Langsung ke konten utama

Kenali Demam Berdarah Dengue dan Pencegahannya


"If you think you're too small to make a differences, try sleeping with mosquito in the room." (Dalai Lama)

Sebuah kutipan dari Dalai Lama ini sebenarnya berbicara tentang seberapa kecilnya kita di dunia, kita bisa memberikan pengaruh yang besar. Namun mari lihat dari sudut pandang lain, dalam konteks seekor nyamuk. Satu ekor nyamuk saja ternyata bisa mengganggu manusia dengan gigitannya. Apalagi jika gigitan itu bukan sekedar bentol atau gatal-gatal, tetapi mengandung virus yang berbahaya.

Berbicara mengenai gigitan nyamuk, kita tahu bahwa serangga kecil satu ini ternyata menyimpan virus mematikan. Salah satunya virus dengue yang menjadi sumber penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus (nyamuk kebun). Nyamuk ini menyebarkan virus dengue dalam darah dan menyebabkan trombosit dalam tubuh turun drastis.

Gejala DBD biasanya meliputi: demam tinggi, kelelahan, pendarahan seperti mimisan atau gusi berdarah, sakit kepala, tangan dan kaki menjadi dingin dan lemas, nyeri pada otot dan ulu hati, sakit perut, nafsu makan menurun hingga mual dan muntah. Pada anak kecil, DBD biasanya tidak begitu terlihat. Awalnya hanya demam, lemas, dan nafsu makan berkurang. Namun, jika keadaan anak tidak membaik dalam 3 hari, segera periksa ke dokter.

Kenali Demam Berdarah Dengue (DBD)

Pada Kamis silam (7/2/2019), Kementerian Kesehatan menyelenggarakan acara Meet Up Healthies dengan tema "DBD Bikin Baper" di Kantorkuu Coworking & Office Space di Agro Plaza Kuningan, Jakarta Selatan. Acara ini dihadiri oleh dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, dr. Gia Pratama dan juga Ibu Nila F. Moeloek, Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Diskusi ini mengundang para blogger untuk mencari tahu apa saja yang harus dilakukan saat DBD menyerang, apa langkah pencegahannya dan kemana kita saat terjangkit penyakit DBD. Di awal, kita diberikan data mengejutkan. Tercatat di awal tahun ini hingga 29 Januari 2019, ada kurang lebih 13.683 penderita DBD di 34 provinsi dan 132 di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Angka ini meningkat drastis karena tahun lalu tercatat kurang lebih 6.167 penderita dan yang meninggal dunia hanya 43.



Fenomena kasus DBD yang terus bertambah menyadarkan kita untuk bukan hanya menghindari gigitan nyamuk saja, tetapi juga harus memberantas sarang nyamuk. Lalu, dimana saja tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk? Dimana tempat mereka bertelur dan berkembang biak?

Tanpa kita sadari, ada banyak tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk bila terdapat genangan air. Tempat potensial yang menjadi sarang nyamuk di rumah antara lain: bak kamar mandi dan toilet, tempat penampungan air, pot bunga, dispenser air minum (wadah limpahan airnya), barang bekas di sekitar rumah seperti ban, kaleng, batok kelapa, botol, gelas air mineral, potongan bambu, bahkan cekungan di pohon dan di atas genteng serta semua tempat yang bisa menampung air.

Pada musim penghujan seperti sekarang ini adalah waktunya nyamuk demam berdarah berkembang biak. Dalam 2-3 hari, nyamuk tersebut mampu bertelur sampai sebanyak 30-150. Telur nyamuk bisa bertahan tanpa air selama kurang lebih 6 bulan. Sementara kalau sudah jadi larva, hidupnya di air. Larva tersebut kemudian berubah menjadi pupa, lalu menjadi nyamuk dewasa.




Nyamuk DB biasanya menggigit di pagi hari (09.00-10.00) dan sore hari (15.00-16.00), bahkan nyamuk betina menggigit manusia 2 kali sehari. Jika nyamuk telah memiliki virus dengue di dalam tubuhnya, maka ketika ia mengigit manusia, virus itu akan berpindah dan menulari manusia lewat air liurnya. Jika kondisi tubuh manusia sedang tidak fit, maka ia dengan mudah terjangkit penyakit DBD.

Cara Mencegah DBD

Mencegah memang lebih baik daripada mengobati. Setelah kita tahu asal muasal dan penyebab DBD, langkah pencegahan apa yang harus dilakukan agar tidak terserang DBD? Cara paling efektif dan efisien adalah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui kegiatan 3Men, menggalakkan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, dan menggunakan Larvitrap.


3Men mencakup:

  1. Menguras atau membersihkan tempat penampungan air seperti bak mandi, penampungan air minum, penampungan air dari lemari es, ember yang berisi air, dan sebagainya.
  2. Menutup rapat tempat penampungan air agar tidak digunakan sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk.
  3. Mendaur ulang barang-barang bekas pakai yang memiliki kemungkinan dijadikan tempat nyamuk berkembang biak.


Sementara Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (Juru Pemantau Jentik) adalah gerakan anggota masyarakat yang secara sukarela memantau keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di lingkungannya secara berkala. Tugas nenjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan tubuh bukanlah tugas pemerintah atau lembaga kesehatan saja, tetapi perlu peran masyarakat sehingga penyebaran DBD tidak semakin meluas.


Selain itu, ada Larvitrap sebagai tempat perangkap larva atau nyamuk yang bisa dibuat dari limbah botol plastik bekas yang berguna untuk menekan populasi nyamuk. Larvitrap adalah cara MUDAH dan MURAH yang bisa digunakan untuk mencegah penyebaran DBD dan cocok diterapkan di perumahan, sekolah, rumah sakit dan lainnya.

Cara membuatnya juga cukup sederhana. Siapkan botol air kemasaan berukuran besar, kantong kresek hitam, steples, lakban hitam, dan gunting. Fungsi Larvitrap sebagai tempat bagi nyamuk untuk meletakkan telurnya. Letakkan di tempat yang gelap atau nyamuk biasa bersarang, kemudian keluarkan dan taruh di bawah sinar matahari. Nyamuk pun akan mati.

***

Nah, kini sudah tahu kan bagaimana cara mencegah DBD. Yuk mulai aktif dan rutin melakukan tindak pencegahan DBD agar keluarga dan orang-orang tersayang tidak terserang demam berdarah.

Salam Healthies!


Komentar

  1. Terima kasih kak infonya, akhir2 ini memang agak was2 soal endemin dbd di beberapa daerah, semoga semuanya akan baik2 saja

    BalasHapus
  2. Waspada Dbd apalagi skrg lagi musim ujab. Lbh baik mencegah drpd mengobati

    BalasHapus
  3. Sampai sekarang DBD masih dalam kategori penyakit yg menyeramkan, khususnya kalo kena ke anak2. Makanya aku sedapat mungkin gak menyimpan air dlm wadah deh. Di rumahpun udah gak ada bak, diganti shower.

    BalasHapus
  4. Edukasinya komplet bgt Kak
    Thanks for sharing... semoga kita semua sehat sehat sehaaattt
    Kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus
  5. Minggu lalu tempatku fogging, ada tetangga juga ibu dan anak yang kena nih. Jumantik masih jalan juga diwilayahku.

    BalasHapus
  6. ya ampun di awal tahun 2019 ada 13.683 penderita DBD di 34 provinsi dan 132 di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

    BalasHapus
  7. Membuat Larvitrap sekarang ini memang banyak sekali dilakukan ya, karena selain mudah juga membantu sekali dalam pencegahan demam berdarah.

    BalasHapus
  8. Perumahanku baru aja ngadain fogging serentak dong!
    Blok sebelah udah ada yang diopname karena DBD, agak deg-degan juga.

    BalasHapus
  9. Minggu depan nih di komplek ku batu mau di foging. Tapi cuma di depan rumah aja, gak sampe masuk dalam rumah.

    BalasHapus
  10. Minggu lalu baru aja komplekku di-fogging, terutama di bagian selokannya gitu.

    BalasHapus


  11. aku baru tau ttg larvitrap ini loh.... makasih loooh buat ulasannya.

    BalasHapus
  12. DBD musti diberantas dari nyamuk yg masih berwujud jentik

    BalasHapus
  13. Setiap tahun suka ada aja wabah DBD. Memang harus benar-benar waspada kalau nyamuk ini udah mulai banyak

    BalasHapus
  14. Jadi ingat dulu SMP aku harus di rawat karena terkena DBD. Nah kemarin juga lingkungan rumah mama banyak yang terkena DBD akhirnya kelurahan setempat melakukan fogging secara merata.

    BalasHapus
  15. Semoga saja kita semua terhindar ya dari DBD ini. Karena dulu aku pernah kena pas SMA.

    BalasHapus
  16. Masih penasaran cr bikinn lavitrap...makasih dah dijelasin ulang

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Perjalanan Menuju Pagi

Gelap gulita menyergap, namun tak menyurutkan kaki untuk melangkah..

Ribuan derap langkah kaki merayap dalam sendu, sebagian terantuk sebagian tertatih..

Cahaya kecil menerangi jalan, dengan keringat yang terhapus dinginnya pagi..

Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, tak ada kata untuk mundur..

Dari balik daun, semburat jingga terbangun dari tidur lelapnya..

Sedikit lagi..

Sedikit lagi..

Hanya tinggal beberapa tapak langkah kaki lagi..

Di atas sana, kaki-kaki yang sudah lelah melangkah beristirahat..

Menunggu..

Menunggu..

Dan menunggu..

Cahaya keemasan itu akhirnya muncul, membayar lelah ribuan pasang mata yang menantinya..

Sebagian terdiam..

Sebagian terkejut..

Sebagian bersikap tak acuh dan menyibukkan diri..

Tak ada yang lebih indah daripada melihat anugerah Tuhan, ciptaanNya yang sempurna..

Yang menandakan, hari ini adalah hari baru, semangat baru dan harapan baru..

Lupakan yang telah berlalu, mari songsong hari baru dengan senyuman..

Selamat pagi dunia..

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …