Langsung ke konten utama

Financial Planning for Freelancer


Bulan ini, tepat setahun lalu adalah salah satu momen "breakthrough" dalam karir saya. Ya, saat itu saya memutuskan untuk resign dan hiatus dari dunia kerja. Saya mencoba mengejar passion yang tidak mungkin bisa saya kerjakan jika masih terus bekerja, yakni menulis.

Boleh dibilang ini termasuk nekat, saya keluar dari pekerjaan dengan tabungan tak seberapa ditambah masih memiliki pengeluaran rutin tiap bulan. Banyak orang pasti merasa takut atau khawatir karena resign dari pekerjaan artinya kita tidak memiliki penghasilan tetap. Namun keputusan ini jugalah yang membawa saya ke dunia baru, dunia freelancer.

Awalnya saya tidak pernah menyebut diri saya sebagai blogger, saya lebih suka jika disebut sebagai writer. Alasannya, saat itu saya bahkan tidak memiliki blog pribadi. Saya menulis di platform blog seperti Kompasiana serta portal web Detik Travel. Saat itu, saya aktif menulis di keduanya.


Awal-awal menjadi freelancer, keuangan saya "tertolong" karena beberapa kali memenangkan Blog Competition dengan hadiah jutaan rupiah. Setelah lepas dari kewajiban sebagai "pegawai kantoran", mulailah saya kenal dengan proyek penulisan konten atau job dimana saya dibayar untuk setiap job/project.

Dari situlah saya menyadari bahwa menjadi freelancer ternyata masih bisa "hidup" meski harus diakui, penghasilannya memang tidak tetap. Kadang besar kadang kecil, namun setidaknya setiap bulan selalu ada pemasukan. Sampai saat ini saya masih konsisten sebagai content writer, meski beberapa teman mulai mengajak project sebagai influencer lewat social media.

Sudah mantap menjalani dunia freelancer serta mendapat pundi-pundi dari sana, artinya kita sudah memiliki penghasilan. Dan sebagai freelancer, ternyata kita juga harus mengatur setiap pemasukan agar hasilnya tidak menguap begitu saja.

***

Pada Minggu (9/9/2018) lalu, Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB) dan CNI kembali bekerjasama dalam menyelenggarakan event Blogger Gathering Part 3 dengan tema "SEO Zaman Now". Namun selain membahas SEO masih ada topik lain, yakni tentang "Mengatur Keuangan Freelance" dimana saya lebih tertarik akan tema ini.

Atas dasar keinginan untuk belajar mengatur keuangan, maka saya memutuskan untuk mendaftar dan diterima sebagai peserta. Sebagai freelancer, sudah sewajibnya kita dapat mengatur finansial kita, tak jauh berbeda dengan profesi-profesi lainnya.

Materi ini dibawakan oleh Liswanti Pertiwi atau akrab dipanggil Teh Lis, seorang finance blogger yang juga berprofesi sebagai konsultan keuangan dan wedding organizer. Di awal pemaparan, beliau langsung bercerita tentang masa lalunya yang boros dan sulit mengatur keuangan.


Teh Lis juga bercerita tentang kasus yang lumrah terjadi pada masyarakat urban, contohnya seseorang yang memiliki penghasilan mencapai puluhan juta rupiah per bulan, tetapi tidak memiliki tabungan, investasi atau semacamnya.

***

"Tuliskan apa yang menjadi target keuangan Anda, setidaknya untuk satu tahun ke depan."

Begitulah pesan Teh Lis sebelum membuka materi. Menurutnya setiap orang memiliki tujuan finansial masing-masing. Ada yang untuk biaya nikah, membeli kendaraan, membeli rumah, biaya pendidikan anak, ibadah haji/umrah, ibadah ziarah, membuka toko, persiapan dana pensiun, dll.

Sangat penting untuk menuliskan tujuan keuangan di masa mendatang agar menjadi "motor penggerak" yang memotivasi kita dalam bekerja sebagai freelancer. Dan paling terpenting, kita juga harus mengatur dan mengelola keuangan tersebut agar tujuan keuangan kita tercapai.

Adapun tips-tips untuk mengatur keuangan antara lain:



1. Kenali kebutuhan dan keinginan.

Inilah permasalahan yang kerap dialami oleh banyak orang. Tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sebagai contoh, makan dan minum adalah kebutuhan. Tapi jika minum kopi di coffee shop apakah termasuk kebutuhan?

Banyak freelancer yang berkilah bahwa mereka ngopi di coffee shop sambil bekerja. Namun ada baiknya sebagai freelancer kita mengetahui apa yang menjadi kebutuhan kita. Apakah ngopi di coffee shop dengan harga kopinya yang mahal masih termasuk kebutuhan atau keinginan? Kebutuhan harus dipenuhi, sedangkan keinginan tidak.


2. Hitung berapa penghasilan yang diperoleh dan buatlah pos keuangan.

Inilah faktor terpenting dalam mengelola keuangan yang banyak dilupakan. Membuat pos keuangan sangat penting agar kita bisa "membuang" atau "menghabiskan" uang dengan cara bijaksana. Dengan adanya pos keuangan, tujuan keuangan juga menjadi terarah.

Teh Lis sendiri mengelola setiap pemasukannya dengan membagi ke dalam beberapa pos seperti zakat/infaq/sedekah (5%), dana darurat (10%), biaya hidup (40%), tabungan (25%), gaya hidup (5%) dan investasi (15%). Setiap orang pastinya punya pos keuangan yang berbeda-beda, namun pastikan bahwa zakat, dana darurat, tabungan, investasi dan biaya hidup masuk dalam prioritas.


3. Buatlah catatan arus kas.

Sudahkah Anda mencatat setiap rupiah yang keluar dari kantong Anda? Jika belum, mulailah untuk mencatat setiap pengeluaran agar kita tahu kemana perginya uang kita. Arus kas atau cash flow statement sangat penting untuk memberikan informasi mengenai kondisi keuangan dalam satu periode.

Biasakan untuk mencatat setiap uang yang masuk dan keluar, sekecil apapun itu. Dengan membuat catatan cash flow, kita juga bisa mengetahui setiap pengeluaran, baik pengeluaran yang bisa dibuang atau ditekan.


4. Disiplin dalam menabung.

Biasakan untuk saving (menyimpan) terlebih dahulu, baru kemudian spending (menghabiskan). Jangan pernah menabung dari sisa ! Karena biasanya justru tak ada dana tersisa. Cobalah konsisten menabung, minimal Rp 10.000/hari. Dengan demikian, setidaknya kita memiliki tabungan sekitar Rp 300.000 di akhir bulan.

5. Tidak belanja berlebihan dan bisa menahan segala godaan.

Apa godaan paling berat yang berpotensi memboroskan keuangan, terutama di kalangan millenials? Godaan membeli gadget baru, godaan membeli fashion, godaan untuk nongkrong atau ngopi di luar adalah beberapa di antaranya. Bahkan, kini ada godaan baru yang lebih mewah, godaan untuk traveling.



Mengatur keuangan sangat erat kaitannya dengan berpikir panjang ke depan. Apakah membeli gadget baru diperlukan, padahal gadget lama masih berfungsi dengan baik. Apakah nongkrong dan ngopi di coffee shop sangat penting, padahal kita juga bisa ngopi atau ngobrol-ngobrol di teras rumah, bukankah yang penting adalah kebersamaannya.

Mulai sekarang, belajarlah untuk menahan setiap godaan dan jangan kalap mata sehingga belanja berlebihan. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang, dimana uang yang dikeluarkan lebih besar dari uang yang dimiliki.

***

Menjadi freelancer artinya kita juga siap untuk semua kemungkinan, termasuk pemasukan yang tak pasti jumlahnya. Freelancer juga harus menahan diri untuk menggunakan uang di bawah jumlah yang dimiliki. Seorang freelancer juga dituntut untuk mengatur keuangannya dalam jangka panjang ke depan, tidak terbatas pada saat ini saja.

