Langsung ke konten utama

The Coffee Shop


Pagi itu aku duduk terdiam di sudut ruangan. Secangkir macchiato menjadi temanku sebelum bersiap mengawali hari yang penat. Menikmati secangkir kopi di coffee shop menjadi semacam ritual bagiku, dan ini bukan sekedar hobi atau adiksi terhadap kopi.

Lonceng di atas pintu masuk berbunyi. Tanda ada pelanggan yang datang. Ah, itu dia. Dialah seseorang yang membuatku rela menghabiskan waktu berjam-jam di tempat ini. Gadis berambut pendek itu menghampiri barista. Senyum manisnya mengembang kala memesan kopi favoritnya.

Espresso atau mocaccino? Kali ini dia memesan mocaccino. Gadis itu kemudian duduk di salah satu meja. Tak lama ia mengeluarkan majalah dari tasnya. Menarik. Di tengah maraknya penggunaan gawai, ia masih tetap setia menikmati sajian berita hangat dalam lembaran kertas dan ditemani secangkir kopi panas.

Penampilannya yang sangat chic ditambah make up natural di wajah, namun dengan selera yang tradisional membuatnya menjadi pribadi yang menarik. Pagi itu dia hanya menghabiskan waktu 15 menit di coffee shop. Tak lama berselang ia beranjak dan hilang dari pandangan.

***

"Satu affogato."

Gadis itu kembali muncul di coffee shop favoritnya, atau tepatnya favoritku juga. Cuaca panas memang membuat siapapun ingin menyantap kudapan dingin. Secangkir affogato berisi es krim vanilla dengan lelehan espresso shot menjadi pilihan gadis yang beberapa minggu terakhir ini mencuri perhatianku.


Mengapa aku tahu dia memesan affogato. Karena kami duduk bersama di meja bar panjang. Jarak kami hanya dibatasi oleh satu bangku. Jarak "terdekat" selama aku memperhatikannya diam-diam.

Kali ini dia memakai kacamata dengan frame bulat yang membuat wajahnya jadi kian bundar. Sambil membaca buku yang sejak beberapa hari lalu menjadi teman ngopinya yang baru, kuperhatikan wajahnya saat serius membaca terlihat sangat manis.

Brukk!

Tanpa sengaja aku menjatuhkan tas kecilku. Tepat di samping gadis manis itu. Buru-buru aku mengambilnya sambil mengucapkan maaf. Bodoh sekali. Untuk apa aku meminta maaf, karena sebenarnya aku tidak melakukan kesalahan apapun.

Gadis itu hanya menatapku, kemudian pandangannya kembali beralih ke lembaran buku dan suapan affogato miliknya. Kuhirup dan kuhabiskan latte milikku dan beranjak pergi. Entahlah. Biasanya aku yang melihatnya pergi keluar dari coffee shop. Kali ini justru aku yang ingin pergi.

***

"Jadi kamu mau putus??? Oke, kalau itu memang mau kamu!!"

Suara itu sedikit memekakkan telinga. Untunglah pengunjung sedang tidak terlalu ramai.. Namun suasana sepi itulah yang membuat kita bisa mendengar suara sekecil apapun, bahkan suara tikus yang mencicit.

Sejauh mataku memandang, kulihat gadis itu meutup teleponnya dengan kesal lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Ah, cinta. Satu kata yang bisa membuat hati gembira atau merana. Permasalahan cinta memang tak ada habisnya. Gadis itu sedang mengalami masalah pelik perihal asmaranya. Sesuatu yang tiap orang pasti pernah mengalaminya.

***

Sudah seminggu lebih gadis manis itu tak pernah datang lagi ke coffee shop. Tak ada senyum manisnya lagi kala ia memesan secangkis espresso. Tak ada tatapan mata serius nan menenangkan kala ia membaca buku atau majalah sambil menyeruput kopi.

Derap langkah itu kemudian kukenali. Thank God, ia muncul lagi. Kali ini ia memesan secangkir americano. Ada yang berbeda dari dirinya. Wajahnya terlihat lebih fresh dengan potongan rambut barunya yang mirip Demi Moore dalam film Ghost.

Kulihat bartender sedikit menggodanya. Penampilan barunya memang berbeda dengan sebelumnya. Selain itu kini ia lebih menyukai oufit seperti jeans belel, kaus oblong dan sepatu kets. Apakah patah hati membuat seseorang berubah? Contoh sederhananya berubah dari segi penampilan. Bisa ya, bisa juga tidak.

Sudah tiga hari ia datang dengan penampilan yang nyaris serupa, namun bagiku itu tak membuat pesonanya pudar. Sesekali ia duduk di meja bar dan ngobrol dengan barista. Kebiasaan membaca buku sambil ditemani kopi sudah berkurang. Kini, ia lebih sering bermain dengan gawainya.

Keesokkannya aku kembali duduk berdekatan dengannya, hanya dibatasi oleh satu bangku. Tepat seperti ketika aku menjatuhkan tasku dengan bodohnya beberapa waktu lalu. Ia tak melihatku. Tentu saja. Untuk apa dia memperhatikanku.


Segelas latte diletakkan di antara kedua sikunya yang sedang menopang tangan yang sibuk bermain gawai. Lucu sekali, ternyata kami memesan minuman yang sama.

"Latte-nya hari ini enak ya."

Terkejut. Tiba-tiba aku mendengar suara gadis itu tepat di sebelahku. Siapa yang ia ajak bicara? Ketika menoleh, kulihat ia sedang melihat ke arahku. Bingung dan canggung, aku berusaha menjawab pertanyaannya tanpa terlihat grogi.

"Iya, enak sekali," jawabku pelan. Gadis itu pun tertawa.

"Hahahha. Kamu kan setiap hari menghabiskan waktu disini. Aku pikir kamu bisa merasakan perubahan rasa kopi dari waktu ke waktu meski kopi yang dipesan sama."

Tawa renyahnya membuatku tersenyum. Sambil tersipu aku menjawab kalau semua itu tergantung bagaimana komposisi espresso dan susu dalam secangkir latte. Pembicaraan tentang kopi berlanjut. Ditambah rasa kagetku karena selama ini ia menyadari keberadaanku di coffee shop ini.

Ia kembali berbicara. Terutama mengenai kebiasaan barunya yang lebih sering mengakses wattpad ketimbang buku. Lalu ia berujar bahwa kopi membangun mood dan imajinasinya dalam membaca. Aku hanya menjawab pertanyaannya sambil sesekali tertawa.


Tak berapa lama, senyum itu muncul. Senyum yang pertama kali melihatnya membuatku ingin mengahabiskan waktu berjam-jam di coffee shop ini demi memandangnya. Senyum yang selalu ingin kulihat di pagi hari sebelum memulai aktivitasku. Senyum yang seperti secangkir kopi yang menjadi candu bagiku.

"Aduh.. dari tadi kita ngobrol terus. Tapi belum tahu nama masing-masing ya," ujarnya.

Aku kembali tertawa. Kusodorkan tanganku dan kusebut namaku. Tatapan matanya yang hangat serta tangannya yang lembut menyambut tangan yang terbuka itu. Ia tersenyum.

"Emma."

Komentar

  1. Laki+laki kalau kepo mungkin seperti ilustrasi di atas, datang ke kafe cuma untuk bisa liat perempuan yang menarik hatinya hehehe...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Semangkuk Soto, Segelas Anggur dan Peragaan Busana

Beberapa waktu lalu Kementerian Pariwisata telah menetapkan lima makanan yang menjadi kuliner nusantara. Selain menjadi ikon kuliner, makanan-makanan tersebut juga menjadi salah satu media promosi untuk memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Menariknya, Rendang yang saya kira berada di urutan pertama, ternyata ada di posisi kedua. Nomor satu yang menjadi ikon kuliner Indonesia adalah SOTO.
Mengapa soto bisa jadi nomor satu, dibandingkan rendang yang sudah mendunia (apalagi ketika dinyanyikan oleh Bule yang jatuh cinta pada masakan khas Minang itu). Jawabannya adalah selain merupakan kuliner asli Indonesia, soto mudah ditemukan di dimana-mana, bahkan setiap daerah punya ciri khas soto masing-masing. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan atau Soto Banjar dengan bumbu, rempah serta kearifan lokal dari kota asalnya.
Selaras dengan momen tersebut, Summarecon Mal Kelapa Gading bersama Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarak…