memang biar gak lapar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Indonesia lebih condong ke budaya ngopi sambil ngemil buat menunda lapar. Dan gak ada aturan jamnya juga.. 😁😂

      Hapus
  3. Wah nambah ilmu nih tentang perbedaan high tea & afternoon tea beserta asal-usulnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, semoga bermanfaat dan gak salah kaprah lagi..

      Hapus
  4. Apa cuma gue yang baca tulisan ini gagal fokus sama gambar makanannya 😅
    Btw itu seriusan harganya segitu den?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya harga promosi, 110K uda nett 😋

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Semangkuk Soto, Segelas Anggur dan Peragaan Busana

Beberapa waktu lalu Kementerian Pariwisata telah menetapkan lima makanan yang menjadi kuliner nusantara. Selain menjadi ikon kuliner, makanan-makanan tersebut juga menjadi salah satu media promosi untuk memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Menariknya, Rendang yang saya kira berada di urutan pertama, ternyata ada di posisi kedua. Nomor satu yang menjadi ikon kuliner Indonesia adalah SOTO.
Mengapa soto bisa jadi nomor satu, dibandingkan rendang yang sudah mendunia (apalagi ketika dinyanyikan oleh Bule yang jatuh cinta pada masakan khas Minang itu). Jawabannya adalah selain merupakan kuliner asli Indonesia, soto mudah ditemukan di dimana-mana, bahkan setiap daerah punya ciri khas soto masing-masing. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan atau Soto Banjar dengan bumbu, rempah serta kearifan lokal dari kota asalnya.
Selaras dengan momen tersebut, Summarecon Mal Kelapa Gading bersama Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarak…

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…