Langsung ke konten utama

Ariana dan Kata Hatinya


Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lepek terkena air hujan. Awalnya kupikir dia adalah pelayan restoran ini, namun dari profil dan penampilannya ia seperti pegawai kantoran. Gue nggak kenal siapa dia. Dari gelagatnya, sepertinya dia adalah teman Cindy.

"Duh, nyari ATM susah banget deh. Mana di luar hujan deras. Tapi untung ketemu," ujar wanita itu ke Cindy sambil mengelap rambut dan kepalanya yang basah.

"Hahhaha.. gue kan udah bilang kalau nyari ATM disini agak susah. Eh iya, kenalin nih temen gue," kata Cindy sambil mencoba mengenalkan gue dengan wanita ini.

"William," gue menjulurkan tangan.

"Ariana," jawabnya.

"Nah, Wil. Si Ana ini teman satu kantor gue. Dia anak baru, baru dateng dari kampung. Hahaha.. Dia udah beberapa kali ikut kumpul sama kita-kita. Pas lu lagi sok sibuk-sibuknya," sambung Cindy.

"Enak aja dari kampung. Jangan lupa, inyonk dateng dari kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya. Hahaha," katanya dengan sedikit memunculkan logat medoknya.

"Iya deh, mbok. Buruan lu orang pesan minum dulu. Sambil nunggu yang lain," ujar Cindy.

Rutinitas padat memang kerap membuat warga ibukota kesulitan bersosialisasi. Namun gue dan teman-teman mencoba mengatur waktu untuk meet up, bukan hanya sekedar ngobrol di grup WhatsApp. Awalnya kami semua adalah teman kuliah. Seiring waktu teman kami bertambah, baik dari teman kantor atau pasangannya.

Meski banyak yang absen saat meet up dengan alasan kesibukan masing-masing, at least mereka yang senggang bisa hadir untuk bertatap muka, sharing atau bercanda dan tertawa bersama. Lumayan buat kewarasan jiwa di sela rasa penat dan stres yang melanda karena tugas kantor yang menumpuk.

Teman-teman kami akhirnya datang. Mereka sudah pernah bertemu dengan Ariana si "anak baru". Ia cepat akrab dan berbaur dengan yang lainnya, bahkan dengan gue yang baru ditemuinya. Dari profilnya, secara fisik dia biasa-biasa saja. Tidak terlalu cantik, tapi juga tidak di bawah standar.

Satu hal yang gue suka, dia sangat supel. Bahkan teman-teman lain mengolok-oloknya karena masih jomblo.

"Wil, lu jomblo juga kan? Tuh sama si Ariana aja," timpal Ronal.

"Ya elah, baru juga ketemu. Udah main jodoh-jodohin aja lu," jawab gue.

"Iya baru ketemu, jadi belum tahu nyaman atau nggak," timpal Ana yang disambut gelak tawa kami.

Nggak gue sangka, becandaan seperti itu ditimpalinnya dengan "cerdas dan bijak". Entah mengapa, rasa tertarik itu muncul dengan lebih kuat.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Bagi anak kos sepertiku, itu adalah waktu yang sangat telat. Untunglah kos kami memiliki kamar mandi masing-masing di tiap kamar. Buru-buru aku mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor. 

Kosanku berada di kawasan Tomang. Sementara kantorku berada di distrik SCBD Sudirman. Hari itu aku sudah membuat janji dengan Cindy, rekan kerjaku untuk berkumpul bersama teman-temannya. Sejak dua bulan pindah dari Surabaya ke Jakarta, Cindy banyak membantuku, mulai dari masalah pekerjaan sampai urusan remeh temeh seperti keperluan pribadiku.

Cindy pula yang mengajakku untuk berkumpul dengan para sahabatnya. Bahkan aku sudah dimasukkan ke grup WA "geng" mereka. Meski tergolong silent reader (SR) di grup, aku sering memperhatikan percakapan mereka. Ada seseorang yang sedikit menarik perhatianku.

Setiap ada bahan obrolan di grup, dia kerap menimpali dengan banyolannya yang terkadang membuatku tertawa dan senyum sendiri. Sayangnya tiap kali kami mengadakan meet up, baik untuk makan malam, nonton, CFD atau sekadar ngopi cantik, dia kerap absen dengan alasan sibuk sehingga sering dipanggil "Mr. So Busy".

Dari kontak profil, dia menulis nama "Willy" dalam kolom nama. Profile picture-nya juga hanya berupa siluet dirinya dengan latar sunrise, atau mungkin sunset. Jadi aku juga tidak tahu seperti apa rupanya. Ah sudahlah, entah siapapun dia. Lagipula aku juga belum pernah bertemu dengannya.

Malam hari setelah pulang kerja, Cindy kembali mengingatkan janji temu dengan sahabatnya. Dan ternyata, si Mr. So Busy ikut serta. "Sebuah mujizat!" Begitulah yang dikatakan atau lebih tepatnya ditulis oleh teman-teman lain di grup. Secara pribadi, aku juga tak terlalu mempersoalkan dia ikut atau tidak.

Tepat jam tujuh malam, aku dan Cindy sampai di restoran yang berada di sekitaran Senayan. Sambil menunggu teman-teman lain, aku baru sadar kalau uang cash di dompetku menipis. Kutinggalkan Cindy seorang diri dan bertanya pada satpam dimana lokasi ATM terdekat. Ternyata jaraknya cukup jauh dan memakan waktu kurang lebih 10-15 menit jalan kaki kesana.

Sambil tergesa-gesa dan meminjam payung satpam karena di luar hujan deras, aku menuju ATM dan kembali ke restoran. Kupikir sudah banyak yang datang, ternyata tidak. Dari jauh kulihat seorang pria duduk di sebelah Cindy, wajahnya asing bagiku. Aku langsung menghampiri mereka, dan oleh teman sekantorku ini akhirnya aku dikenalkan dengan..... si Mr. So Busy.

Kuakui, wajahnya cukup tampan. Tidak, bukan cukup, dia memang tampan, dengan balutan jaket denim, sepatu kets dan kacamata yang tersemat di wajahnya. Sambil berjabat tangan, dia menyebut nama lengkapnya, setidaknya nama depannya.

"William," katanya dengan nada kalem.

Awalnya kupikir orang yang suka heboh di grup WA, aslinya pendiam pas ketemu. Akan tetapi William adalah pengecualian karena di dunia maya ngocol, di real life ternyata lebih konyol. Kehadirannya membuat suasana semakin hidup. Kurang lebih itulah kesan pertama saat aku bertemu dengannya.

Seminggu setelah makan malam yang penuh tawa itu, kami semua kembali mengatur jadwal untuk bertemu. Kali ini kami berencana menonton film di bioskop di daerah Semanggi. Sayangnya di hari H Cindy tak bisa ikut karena sakit, teman-teman lain ternyata ada yang harus lembur di kantor. Akhirnya yang bisa ikut hanya aku, Willy, Tania, Leo dan Nathan.

Kebetulan Tania dan Leo adalah sepasang kekasih. Nathan yang awalnya ikut terpaksa urung karena jadwal meeting dengan kliennya molor sampai malam. Jadilah tinggal kami berempat: sepasang kekasih, aku dan Willy. Entah kenapa, rasanya sedikit aneh. Seperti double date.

***

Dengan tergopoh-gopoh gue membawa popcorn dan minuman. Rencana nobar rame-rame akhirnya cuma diikuti oleh empat orang, dengan catatan dua di antaranya adalah pasangan yang lagi dimabuk kasmaran. Ana masih mengantri di counter tiket. Gue mencari tempat duduk sambil menunggunya.

"Tiketnya dapet nih, ternyata rame. Kita dapet di pojokan, tiga bangku dari bawah," ujar Ariana.

"Ya udah nggak apa-apa. Entar biar dua orang itu mojok sekalian pacaran," jawab gue sambil mengecek HP karena kedua orang ini belum datang.

"Nah itu dia, Tania... sini.." Ana melambaikan tangan dan memanggil mereka.

"Duh sorry ya bro. Jalanan macet, tadi habis jemput Tania dulu," kata Leo.

"Iye, iye. Nih tiketnya. Lu berdua duduk di pojok ye. Awas, jangan berisik pas lagi nonton. Jangan sampe gue duduk di sebelah lu denger suara yang nggak-nggak," kata gue sembari menyobek dan menyodorkan tiket.

"Kampret lu. Terus ngapain tiket dirobek? kan kita masuk bareng-bareng," balas Tania.

"Masa kamu nggak tahu, beb. Kan biar si Willy kayak nonton berdua sama Ana," ejek Leo.

"Oh iya, ciyeeee.."

"Hahaha.. udah.. udah. Filmnya udah mau mulai tuh. Yuk masuk," bujuk Ana menyudahi pembicaraan ngelantur ini.

Kurang lebih dua setengah jam dihabiskan untuk menonton film itu. Selesai nonton, kami langsung pulang karena saat itu weekday dan besok pagi kami harus ngantor. Leo dan Tania berpamitan dan pulang duluan. Tinggallah gue berdua sama Ana.

"Lu pulang naik apa, Na?"

"Ini mau order ojek online."

"Ya udah gue tungguin sampe dapet," kata gue.
Sekitar 15 menit, Ana sedikit menggerutu karena ordernya di-cancel terus oleh driver. Ditambah hari makin larut malam.

"Kalau nggak salah disini banyak ojek pangkalan juga deh. Mungkin ojol ngeri ngambil order disini, takut berantem," gue sedikit berasumsi.

"Yaah, terus aku pulang gimana dong?"

"Lu tinggal dimana sih?"

"Kosanku di Tomang."

"Ya udah. Gue anterin deh, yuk ke parkiran motor."

"Serius? Ih, asyik nih. Eh, tapi kamu ada helm nggak? Nanti ditilang lho," jawab Ana dengan nada gembira.

"Tenang aja, polisi juga nggak berani nilang gue," kata gue seraya berjalan menuju parkiran.

Setelah sampai, gue langsung membuka jok motor dan mengeluarkan helm cadangan dari bagasi.

"Lah, ternyata kamu punya dua helm. Ngapain kamu kemana-mana bawa dua helm? Mau modus ya nganterin cewek-cewek," kata Ana sedikit menggoda.

"Hahaha.. namanya juga usaha, Bu."

"Bisa aja ya. Haha.. Ngomong-ngomong rumah kamu dimana sih? Searah nggak ama aku?"

"Gue tinggal di Cideng, yah lewatin dikitlah."

"Cideng itu dimana ya?" 

"Duh, dasar orang kampung. Coba sana cari di Google Maps, Cideng dimana," kata gue dengan nada bercanda.

"Haha. Jancok. Kan aku gadis desa yang baru ke kota," katanya sambil tertawa.

Ana langsung duduk di boncengan, dan gue akhirnya mengantarnya pulang.

***

Malam itu mungkin menjadi malam yang tak terlupakan dalam hidupku. Akhirnya aku bisa "bersama" William. Setelah makan malam dengan drama "nyari ATM dulu di tengah hujan deras" itu, aku mulai aktif di chat grup. Biasanya aku hanya menjawab dan membalas sekenanya. Willy juga seringkali sahut-sahutan denganku di grup, lengkap dengan banyolan khasnya.

Kami berencana untuk nonton film, dengan teman-teman lainnya juga. Sayangnya di hari H banyak yang tak bisa ikut. Akhirnya tinggal aku, Willy, Tania dan Leo. Rasanya aku ingin tertawa. Nobar kali ini serasa double date. Kami duduk bersebelahan. Dalam beberapa kesempatan aku sering menengok ke arah Willy, hanya untuk melihat ekspresi dan tawanya saat menonton film. 

Jangan harap ada momen dimana dia mencoba "modus" seperti ingin menggenggam tanganku. Aku tahu sejak pertama bertemu, dia bukan tipe pria seperti itu. Setidaknya, begitulah menurut instingku.

Ketika pulang dan kesulitan mencari kendaraan, dia akhirnya menawarkan tebengan. Rasanya senang sekali. Saking senangnya aku ingin memeluknya di atas motor, tapi tentu saja itu tidak kulakukan. Setelah sampai aku langsung mandi dan berganti pakaian. Terlihat notifikasi satu missed call di HP-ku.

"Willy."

Itulah nama yang tertulis di layar. Tak menunggu lama, aku langsung menelepon balik untuk mengucapkan terima kasih dan memberi kabar. Senang sekali mendengar suara merdunya. Mungkin setelah ini aku akan bermimpi indah.

Sejak saat itu Willy kerap menghubungiku, baik lewat chat maupun telepon. Aku pun membalasnya dengan bersemangat sambil berhati-hati agar tidak terlihat gampangan. Bagiku, William adalah pria yang tahu cara memperlakukan wanita dengan baik. Dia bukan seperti laki-laki yang dengan semangat menggebu-gebu ingin mendekati wanita.

Kurang lebih satu bulan kami intens berkomunkasi. Beberapa kali ia pernah menjemputku di kantor. Cindy yang melihat momen tersebut hanya senyum-senyum saja. Pernah juga ia menemaniku belanja keperluan di supermarket dan dengan senang hati mendorong troli. Lumayan, ada asisten pas belanja. Hahaha.

Ada momen yang membuat jantungku berdegup cepat. Ceritanya kami sedang jalan-jalan di festival kuliner. Tentu saja kondisinya ramai dan banyak orang berlalu lalang. Aku seringkali tertinggal ketika berjalan di belakang Willy. Melihat itu, ia langsung menjulurkan tangannya.

"Ayo, sini."

Dua kata sederhana, namun berhasil membuat hati ini gundah gulana. Aku pun menyambut tangannya yang mengapit jari tanganku. Ada sebuah rasa aman, dan juga nyaman. Aku berharap rasa gundah ini akan tetap ada ketika bersamanya, atau saat aku memikirkannya.

***

"Wil, kakaynya lu lagi deket ya sama si Ana?" tanya Ronal ketika kami tak sengaja bertemu di coffee shop karena meeting dengan klien.

"Hhhmmm.. masa sih? Emang kelihatannya begitu ya?"

"Elaahh.. nggak usah ngeles deh. Kemarin Cindy cerita katanya ngelihat lu jemput si Ariana."

"Wah. Suweee.. Biang gosip juga tuh anak," gerutu gue.

"Hahaha.. ya udah gini aja sob. Gimana respon dia selama lu deketin?" Ronal mulai mengintetogasi.

"Sejauh ini sih tanggapannya positif. Gue juga nggak mau buru-buru, anggep aja sekadar temen jalan," timpal gue.

"Saran gue, lu jangan kelamaan. Keburu ditikung lho."

"Anjrit! Siapa yang mau nikung? Elu?!" kata gue dengan nada bercanda.

Ya. Sejak nganterin Ana pulang setelah nonton, gue dan dia menjadi dekat. Beberapa kali kami jalan bareng. Ana juga merespon setiap ajakan gue. Tak jarang dia juga pernah mengajak balik, meski akhirnya gua malah nemenin dia belanja berjam-jam. Hadeh...

Seperti yang gue bilang, Ariana bukanlah wanita yang cakep-cakep amat. Bahkan ia kalah jauh dengan sahabat-sahabat wanita gue, jika paras cantik menjadi tolok ukur. Tapi ada sesuatu yang menarik dari dirinya. Dia seorang wanita cerdas yang pandai membawa diri, dimanapun dia berada. Mungkin sifat itulah yang membangkitkan rasa penasaran gue.

Sejak bertemu, dia sangat supel. Obrolan dan becandaan kami juga nyambung. Mungkin karena itu gue juga merasa nyaman dengannya. Bila dilihat dari gelagatnya, sepertinya ia sedang menunggu untuk "ditembak".

"Kamu tahu novel Dilan nggak?" tanya Ana suatu waktu.

"Tahu sih, tapi nggak baca. Emang kenapa?"

"Di novel itu ada kutipan bagus. Jangan menunggu, menunggu itu berat, kamu nggak akan kuat. Yah persis kaya aku nih lagi menunggu."

"Ini efek laper ya. Jadi lu lagi nunggu makanan nggak dateng-dateng."

"Iiihhhh.. sebel deh. Orang lagi serius," katanya sambil mukul gue dengan manja.

Kalau boleh jujur, di lubuk hati gue terdalam ada setitik keraguan. Apakah hubungan kami hanya sebatas teman dekat, atau kami bisa memulai hubungan lebih jauh. Jangan lupa, selalu ada kemungkinan pria ditolak wanita, sekecil apapun itu.

Sejauh ini gue berusaha mencari informasi apakah ada pria lain yang dekat dengan Ariana. Karena sudah jamak ditemukan wanita yang dekat atau didekati banyak pria. Meski ia selalu memberikan respon positif, gua nggak tahu apakah itu karena rasa suka sebagai teman saja atau ada rasa lain. Sampai saat ini gue belum menemukan jawabannya.

***

Tiga bulan sudah hubungan "pedekate" aku dan William. Akhir-akhir ini kami jarang bertemu. Ia sibuk dengan pekerjaannya, dan aku juga sibuk dengan tugas-tugasku di kantor. Selain itu, aku juga sering merasa aneh dengan Willy.

Kalau kuperhatikan Willy seperti menyimpan sesuatu dalam pikirannya. Dia sering membuatku tertawa dengan jokesnya yang renyah serta tawanya yang khas. Tapi jauh ketika aku menatap sorot matanya, yang kulihat adalah sebuah kekosongan. Ia seperti menyimpan kesedihan dan berusaha menutupinya dengan menunjukkan seolah-olah "Aku Bahagia".

Aku pernah bertanya pada Cindy. Kukorek segala informasi mengenai William. Aku sangat kaget karena sebagai sahabat ternyata Cindy tak banyak tahu mengenai William, terutama beberapa waktu ke belakang ini. Namun ada dua cerita yang menggelitik rasa penasaranku.

Pertama, sekitar dua tahun lalu Willy pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Hubungan mereka bahkan mulai ke tahap serius. Namun, orangtua dari wanita itu kurang setuju. Alasannya background Willy yang berasal dari keluarga broken home. Belum genap 10 tahun, Willy sudah tak bertemu dengan ibunya lagi hingga kini.

"Pria yang tidak dekat ibunya apa mungkin akan menghargai wanita yang menjadi istrinya, dan kelak ibu dari anak-anaknya."

"Jangan-jangan ia akan meniru ayahnya dengan menceraikan isitrinya."

Kurang lebih itulah tanggapan dari orangtua wanita tersebut yang diceritakan oleh Cindy dengan berapi-api. Jujur, aku juga sangat kesal mendengarnya. Secara psikis, kata-kata itu sangat menghantam William. Bayangkan, seorang pria yang ingin lepas dari masa lalunya dan mencari kebahagiaannya sendiri justru dihadapkan dengan rasa traumatisnya lagi.

Menurut Cindy, sejak saat itu William sedikit menjaga jarak dengan lawan jenis. Meskipun dia terlihat "dekat" dengan banyak wanita, semua itu hanyalah teman. Jangan lupa, Willy juga memiliki pesona yang membuat siapa saja tertarik dengannya.

Kedua, sejak enam bulan lalu Willy sedang mengalami masalah di kantornya. Keuangan perusahaannya sedang tidak sehat, bahkan terancam pailit. Namun ia terpaksa bekerja disana karena punya hutang budi. Perusahaan itulah yang membiayai kuliahnya sampai lulus. Kini, ia dipercaya atasannya untuk mencari investor. Namun itu bukan perkara mudah.

"Percaya atau nggak. Udah empat bulan gaji gue belum dibayar," katanya ke teman-temannya pada suatu waktu.

Aku terhenyak. Ternyata Willy selama ini belum jujur padaku. Padahal aku sering curhat dengannya, mulai dari masalah pekerjaan, masalah keluarga, sampai masalah pribadiku. Itu karena aku mencoba menaruh kepercayaan padanya. Tapi ternyata ia tidak melakukan hal yang sama. Silakan kalau kalian ingin menyebutku egois.

Mungkin aku terlalu berharap lebih. Mungkin William memang bukan tipe pria yang begitu mudahnya membuka hati dan berbagi cerita. Pantas saja kalau dia juga belum "nembak" sampai sekarang. Aku ingin penjelasan. Tidak. Aku lebih butuh kejelasan.

***

"Jadi apa yang mau diomongin?" tanya gue sambil menyeruput ice lemon tea.

"Nggak apa-apa. Kita udah jarang ketemu aja. Kamu kayaknya lagi sibuk banget ya?" jawab Ana.

Sejujurnya hari ini gue sangat lelah. Diskusi dengan investor berjalan alot. Ya, kantor gue sedang di ambang kebangkrutan. Investasi besar-besaran yang dilakukan beberapa waktu lalu gagal karena selera pasar yang tidak bisa ditebak. Sudah empat bulan gue "kerja bakti". Apalagi tabungan kian menipis. Gue lelah dan butuh istirahat.

"Iya nih, lagi banyak kerjaan."

"Kamu ada masalah apa sih. Coba dong cerita, siapa tahu aku bisa bantu," kata Ana dengan manja, namun tersirat nada ingin tahu dari suaranya.

"Memangnya kenapa? Nanti juga lu tahu ceritanya," jawab gue sekenanya.

"Jadi nggak mau cerita nih."

"Nggak," kata gue sedikit kesel.

"Ya udah kalo gitu," ketusnya.

"Ngomong-ngomong ini kita ngapain sih disini. Mau ngomongin apaan?" gue mulai gerah karena tertimbun rasa lelah.

"Jadi kamu nggak mau ketemu aku? Kita kan udah lama nggak quality time.."

"Sebentar.. quality time? Emangnya kita ini apa?" gue memotong pembicaraannya.

Ariana tiba-tiba menarik diri dari bangkunya. Wajahnya terlihat sangat kesal. Sejenak kemudian ia kembali berbicara dengan nada gemetar.

"Kamu bilang kita ini apa??? William, aku tanya sama kamu. Apa kamu cinta sama aku???"

"Kok tiba-tiba lu nanya begini sih," ujar gue menanggapi pertanyaanya yang tidak sesuai situasi dan kondisi.

"Jadi selama ini kita sering jalan bareng, pergi bareng, kamu juga hubungin aku terus, dan kita ini tidak ada apa-apa??" tanyanya kembali dengan nada gemetar.

Gue terdiam membisu dan memalingkan muka.

"Jawab, Wil.. jawab.. aku terima kamu apa adanya. Aku terima meskipun kamu berasal dari keluarga broken home.."

Sontak gua langsung mengangkat tangan tepat di depan wajahnya. Menyuruhnya diam.

"Lu tahu dari mana gue keluarga broken home?"

Ana tiba-tiba terdiam.

"Oke, jadi apa bokap nyokap lu mau nerima gue. Jangan-jangan dia bakal bilang kalo nanti gue bakal ceraiin lu juga, atau bakal nyakitin lu."

"Jangan pernah kamu sama-samain bapak aku dengan siapapun!!! Bapak aku bukan orang seperti itu!!! Lagian siapa juga yang mau nikah sama kamu. Bukannya tadi kamu bilang kita ini nggak ada apa-apa!!" kata Ana dengan suara meninggi.

Gue langsung bangkit dan beranjak dari kursi.

"Oke fine. Sepertinya semuanya sudah jelas. Kita nggak ada hubungan apa-apa. Gue memang lagi sibuk dan menunggu saat yang tepat buat cerita ke lu."

"Awalnya gue pikir lu adalah orang yang berbeda. Ternyata lu nggak jauh beda dengan wanita lain. Jadi sekarang jalani hidup masing-masing. My own, your own," kata gue seraya pergi meninggalkannya.

Mood gue bener-bener berantakan. Dan makin berantakan karena kejadian ini. Terima kasih Ariana.

*** 

Aku menangis tersedu-sedu. Menyesali semua kebodohanku. Harusnya aku tahu kemarin bukan saat yang tepat untuk berbicara dengan William. Dia pasti lelah. Dia pasti sibuk. Tapi aku memaksa bertemu dengannya untuk sebuah kejelasan, demi ego pribadiku.

Aku hanya meminta sebuah kejujuran. Aku hanya ingin orang yang kucintai jujur dan terbuka padaku. Tapi aku tahu, situasi dan kondisinya memang tidak tepat. Aku menyesal karena menyinggung perihal broken home keluarganya. Ketika menyebutnya, sorot mata penuh kesedihan itu terlihat lagi dengan sangat jelas.

Berkali-kali aku membuka HP. Ingin rasanya meneleponnya, namun itu akan membuat situasi semakin runyam. Aku sadar, aku telah kehilangan William yang kukenal. William yang selalu membuatku tersenyum dan tertawa. William yang selalu menggodaku dan membuatku tersipu. William yang hanya memikirkannya saja hatiku langsung gundah.

Kini sudah terlambat. Semuanya sudah jelas. Jalani hidup masing-masing, itulah pesannya padaku saat kami terakhir kami bertemu. Aku tak ingin menghapus air mata ini, karena ia akan mengering dengan sendirinya.

***

Entah sudah berapa kali bunyi telepon itu berdering. Ada 10 missed call dari nomor yang sama, Cindy. Di percobaan ke-11, akhirnya gue memberikan kesempatan.

"Haduhhhh, Wiiilllyyyy.. akhirnya diangkat juga," kata suara di ujung telepon.

"Silakan ngomong apa yang menurut lu penting."

"Oke.. oke.. gini.. sebelumnya gue mau minta maaf. Pertama, gue cerita mengenai background keluarga lu ke Ana. Kedua, gue juga cerita mengenai masalah lu di kantor."

Sejenak gue berpikir, pantas saja kemarin Ariana bertanya apakah gue sedang dalam masalah. Ternyata dia sendiri sudah tahu akar permasalahan tersebut.

"Wil, Ana itu sayang sama lu. Dia mau lu bersandar sama dia. Dia mau lu terbuka dan jujur sama dia. Ana itu cinta sama lu," kata Cindy.

"Iya, gue paham."

"Terus. Apa lu nggak sayang sama dia juga?"

"Gini Ndy. Gue sayang Ana. Tapi sekarang ada banyak hal yang mau gue pikirin selain cinta. Lu tahu kan masalah gue di kantor. Jujur, gue nggak yakin apa gue bisa ngebahagiain Ana," jelas gue.

"Haduh Wil, lu jangan mengukur kebahagiaan itu dari materi. Yang ada lu capek. Lagian kenapa lu nggak mencoba tanya dulu ke Ana."

"Gue mau cerita dan tanya. Tapi percuma gara-gara kejadian kemarin. Ya sudahlah, sepertinya puasa cinta gue berlanjut. Hahahha.." kata gue menutup pembicaraan.

Dari balik jendela, gue melihat bulan yang tertutup oleh gelapnya malam. Entah kenapa malam ini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Teringat sebuah kutipan yang mucul sekilas di kepala.

Meski tidak pernah bertamu, setidaknya kita pernah bertemu..

***

Sudah dua minggu semenjak aku bertengkar dengan William. Ia tidak pernah menghubungiku. Aku juga tidak mencoba menghubunginya, atau mungkin lebih tepatnya aku tidak berani. Bukankah ia meminta untuk menjalani hidup masing-masing.

Namun di balik semua itu, bagiku dia tetap William yang mempesona. Dia tetap William yang berhasil mencuri hatiku kala itu. William yang dengan melihat senyumnya saja maka kau akan ikut tersenyum. William yang membuatmu ingin menghentikan waktu dunia meski hanya sedetik saja ketika ia membuatmu tertawa.

"Pagi, sayang. Jangan lupa ya, nanti malam kita dinner."

Sebuah pesan masuk ke smartphone-ku. Ya, itu pesan dari pacarku. Kurang lebih satu bulan terakhir ketika komunikasiku dengan Willy mulai renggang, seorang pria muncul di hidupku. Namanya Hadi, ia adalah manager yang baru saja dipindahkan dari kantor cabang ke kantor pusat, yang artinya kini kami menjadi teman sekantor.

Hadi seorang pria yang matang dan mapan dalam kedewasaan. Ketika mendekatiku, ia terang-terangan mengatakan bahwa sedang mencari pendamping hidup. Menurutnya, akulah orang yang tepat. Kuakui, cara pendekatannya sangat elegan. Kematangan dan kewibawaannya terpancar nyata.

Seminggu yang lalu akhirnya aku menerima pernyataan cintanya. Aku luluh karena keseriusannya. Meski di lubuk hati terdalam mungkin dia bisa menjadi pelarian jika sewaktu-waktu aku memikirkan William.

"Iya. Nanti malam jangan lupa jemput aku ya, sayang."

Begitulah balas pesanku. Akhir pekan ini akhirnya bisa kulalui sambil menikmati santapan ala Jepang. Hadi mem-booking tempat di resto dari negeri sakura itu yang selalu ramai dan waiting list. Tanpa berlama-lama, aku langsung berdandan dan menata diri.

Sorenya Hadi menjemputku dan kami berangkat menuju restoran tersebut. Saat masuk ke dalamnya, aku dikejutkan dengan sosok yang profilnya sangat kukenal. Dengan kaus long sleeve dan celana jeans, serta boots yang dikenakannya, ia menjadi pria yang mencuri pandangan. Kulihat rambutnya sedikit cepak, mungkin beberapa waktu lalu dia habis mencukur rambut.

William. Ia duduk sendiri sambil melamun. Dan aku berharap ia tidak melihatku.

***

Gue mendengar kabar dari Cindy kalau Ariana kini sudah punya kekasih. Katanya, pacar Ariana adalah manager yang baru saja dipindahkan ke kantornya. Baguslah buat dia, akhirnya Ariana mendapatkan pria yang matang dan mapan.

"Jadi lu nggak sedih ditinggal Ana?" tanya Nathan ketika geng kami meet up di sebuah kafe.

"Kenapa harus sedih? Lagian gue sama dia nggak ada hubungan apa-apa," jawab gue santai.

"Jadi puasa cintanya lanjut donk,"  Tania mencoba menggoda.

"Begitulah."

"Sabar ya pak. Ini ujian," Cindy menimpali.

"Hahaha.. jangan lupa lu punya andil ya. Yang ngenalin elu, yang bikin pisah juga gara-gara elu," canda gue.

"Duh, iya deh.. iya.. gue mah salah melulu," jawab Cindy yang ditimpali gelak tawa kami.

"Tapi gimana kalau nanti lu ketemu Ana?" Leo menginterogasi.

"Ketemu sih udah pasti. Nanti pas resepsi. Dia jadi mempelai, gue jadi tamu."

"Ya elah, pede amat. Kayak diundang aja lu ama dia," semprot Ronal yang membuat kami kembali tertawa.

Entah karma atau doa, obrolan ngalor ngidul itu menjadi kenyataan. Esok harinya gue benar-benar bertemu dengan Ariana dan kekasihnya. Jujur saja gue sempat berpikir, apakah dia memang benar-benar cinta sama gue. Secepat itukah dia menemukan pengganti orang yang katanya amat dicintainya.

Tapi gue membuang jauh pikiran itu. Bukankah gue yang memintanya untuk melanjutkan hidup. Dari jauh gue lihat Ana datang mendekat. Lucu juga, kami akhirnya bertemu lagi di sebuah restoran. Tepat seperti saat kami pertama bertemu

Sepertinya ia tidak melihat gue, dan gue juga ragu untuk menyapanya. Namun ada satu titik dimana kami akhirnya bertemu pandang.

"Hai Ariana.." kata gue melambaikan tangan.

"Eh, Willy. Kebetulan banget ketemu disini. Oh iya, kenalin ini pacar aku," tanpa ba-bi-bu Ana langsung pamer pacarnya.

"Hadi."

Begitulah jawab pria itu sambil menjabat tangan gue dengan mantap. Aura kedewasaan terpancar dari dirinya. Dia memang orang yang tepat untuk Ariana. Dan gue hanya bisa berdoa untuk kebahagiaannya.

***

Sosok itu kembali mengintimidasiku. Pikiranku seperti dipenuhi oleh kaset-kaset memori yang terputar kembali. Senyumnya, tawanya, tatapan matanya. Semua tentang William muncul dalam benakku secara bersamaan dan bertubi-tubi.

Aku mencoba sebisa mungkin menghindarinya. Aku mencoba memalingkan muka. Tapi semua itu sia-sia. Mungkin ini yang dinamakan takdir. Kedua mata kami beradu dan bertemu. Sejurus kemudian kata sapaan yang keluar dari bibirnya meruntuhkan tembok pertahananku.

Aku mencoba membangun kembali benteng pertahanan dari sisa-sisa kerapuhanku. Kepadanya kekenalkan sosok yang kini telah mengisi hatiku. Meski sejujurnya pada detik ini ia telah terbuang dari hatiku yang kini dipenuhi oleh sosok lain yang sedang menjabat tangannya.

Aku mencoba mengendalikan diri dan keluar dari situasi ini. Tuhan, tolong aku. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang mendekat ke arah kami. Dia seperti bingung melihat kami bertiga. Wajahnya cukup manis dengan poni di rambutnya. Dress serta flat shoes yang dikenakan membuatnya makin feminin.

Kebingungan ini akhirnya dipecahkan oleh pria yang suaranya sangat kukenali, yang melingkari pinggang wanita manis itu dengan lengannya.

"Oh iya. Ariana, Hadi, kenalin ini Mey, pacar gue."

Aku tercekat seketika.

Komentar

  1. Entah mengapa ku kesal dengan william. 😑😑 cewek baperan. Kwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk. Kesel sama William atau Ariana?

      Hapus
  2. Kok, kesannya Will jadi membenarkan perkataan mantan calon mertuanya tentang anak laki-laki dari keluarga broken home, ya?

    www.CeritaMaria.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung dari sudut pandang mana pembaca menilainya, kak 😊

      Hapus
  3. Suka ceritanya, yang memikat kadang memang sudah terikat #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang memikat itulah yang memunculkan fenomena pelakor dan pebinor #eh

      Hapus
  4. Ini berdasarkan pengalaman pribadi bukan sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini adalah cerpen yang ditulis dalam sebuah fiksi. Namun tak disangkal, ceritanya memang banyak terinspirasi dari yang penulis lihat, dengar dan rasakan di sekelilingnya.

      Hapus
  5. Huwaaaa endingnya malah jalan masing-masing
    Mengingatkan aku pada sesuatu
    Bapeeer maksimaaaaal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. Ceritanya bikin baper ya 😁😁

      Hapus
  6. Olala, ternyata dapat gantinya juga...
    Berliku2 tapi merasa ujungnya bakal gitu. Eh, tebakan nya meleset ternyata. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memangnya Mbak Okti mikir endingnya kaya gmn? 😁

      Hapus
  7. Duh, ini kok kayak real banget ya, jangan2 based on true story ni, haha *kepo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih tepatnya ceritanya banyak diadaptasi dari kisah-kisah yang sering terjadi di kehidupan percintaan anak muda..

      Hapus
  8. Ini cerita dari sudut pandang Ariana dan William, ya. Saya baru sadar setelah lihat perbedaan warna tulisannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, biar pembaca bisa melihat dari sudut pandang kedua tokoh utama. 😊

      Hapus
  9. Rasanya aku ikut ada dalam cerita ini, hanya saja silent aja gak d.ajak ngomong..haha

    Aku kira puasa cinta lagi ya..hehe
    Ternyata udah dapet pengganti :)

    Eh, bener kan gitu?

    Sepertinya memang ini banyak dari kejadian sehari-hari ya, terlebih kisah-kisan anak muda gitu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ceritanya memang banyak terjadi di kehidupan cinta anak muda 😊

      Hapus
  10. Awalnya sempat bingung, kok ceritanya kayak aneh, ternyata ceritanya dari 2 sudut pandang. Tapi keren kok... suka sama alurnya. Tapi endingnya, kenapa jadi kesel sama keduanya ya saya. Ana yang begitu cepat dapat ganti, trus willy ... hehmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak..
      Alur cerita memang dari sudut pandang kedua karakternya. Endingnya emang bikin gregetan ya.. 😂

      Hapus
  11. Wah verpennya bahus, jadi terbawa.larut .. Senang bs nulis cerpen
    Sy gak pernah bikin sampai susia ini hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba bikin aj mbak. Karena ini pun adalah cerpen pertama saya. 😁

      Hapus
  12. Cerpennya bikin baper yaa suka banget

    BalasHapus
  13. wahh bisa banget nulis cerpen yang bikin baper begini... Ku jadi terhanyut.

    BalasHapus
  14. Endingnya bikin bapeerrr...
    Wes lha moga2 emang jodoh masing2 yg terbaik hehe. Diunggu sambungannya, kali masih ada sambungan ntr gmn2 :D

    BalasHapus
  15. Sempat bingung bacanya karena"gue" di artikel ini ternyata adalah William dan Ariana.
    Ada kata jancok, Surabaya banget nih hehehe...

    BalasHapus
  16. Cerita dari sudut pandang William & Ariana sukses membuat saya baper, hehee. Bikin lanjutannya dong kak Den, ditunggu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Perjalanan Menuju Pagi

Gelap gulita menyergap, namun tak menyurutkan kaki untuk melangkah..

Ribuan derap langkah kaki merayap dalam sendu, sebagian terantuk sebagian tertatih..

Cahaya kecil menerangi jalan, dengan keringat yang terhapus dinginnya pagi..

Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, tak ada kata untuk mundur..

Dari balik daun, semburat jingga terbangun dari tidur lelapnya..

Sedikit lagi..

Sedikit lagi..

Hanya tinggal beberapa tapak langkah kaki lagi..

Di atas sana, kaki-kaki yang sudah lelah melangkah beristirahat..

Menunggu..

Menunggu..

Dan menunggu..

Cahaya keemasan itu akhirnya muncul, membayar lelah ribuan pasang mata yang menantinya..

Sebagian terdiam..

Sebagian terkejut..

Sebagian bersikap tak acuh dan menyibukkan diri..

Tak ada yang lebih indah daripada melihat anugerah Tuhan, ciptaanNya yang sempurna..

Yang menandakan, hari ini adalah hari baru, semangat baru dan harapan baru..

Lupakan yang telah berlalu, mari songsong hari baru dengan senyuman..

Selamat pagi dunia..

Ayo, Kurangi Penggunaan Plastik!

Beberapa waktu lalu ramai di media sosial mengenai sampah plastik yang ditemukan dalam perut ikan. Ada pula biota laut yang habitatnya tercemar plastik sehingga mengiranya sebagai makanan. Atau cerita plastik kemasan makanan instan yang ditemukan masih utuh meski sudah lebih dari dua dekade terombang-ambing dan mengapung di laut.

Permasalahan sampah plastik sudah menjadi masalah internasional. Banyak negara yang mengupayakan berbagai cara untuk menekan angka jumlah sampah plastik. Salah satunya dengan memproduksi plastik ramah lingkungan yang mudah hancur dalam waktu relatif singkat. Selain itu, juga dengan cara meminimalisir penggunaan plastik.

Sebagai wujud cinta terhadap bumi yang kita pijak dan hirup udaranya ini, sudah sepatutnya kita berperan serta dalam upaya menekan jumlah sampah plastik. Bukankah banyaknya sampah plastik juga akibat perbuatan manusia. Karena itulah kita bisa turut aktif dalam kampanye minimalisir penggunaan plastik, yaitu dengan cara:


1. Mengganti plastik de…