Setelah mendapatkan beberapa tips mengatur keuangan, saya pribadi mencoba menjalankan beberapa tipsnya. Contohnya mulai membuat pos keuangan untuk biaya nikah (siapa sih yang tidak mau berumahtangga), biaya investasi, biaya pensiun, dana darurat serta biaya liburan, setidaknya untuk satu tahun ke depan.

So, apa yang menjadi tujuan keuanganmu? Yuk mulai tuliskan dan kelola keuanganmu sebagai freelancer dengan bijaksana.


Komentar

  1. Tips n triknya.. Sepertinya tidak berbeda jauh dengan pengaturan keuangan pada umumnya.. Tp dengan membaca ini jadi mengingatkan kembali.. Terimakasih Deni sudah mengingatkan.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, sebenarnya gk berbeda jauh dengan yg umumnya. Cuma karena ini freelance jadinya harus lebih hati² dalam mengelola keuangan..

      Hapus
  2. Mantab bang.. lengkap banget itu.. bagi softfile ada bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, gk ada soft file. Kita cmn foto² doank.. 😅

      Hapus
  3. Waah ada foto akunya haha

    Dari awal tahun ini aku udah mulai nulis semua catatan pengeluaran sekecil apapun di aplikasi hp tapi belum direkap -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rajin catet..
      Tiap ada duit keluar langsung catet, bisa di notes atau aplikasi smartphone..

      Hapus
  4. Aku bakal share tulisan kakak ini. Bagus bgt bt para freelancer dan mungkin calon freelancer nantinya heheeh

    BalasHapus
  5. Atur cash flow , jangan melulu gone with the flow. Terima kasih reminder pengaturan keuangannya, Kak Deny.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama² kak muti..
      Jangan lupa bikin catatan arus cash flownya ya.. 🤗🤗

      Hapus
  6. Penting banget kalo udah ngatur soal keuangan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Teh..
      Nuhun udah mampir.. 🙏🏼

      Hapus
  7. Iah, matwrinya dahsyat nih .. Kayaknya aku jg perlu bwrlatih nih utk seo dan atur keuangannya.. Sering berlubang soalnya nih kantong..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, freelancer harus praktekin tipsnya..

      Hapus
  8. Jadi semangat nih belajarnya, yg sering juara aja masih rajin belajar SEO, thanks mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama² mbak. Saya jg masih belajar nih. Hehe

      Hapus
  9. Poin 5 tuh lumayan berat.. Godaan.. Haghaghagahg...

    BalasHapus
  10. Untuk keiginan saya sudah bisa mengeremnya, termasuk belanja fashion. Makanya baju saya dari dulu itu-itu saja wkwkwk...

    BalasHapus
  11. Thanks buat infonya bang..
    Kagum banget sama orang-orang yang berani mengambil langkah besar untuk fokus sama hal-hal yang mereka sukai, dan bisa memanage hidup sesuai itu.

    Salut

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Semangkuk Soto, Segelas Anggur dan Peragaan Busana

Beberapa waktu lalu Kementerian Pariwisata telah menetapkan lima makanan yang menjadi kuliner nusantara. Selain menjadi ikon kuliner, makanan-makanan tersebut juga menjadi salah satu media promosi untuk memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Menariknya, Rendang yang saya kira berada di urutan pertama, ternyata ada di posisi kedua. Nomor satu yang menjadi ikon kuliner Indonesia adalah SOTO.
Mengapa soto bisa jadi nomor satu, dibandingkan rendang yang sudah mendunia (apalagi ketika dinyanyikan oleh Bule yang jatuh cinta pada masakan khas Minang itu). Jawabannya adalah selain merupakan kuliner asli Indonesia, soto mudah ditemukan di dimana-mana, bahkan setiap daerah punya ciri khas soto masing-masing. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan atau Soto Banjar dengan bumbu, rempah serta kearifan lokal dari kota asalnya.
Selaras dengan momen tersebut, Summarecon Mal Kelapa Gading bersama Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarak…

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…