"The Gade Clean & Gold", Memilah Sampah Menabung Emas


Apa yang pertama terlintas jika mendengar kata sampah? Mayoritas pasti menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak berharga, tidak bernilai dan sebagainya. Akan tetapi, gerakan dan pola hidup 'Go Green' dalam kurun lebih dari sedekade terakhir turut mengubah pandangan dan value terhadap sampah.

Mungkin kita berpikir, sampah hanya dibuang dan akan dikirim ke TPA (Tempat Pembungan Akhir). Namun tanpa perlu membuangnya, sampah bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai, baik nilai ekonomis maupun nilai fungsional. Beberapa waktu lalu, sempat booming tas dan kerajinan tangan yang terbuat dari sampah bekas bungkus minuman instan. Inilah salah satu jenis sampah yang memiliki nilai ekonomis karena bisa dijual dan menghasilkan pundi-pundi rupiah.


Kita juga paham bahwa sampah bisa diolah menjadi pupuk. Endapan sampah-sampah akan menghasilkan pupuk kompos cair yang bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman. Inilah salah satu nilai fungsional dari sampah yang bisa digunakan oleh para petani atau yang suka berkebun.

Di antara sampah-sampah yang 'bernilai' tersebut, tahukah Anda bahwa sampah bisa 'diubah' menjadi emas? Bukan, saya tidak membahas pengolahan sampah hingga ia menjadi bernilai setara emas, tetapi bagaimana sampah yang 'mentah' tersebut bisa langsung menjadi emas.

Bagaimana caranya?

Bank Sampah, Memilah Sampah Menabung Emas

Pada Jumat (2/8/2018) kemarin, PT Pegadaian (Persero) meresmikan bank sampah dan taman desa "The Gade Clean & Gold" di Desa Setia Asih, Kabupaten Bekasi. Bank sampah juga merupakan salah satu program corporate social responsibility (CSR) Pegadaian yang semakin menegaskan manfaat kehadirannya sebagai BUMN yang peduli terhadap lingkungan serta memeratakan kesejahteraan ekonomi di seluruh daerah di Indonesia.



Melalui bank sampah, Pegadaian memfasilitasi konversi sampah menjadi tabungan emas. Masyarakat bisa menjual sampah dan hasil penjualannya bisa disimpan dalam bentuk tabungan emas Pegadaian. Direktur Utama Pegadaian Sunarso mengatakan, dengan adanya bank sampah diharapkan dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.

"Kita yang buang sampah, maka kita juga yang harus membersihkan kotoran tersebut. Sampah yang kita ambil maka akan dikelola dan warga bisa mendapatkan insentif ekonomi dari proses tersebut," ujar Sunarso saat meresmikan Bank Sampah di Desa Setia Asih.

Selain itu, dengan adanya program bank sampah juga diharapkan kesadaran masyarakat meningkat untuk tidak membuang sampah sembarangan namun mengumpulkannya untuk 'ditukar' dengan emas. Wargapun menjadi terpacu untuk membuat lingkungan menjadi bersih.


"Kami berharap kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah secara sembarangan akan meningkat. Sehingga, program 'Sampah Menjadi Emas' yang kita canangkan bersama-sama pemerintah dapat mencapai hasil yang maksimal," lanjutnya.

Kegiatan bank sampah merupakan salah satu perwujudan dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Karena itu, program ini juga bertajuk Pegadaian Bersih-bersih. Yakni, Program Bersih Lingkungan, Bersih Administrasi dan Bersih Hati, sebagai bentuk kepedulian sosial Pegadaian kepada masyarakat.

"Kita terus bekerjasama dengan semua pihak untuk mendorong olahan sampah yang ditampung Bank Sampah bukan hanya dijadikan simpanan uang, tapi bisa ditukarkan menjadi pundi gram emas. Bukankah ini memiliki nilai lebih bahkan dapat diinvestasikan dalam jangka waktu lama," jelas Sunarso.




Di sisi lain, Hari Santoso, Koordinator Bank Sampah Desa Setia Asih menjelaskan, respons masyarakat terhadap pembentukan bank sampah sangat antusias. Ia mengatakan saat ini masyarakat sudah aktif membentuk kelompok yang bergerak di bidang pengelolaan sampah, baik pembentukan posko bank sampah di setiap RW, hingga kegiatan pemilahan sampah.

"Setiap hari kita berhasil mengumpulkan 3 kuintal sampah dari 15 pengepul di sejumlah desa. Warga yang datang ke sini dapat membukukan sampahnya yang nantinya bisa ditabung ke tabungan emas pegadaian. Dengan konversi 0,01 gram, seharga Rp5.800," jelas Hari.

Bank sampah dibentuk bukan hanya sekedar untuk mengumpulkan sampah saja. Menurut Sunarso, tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan hidup masyarakat, mengurangi dampak sampah lingkungan, sekaligus meningkatkan sumber penghidupan.


"Motto kita, sampah harus bisa menjadi emas. Jadi selain dapat menjaga lingkungan, sampah juga dapat bernilai dan menjadi sumber pendapatan tambahan, jika dikelola secara baik," tutupnya.

Program CSR dan The Gade Clean & Gold

Dalam peresmian tersebut, saya menyaksikan bagaimana sampah dikumpulkan untuk dijual dengan diganti 'gram emas', ada juga pengolahan sampah yang diubah menjadi pupuk kompos cair. Lokasi peresmian juga sangat unik, karena berada di taman dekat pinggir kali yang dulunya penuh sampah dan rumput liar tapi kini sudah dibersihkan dan lebih terawat.

Selain itu, di tengah taman ada tugu bertuliskan "The Gade Clean & Gold". Lalu ada booth kecil dari The Gade yang menyediakan kopi dan matcha bagi para tamu undangan. Disana juga ada beberapa booth yang menjual produk lokal dari warga binaan Desa Setia Asih. Ternyata pemberian nama The Gade bukan tanpa alasan, melainkan sebagai branding dari Pegadaian.



"Program bank sampah ini juga kita namakan The Gade Clean & Gold, harapannya desa binaan jadi bersih dan nyaman juga kekinian, sebagai kerja nyata Pegadaian dekat dengan masyarakat," jelas Sunarso, Direktur Utama Pegadaian.

"The Gade kini menjadi nickname untuk Pegadaian dan sudah menjadi brand yang dikenal kalangan milenial. Apalagi The Gade Coffee & Gold kini tersebar di banyak kota di Indonesia menjadi gerai Pegadaian sekaligus cafe yang instagramable," sambungnya.

Dengan kerja sama ini, Pegadaian berharap masyarakat akan lebih tertarik dengan produk-produk Pegadaian, serta menjadi nasabah loyal salah satu BUMN tersebut. Apalagi, Pegadaian telah berhasil mendirikan sedikitnya 12 bank sampah di seluruh Indonesia dan akan mengembangkan program sejenis di desa-desa lain di Indonesia.





Desa Setia Asih terpilih sebagai salah satu desa binaan Pegadaian melalui program CSR yang dijalankan. Adapun sejumlah bantuan dana sarana dan prasarana senilai total Rp 599,78 juta telah diserahkan. Dana ini digunakan untuk membiayai pembangunan bank sampah dan taman desa.

Pegadaian sejak tahun 2016 hingga saat ini juga telah memberikan bantuan sejumlah Rp 146,37 juta untuk Pembangunan kandang bebek, bantuan mushola, pelatihan membatik, pelatihan membuat dodol, pelatihan aqua ponik, dan pelatihan pengeloaan sampah.




Pada kesempatan yang sama, Eka Supria Atmaja, Wakil Bupati Bekasi, turut menyampaikan terima kasih kepada Pegadaian. Melalui program ini, dirinya berharap tingkat kesadaran masyarakat akan jauh lebih tinggi terutama pada persoalan sampah.

"Atas nama pemerintah daerah mengucapkan terimakasih atas sumbangan dari CSR Pegadaian. Dengan manajemen bank sampah ini mudah-mudahan pengelolaan sampah lebih baik. Karena persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi tanggungjawab kita semua," jelasnya.

Nah, program bank sampah tentu akan menjadi solusi untuk mengurangi penyebaran sampah yang seringkali dibuang sembarangan oleh masyarakat. Dampaknya, selain lingkungan lebih bersih, masyarakat juga mendapat benefit berupa tabungan emas yang bisa menjadi investasi. Semoga program-program serupa bisa diterapkan di desa-desa lain sehingga mengurangi dampak dari sampah.


Komentar

Postingan Populer