Langsung ke konten utama

"ARV", Harapan Baru Untuk ODHA


"Dimana ada kemauan, di situ ada jalan. Dimana ada obat, di situ ada jalan untuk hidup sehat dan mencapai cita-cita dalam hidup."

Apa yang ada di benak kalian jika bertemu dengan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS)? Rasa iba, simpati dan sedikit takut biasanya muncul kala berpapasan dengan mereka. Namun bagaimana jika kalian bertemu dengan orang yang mengidap HIV selama bertahun-tahun tapi masih tetap hidup? Satu kata untuk menggambarkannya, TAKJUB!

Rasa takjub itulah yang saya rasakan ketika bertemu ODHA yang memberikan testimoni dalam acara diskusi "Kebijakan dan Strategi Pencegahan dan Pengendalian HIV AIDS dan PIMS" yang diselenggarakan di gedung Kementerian Kesehatan, Rabu (5/12/2018) silam.

Ibu Neneng Yuliani adalah salah satu orang dengan HIV yang masih tetap produktif bahkan berprestasi. Beliau menceritakan pertama kali tertular HIV oleh suaminya pada 2003 silam. Artinya sudah 15 tahun ia "tetap"  hidup! Bahkan setelah kematian suaminya satu tahun kemudian lalu menikah lagi dengan sesama pengidap HIV, Ibu Yuli memiliki tiga anak dengan status negatif HIV. LUAR BIASA!


Salah Kaprah HIV dan AIDS


Banyak orang bertanya-tanya, bagaimana mungkin pengidap HIV AIDS dapat bertahan hidup. Jawabannya sederhana, karena masih ada salah kaprah mengenai HIV dan AIDS. HIV (Human Immunodeiciency Virus) adalah virus yang menyerang sistem pertahanan tubuh. Sementara AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit yang muncul akibat semakin lemahnya kekebalan tubuh.

Contohnya, ODHA 30 kali lebih besar berisiko dan rentan terhadap penyakit seperti tuberkulosis (TBC), pneunomia pneumocystis (PCP), toksoplasma dan kriptokolus. Ditambah lebih dari 25% penyebab kematian pada ODHA disebabkan oleh TBC.

HIV juga bukanlah penyakit. Seseorang yang hidup dengan HIV, artinya di dalam tubuhnya ada virus HIV. Terinfeksi HIV bukan berarti telah jatuh sakit, menjadi AIDS atau sekarat. Orang dengan HIV masih terlihat sehat seperti orang lain.


Akan tetapi jika pengobatan tidak segera dimulai, kekebalan tubuh akan menurun dan bisa mengalami tahap AIDS dalam kurun 5-10 tahun sejak terinfeksi HIV. Lantas bagaimana cara agar orang dengan HIV masih bisa terus melanjutkan hidup?

HIV Ada Obatnya


Kabar gembira bagi ODHA. Sesungguhnya HIV ada obatnya, yaitu Antiretroviral (ARV) yang membuat ODHA bisa tetap hidup sehat, beraktivitas rutin, dan mencapai cita-cita hidupnya. Dengan demikian, hidup sehat dan berkualitas kini bukan hanya mimpi.

Cara kerja ARV adalah seperti pasukan pertahanan yang menekan jumlah virus HIV dan menjaga kekebalan tubuh sehingga orang dengan HIV bisa terhindar dari berbagai penyakit. ARV harus diminum setiap hari karena berhenti minum ARV artinya membuat jumlah virus kembali berkembang.

Ibu Neneng Yuliani adalah ODHA yang rutin mengonsumsi ARV sehingga masih bisa tetap hidup sehat, produktif dan berprestasi. Karena sejatinya HIV sama seperti penyakit kronis lain (diabetes, penyakit jantung, darah tinggi) yang harus minum obat setiap hari dan seumur hidup agar tetal sehat.


ARV bisa memperpanjang masa sehat orang dengan HIV agar tidak jatuh ke kondisi AIDS. Apalagi ARV tersedia GRATIS untuk semua ODHA di Indonesia. Jadi, tak ada yang tak mungkin selama disiplin minum ARV.

Manfaat Pengobatan ARV


Ketika seseorang didiagnosis positif HIV, itu bukanlah akhir segalanya melainkan awal baru untuk mengenali HIV dan cara mengobatinya. Dengan pengobatan ARV, ODHA tetap bisa menikmati hidupnya dengan beragam manfaat seperti:

1. Merasa SEHAT


Displin minum ARV setiap hari akan membuat seseorang tidak mudah sakit dan akan tetap sehat sehingga bisa melakukan aktivitas seperti biasa.

2. Menghambat perkembangan virus HIV


Setiap hari, virus HIV dalam darah akan bertambah jumlahnya. Konsumsi ARV secara teratur dapat menghambat virus di dalam darah untuk berkembang dan akan berkurang dalam jumlah yang tidak dapat terdeteksi.

3. Meningkatkan jumlah sel CD4


CD4 adalah sel dalam sistem kekebalan tubuh yang melawan infeksi. Pada ODHA, infeksi HIV menyebabkan jumlah CD4 menurun. Namun dengan ARV, jumlah CD4 akan meningkat lagi sehingga tubuh mempunyai pertahanan terhadap penyakit.

4. Mencegah penularan


Jumlah virus dalam tubuh akan menurun jika rutin minum ARV. Jika jumal virus (virus load) tidak terdeteksi, maka ODHA dapat merencanakan kehamilan agar dapat melahirkan bayi tanpa HIV serta dapat hidup dengan nyaman tanpa kekhawatiran menularkan pada orang lain.


Lalu bagaimana jika sudah mulai minum ARV? Rasa bosan dan jenuh pasti ada, namun ingatlah selalu untuk:

  • Tetap disiplin minum obat sesuai dosis dan waktu.
  • Jangan tergoda mencoba terapi dan pengobatan alternatif yang tidak terbukti secara medis.
  • Lawanlah rasa bosan menjalani pengobatan HRV.
  • Rutin berolahraga.
  • Tetap berpegang pada tujuan hidup.


ARV bukan hanya memperpanjang masa sehat bagi orang dengan HIV, tetapi juga memberikan harapan baru untuk tetap hidup. Ingatlah bahwa ARV memberi peluang untuk mencapai tujuan hidup yang dicita-citakan.

HIV bukanlah akhir. Awali perjalanan barumu dengan ARV. Seperti kalimat pembuka tulisan ini, dimana ada kemauan di situ ada jalan. Ada Obat, Ada Jalan.

Komentar

  1. Yups BangDen, apapun kondisinya, terap harus semangat meningkatkan kualitas hidup.

    BalasHapus
  2. Terima kasih tulisannya, Bang Den! Menarik banget dan bisa membantu ODHA enggak dipandang sebelah mata oleh masyarakat kita.

    BalasHapus
  3. Salut sama Ibu Neneng dan teman-teman seperjuangannya. Apa pun kondisi kita dan bagaimana pun situaai yang kita alami, niat dan disiplin adalah kunci agar kita bisa tetap sintas.

    Thank you for sharing this useful info, Den.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Semangkuk Soto, Segelas Anggur dan Peragaan Busana

Beberapa waktu lalu Kementerian Pariwisata telah menetapkan lima makanan yang menjadi kuliner nusantara. Selain menjadi ikon kuliner, makanan-makanan tersebut juga menjadi salah satu media promosi untuk memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Menariknya, Rendang yang saya kira berada di urutan pertama, ternyata ada di posisi kedua. Nomor satu yang menjadi ikon kuliner Indonesia adalah SOTO.
Mengapa soto bisa jadi nomor satu, dibandingkan rendang yang sudah mendunia (apalagi ketika dinyanyikan oleh Bule yang jatuh cinta pada masakan khas Minang itu). Jawabannya adalah selain merupakan kuliner asli Indonesia, soto mudah ditemukan di dimana-mana, bahkan setiap daerah punya ciri khas soto masing-masing. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan atau Soto Banjar dengan bumbu, rempah serta kearifan lokal dari kota asalnya.
Selaras dengan momen tersebut, Summarecon Mal Kelapa Gading bersama Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarak…