Langsung ke konten utama

Yuk, Kenali dan Pelajari Manajemen Utang Produktif


Saya memiliki dua orang sahabat, sebut saja Albert dan Billy. Keduanya memiliki cerita menarik mengenai "financial lifestyle". Albert adalah penganut hedonisme akut. Di social media, dia sering update sedang makan di kafe dan resto kekinian, traveling ke tempat-tempat kece, dan tentunya dengan outfit yang sangat fashionable.

Di sisi lain, Billy hidupnya cenderung biasa-biasa saja. Selera fashionnya cukup bagus meski tak selalu branded. Terkadang dia makan di restoran mewah. Sesekali dia berlibur untuk melepas penat, meski bukan ke tempat wisata keren dan mahal.

Belakangan saya baru tahu kalau Albert sedang terlilit utang kartu kredit akibat kebiasannya yang sering menggesek kartu saat shopping, makan di resto, membeli tiket pesawat sampai booking hotel. Bahkan motor sportnya harus dijual dan kini berganti matic. Tak apalah, yang penting masih memiliki kendaraan.


Sementara itu, Billy tetap beraktivitas seperti biasa. Sekilas tak ada yang berubah dari dirinya, namun yang saya dengar ternyata dia sudah merambah bisnis startup (meski hanya pemodal) dan investasi properti. Dia sudah memiliki bangunan ruko sepetak dan apartemen yang keduanya disewakan untuk tempat tinggal dan tempat usaha.

Mari kita lupakan Albert sejenak. Rasa penasaran ini yang membuat saya bertanya pada Billy, bagaimana dia bisa memiliki bisnis dan investasi yang menguntungkan tersebut (sekedar informasi, baik Albert maupun Billy sama-sama bekerja di sebuah bank dengan gaji tak jauh berbeda). Alasannya cukup mengejutkan. Billy belajar bagaimana cara #CerdasDenganUangmu serta manajemen dan pengelolaan utang produktif!

Apa itu Utang Produktif?

Ketika mendengar kata utang atau hutang, apa yang pertama terlintas dalam benak Anda? Sejumlah uang yang membuat kita di bawah kuasa seseorang yang memberi pinjaman, cicilan dan bunga yang harus dibayarkan tiap waktu, menyimpan dan menggunakan uang yang bukan hak kita, mungkin itu adalah beberapa gambaran seseorang mengenai utang.

Akan tetapi, Billy mengajarkan pada saya bagaimana memandang utang dengan cara positif. Utang bisa jadi menguntungkan asal dikelola dengan baik dan ditujukan untuk keperluan produktif. Nah, inilah yang membedakan antara Billy dan Albert. Seperti kita tahu, Albert juga berutang dengan kartu kredit. Sayangnya ia menggunakan utang itu untuk keperluan konsumtif.


Lalu, dimanakah Billy berutang dan mengelolanya secara bijak? Billy bercerita bahwa dia memiliki tabungan yang cukup untuk membeli tanah atau properti. Dia mendengar kalau ada sepetak bangunan berupa ruko satu lantai yang hendak dijual. Hitung punya hitung, ternyata dananya kurang mencukupi untuk membayar secara tunai.

Dalam situasi tersebut biasanya seseorang akan mencari cara untuk mendapatkan dana segar, misalnya lewat Kredit Tanpa Agunan (KTA) dari bank. Namun Billy memiliki pemikiran lain. Alih-alih meminjam dan mengajukan KTA, Billy justru meminjam pada orangtuanya demi menambah kekurangan dana untuk membeli aset tersebut. Kebetulan, orangtuanya berasal dari kalangan cukup berada meski...


Meski berutang pada orangtua, Billy memiliki prinsip "Utang tetaplah utang". Ia membayar tepat waktu, menyimpan bukti pembayaran dan catatan utang. Dia juga selalu menjaga komunikasi dengan orangtuanya mengenai penggunaan utang tersebut karena menurutnya, biar bagaimanapun masalah uang sangatlah sensitif. Alasan Billy memilih berutang pada orangtua juga sederhana, karena tak ada bunga sepeserpun. Jadi tak ada lagi namanya bunga mencekik sehingga pembayaran menjadi macet.

Bagaimana cara Mengelola Utang Produktif dan #CerdasDenganUangmu dalam menggunakannya?
Dari hasil obrolan dengan Billy tersebut, saya memetik hikmah dan pelajaran yang bisa diterapkan bagi kalian yang ingin "untung dengan cara berutang", antara lain:

1. Berutanglah untuk keperluan produktif.

Kita tahu Albert terlilit utang karena ia berutang untuk keperluan konsumtifnya. Promo, cahback serta bunga 0% membuatnya tergoda untuk menggunakan kartu kredit secara khilaf. Dia seringkali shopping, membeli gadget terbaru sampai nongkrong di kafe dengan menggunakan kartu kredit. Ujung-ujungnya, dia kelimpungan sendiri saat tagihan datang dan utang menumpuk.


Bandingkan dengan Albert yang berutang untuk keperluan produktif seperti membeli aset. Dengan aset tersebut, utangnya menjadi menguntungkan karena memberikan return on investment (ROI) yang bisa digunakan dan dinikmati olehnya. Dan tahukah kalian, kalau Billy punya tips menggunakan investasi tersebut. Baca terus ya..

2. Tentukan instrumen investasi

Karena pada dasarnya ingin berinvestasi menggunakan utang, tentunya kita harus bijak dan pandai-pandai memilih instrumen investasi apa yang menguntungkan. Saya bertanya pada Billy, bagaiamana jika otangtuanya tidak memiliki dana untuk memberinya pinjaman. Ternyata dia sudah menghitung setiap kemungkinan yang akan terjadi.

Billy akan mengajukan KTA dan menentukan jenis investasi apa yang menguntungkan. Kebetulan, ia ingin berinvestasi properti yang pastinya memberi untung karena harga tanah yang cenderung naik, serta mendayagunakan properti tersebut untuk disewakan sebagai tempat usaha sehingga memberinya keuntungan ganda.

Pada investasi pertama (bila menggunakan utang), Billy tak menyarankan instrumen investasi yang sifatnya fluktuatif seperti saham, reksadana dan pasar modal. Jenis investasi lain yang disarankan dan memberikan keuntungan adalah emas yang harganya cukup stabil. Billy juga memiliki investasi emas, karena menurutnya..

3. Bayarlah utang sesuai kemampuan

Utang adalah utang. Ada hak orang lain di tangan kita, dan kita berkewajiban untuk membayar dan melunasinya. Bayarlah utang tersebut tepat waktu dan sesuai dengan kemampuan kita. Disarankan, maksimum pembayaran utang adalah 30% dari gaji atau pendapatan.

Billy bercerita, saat itu dia sama sekali tidak memiliki utang. Separuh dari gajinya disimpan dalam bentuk tabungan dan deposito. Saat berutang pada orangtuanya, barulah dia memiliki kewajiban untuk membayar utang. Dia pun membayarnya dengan 30% dari gajinya. Berhubung pekerjaannya cukup mapan serta mendapat promosi dan bonus dari kantornya, hanya dalam jangka 18 bulan, utang (pada orangtuanya) tersebut berhasil dilunasi. Luar biasa!

4. Mengelola keuntungan

Dari hasil penyewaan aset properti tersebut, Billy mendapatkan dana segar yang bisa digunakan sesuka hatinya. Namun ketimbang berfoya-foya, Billy menggunakan uang hasil sewa ruko tersebut untuk berinvestasi lagi. Dia tetap menggunakan prinsip manajemen keuangan seperti 30% membayar utang (melunasi utang pada orangtuanya), 40% keperluan konsumtif (dalam hal ini, konsumtif baginya adalah dengan membeli aset produktif), 10% untuk dana darurat, 15% tabungan dan 5% untuk amal/sedekah.

40% dari keuntungan tersebut dia gunakan untuk berinvestasi. Billy bercerita dirinya pernah berinvestasi pada sebuah bisnis kuliner dengan teman-temannya dengan sistem kongsi tapi gagal dan merugi. Namun itu semua menjadi pelajaran baginya. Dia kemudian ditawarkan menjadi investor sebuah startup yang sampai kini masih berjalan dan memiliki masa depan cerah.


Karena tidak memiliki tanggungan atau kewajiban membayar utang lagi, Billy kemudian mengajukan KTA dan membeli sebuah apartemen yang kembali disewakan sebagai tempat tinggal. Meski baru memasuki bulan keenam, Billy optimis investasinya cukup menguntungkan seperti ruko sepetak yang menjadi investasi pertamanya tersebut.

Dengan manajemen utang produktif, berutangpun menjadi menguntungkan. Kemerdekaan secara finansial bukan lagi sekedar impian baginya.


***

Itulah beberapa tips yang saya dapatkan dari kawan saya yang saat ini sedang menuju "financial freedom" yang diimpikan dan didambakan oleh setiap orang. Billy mengajarkan bagaimana memandang utang bukan sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan untuk berkembang. Sebagai tambahan, Billy punya gaya hidup hemat dan tidak boros, bahkan ketika asetnya berlimpah dia tetap hidup sewajarnya.

By the way, Albert juga sedang belajar bagaimana mengatur keuangannya yang carut marut. Meski awalnya dia mengalami stres dan depresi akibat utang menumpuk, sedikit demi sedikit dia berhasil membayar utang-utangnya dan menggunting semua kartu kredit miliknya.


Rencananya bila semua utang sudah lunas, dia akan berinvestasi kecil-kecilan seperti reksa dana, saham dan deposito. Yah, tak pernah ada kata terlambat untuk memulai dan belajar.

Jadi, untuk teman-teman yang ingin berinvestasi tapi tak memiliki dana. Tak ada salahnya bila berinvestasi dengan bermodalkan utang. Jangan lupa, kenali untung-rugi berinvestasi atau memulai bisnis dengan utang. Jangan sampai kalian bukannya untung tapi malah buntung karena utang. Yuk, #CerdasDenganUangmu dan pergunakan pundi-pundi yang kita miliki secara smart demi memperoleh kebebasan finansial.


Komentar

  1. Ini utang yang bener, berhutang untuk bisa menghasilkan, bukan sekadar dihabiskan.

    BalasHapus
  2. Wah jadi tercerahkan kak... intinya berhutang sah sah aja ya asal sudah diperhitungkan dgn matang dan utk keperluan yg produktif.

    BalasHapus
  3. Utang yang produktif should be in my new year resolution... Semoga ga cuma jadi resolusi belaka 😂😂😂

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Semangkuk Soto, Segelas Anggur dan Peragaan Busana

Beberapa waktu lalu Kementerian Pariwisata telah menetapkan lima makanan yang menjadi kuliner nusantara. Selain menjadi ikon kuliner, makanan-makanan tersebut juga menjadi salah satu media promosi untuk memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Menariknya, Rendang yang saya kira berada di urutan pertama, ternyata ada di posisi kedua. Nomor satu yang menjadi ikon kuliner Indonesia adalah SOTO.
Mengapa soto bisa jadi nomor satu, dibandingkan rendang yang sudah mendunia (apalagi ketika dinyanyikan oleh Bule yang jatuh cinta pada masakan khas Minang itu). Jawabannya adalah selain merupakan kuliner asli Indonesia, soto mudah ditemukan di dimana-mana, bahkan setiap daerah punya ciri khas soto masing-masing. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan atau Soto Banjar dengan bumbu, rempah serta kearifan lokal dari kota asalnya.
Selaras dengan momen tersebut, Summarecon Mal Kelapa Gading bersama Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarak…