Langsung ke konten utama

Fintech Pinjol, Pahami Risiko dan Kemudahannya


Belakangan ini sedang marak kasus pinjol (pinjaman online) dimana para nasabah yang kreditnya macet mendapat perlakuan tidak menyenangkan bahkan ancaman dari penagih. Korban-korban pinjol pun berjatuhan, karena bunga yang tinggi serta batas waktu pinjaman yang pendek.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) mencatat, ada 283 laporan dari para korban fintech nakal dan ilegal, dengan pelanggaran hukum dan HAM sejak Mei 2018. Pelanggaran tersebut mulai dari penyadapan data pribadi, mempermalukan nasabah di media sosial serta orang-orang yang dikenalnya, bahkan ada yang disuruh menari telanjang atau diancam pembunuhan.

Maraknya kasus-kasus pinjol terjadi karena kurangnya edukasi mengenai kemudahan dan risiko dari meminjam uang secara online. Kasus pinjol juga tak terlepas dari tingginya kebutuhan masyarakat akan pinjam uang sehingga dimanfaatkan oleh rentenir atau lintah darat yang kini merambah dunia daring.


Apa itu Pinjol?

Kita sering mendengar pinjol atau pinjaman online, namun kita tidak menyadari bahwa pinjol adalah salah satu financial technology (fintech) dengan prinsip Peer to Peer (P2P) lending. Pada dasarnya fintech adalah layanan jasa keuangan lewat teknologi digital. Fintech juga bukan hanya pinjol karena masih ada layanan lain seperti payment, perbankan, pasar modal, asuransi, dll.

Metode pembayaran cashless dan cardless yang kini sedang booming juga adalah bagian dari fintech. Sementara pinjol adalah fintech lending untuk pendanaan yang menghubungkan lender (pemberi dana) dan borrower (penerima dana) melalui aplikasi pihak ketiga (perusahaan fintech/jasa penyedia P2P lending).


Menyikapi maraknya dan berkembangnya perusahaan fintech, maka diselenggarakan sosialisasi dan edukasi mengenai fintech P2P lending dalam acara Ngobrol@Tempo dengan tema "Sosialisasi program Fintech Peer to Peer Lending: Kemudahan dan Risiko untuk Konsumen" di Beka Resto, Balai Kartini, Jakarta Selatan, Jumat (23/11/2018).

Acara ini diprakasai oleh Tempo Media Group dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta didukung salah satu jasa penyedia P2P Lending, Pinjam Gampang. Dikelola oleh PT Kredit Plus Teknologi, Pinjam Gampang telah terdaftar di OJK per 13 April 2018.

Dalam acara tersebut, turut hadir sebagai narasumber Hendrikus Passagi, Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK, Zulfitra Agusta, Chief Commercial Officer CROWDO Indonesia, Surya Wijaya, Chief Information Officer KlikAcc, dan Tumbur Pardede, Ketua Bidang Institusional dan Public Relation Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). Diskusi ini juga dimoderatori oleh Elik Susanto, Redaktur Eksekutif Tempo.co.

Menurut Hendrikus, layanan jasa keuangan P2P Lending termasuk dalam model pinjaman untuk konsumen yang berkebutuhan khusus.

“P2P Lending ini modelnya pinjaman cepat untuk kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi industri jasa keuangan kovensional,” ujarnya.


Tak bisa dipungkiri, munculnya fintech P2P lending telah memangkas waktu dan keribetan dalam pengajuan dan pencairan pinjaman. P2P lending juga memutus batas-batas tradisional proses pinjam-meminjam uang, cara-cara konvensional dalam pengajuan hingga pencairan pinjaman.

Proses yang ribet dan bertele-tele tidak ditemui lagi. Hanya dengan bermodalkan smartphone dan data-data yang diperlukan, pengajuan dan pencairan pinjaman bisa dilakukan dalam waktu relatif singkat.

Sayangnya kemudahan-kemudahan inilah yang menjadi celah bagi fintech nakal dan ilegal dalam menjerat nasabahnya dalam utang dengan suku bunga yang tinggi. Hendrikus menambahkan, perusahaan fintech P2P lending tumbuh sangat pesat di Indonesia, namun yang legal dan terdaftar di OJK baru 73.



“Saat ini diindikasikan ada 400-an penyedia jasa fintech ilegal. Bagi masyarakat, pilih Fintech P2P Lending yang sudah terdaftar di OJK. Daftar lengkapnya ada di website www.ojk.go.id. Jangan pakai yang ilegal karena akan menyulitkan dan bisa kejadian seperti kasus yang ramai baru-baru ini,” kata Hendrikus.

“Fintech lending illegal selalu berupaya menghindari pendaftaran di OJK sebab mereka memang sejak awal tidak ingin transparan bahkan berupaya menyamarkan identitas pemilik dan pengelola serta alamat kantor di Indonesia,” tambahnya.

Senada dengan Hendrikus, Tumbur Pardede juga mengungkapkan pentingnya untuk masyarakat bisa membedakan fintech legal dan ilegal. Masyarakat diharapkan cermat dalam memilih dan menggunakan jasa Fintech P2P Lending. Pilihan yang legal dan terdaftar di OJK risikonya lebih kecil dan bisa dilaporkan bila bermasalah.

“Semua anggota AFPI terdaftar dan mendapat ijin beroperasi dari OJK,” katanya.

Zulfitra Agusta menambahkan, akses pendanaan yang mudah dan cepat dengan fintech P2P lending akan mengakselerasi pertumbuhan usaha, mikro, kecil dan menengah (UMKM). Sementara, Surya Wijaya menjelaskan bila perusahaan fintech P2P lending perlu melakukan edukasi dan pendampingan finansial kepada borrower supaya pendanaan tepat guna dan tidak terjadi kredit macet.


Bijak menggunakan fintech P2P lending

Kemajuan teknologi memang membawa berbagai kemudahan, contohnya dalam sektor keuangan. Munculnya fintech P2P lending juga telah memangkas waktu dan keribetan dalam pengajuan dan pencairan pinjaman.

Namun berbagai kemudahan ini haruslah dimanfaatkan dengan bijak, khususnya bagi para lender maupun borower. Adapun tips-tips dalam memilih fintech P2P lending adalah sebagai berikut:

  1. Cek penyelanggara atau jasa penyedia P2P lending. Baik lender maupun borrower bisa mengecek legalitas perusahaan fintech tersebut. Apakah sudah terdaftar di OJK atau ilegal.
  2. Baca dan cermati syarat dan ketentuan. Lender dan borrower wajib mencermati isi dari perjanjian P2P lending. Jangan sampai merugikan di kemudian hari.
  3. Pinjamlah sesuai kebutuhan serta cermati kemampuan membayar. Bagi borrower (peminjam), pastikan bahwa pinjaman tersebut bersifat produktif, bukan konsumtif. Kemampuan membayar juga wajib dicermati, jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang dan akhirnya terjerat pinjol.
  4. Bandingkan dengan penyelanggara lain, baik dalam benefit maupun syarat-syarat serta kemudahan untuk menjadi lender atau borrower. 


Selain bisa dimanfaatkan sebagai sumber pendanaan bagi borrower, fintech P2P lending juga bisa menjadi sarana investasi bagi lender. Sosialisasi dan edukasi tentang fintech akan memudahkan masyarakat mengenal lebih dekat industri fintech dari segi regulasi, kemudahan bisnis, kode etik pelaku usaha fintech, dan lain-lain.

Harapannya, semoga tercipta industri fintech yang sehat dan perlindungan terhadap konsumen. Dan tak lupa menggugah masyarakat  untuk menyadari kemudahan dan risiko penggunaan layanan fintech lending.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Semangkuk Soto, Segelas Anggur dan Peragaan Busana

Beberapa waktu lalu Kementerian Pariwisata telah menetapkan lima makanan yang menjadi kuliner nusantara. Selain menjadi ikon kuliner, makanan-makanan tersebut juga menjadi salah satu media promosi untuk memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Menariknya, Rendang yang saya kira berada di urutan pertama, ternyata ada di posisi kedua. Nomor satu yang menjadi ikon kuliner Indonesia adalah SOTO.
Mengapa soto bisa jadi nomor satu, dibandingkan rendang yang sudah mendunia (apalagi ketika dinyanyikan oleh Bule yang jatuh cinta pada masakan khas Minang itu). Jawabannya adalah selain merupakan kuliner asli Indonesia, soto mudah ditemukan di dimana-mana, bahkan setiap daerah punya ciri khas soto masing-masing. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan atau Soto Banjar dengan bumbu, rempah serta kearifan lokal dari kota asalnya.
Selaras dengan momen tersebut, Summarecon Mal Kelapa Gading bersama Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarak…