Langsung ke konten utama

Bila Tsunami Menerjang Jakarta, Apa yang Harus Kita Lakukan?


Masih ingat bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 silam. Saat itu Indonesia sangat berduka. Banyak korban jiwa maupun luka-luka yang berjatuhan. Kota Banda Aceh pun luluh lantak dan rata oleh tanah karena terjangan tsunami.

Akhir 2018, Indonesia kembali berduka. Gempa dan tsunami Palu Donggala menjadi korban pertama amukan Sang Alam. Selanjutnya menjelang akhir tahun ada kejadian tsunami Selat Sunda yang kita tahu menelan banyak korban jiwa, yang paling terkenal adalah musisi tanah air menjadi korban.

Baik Aceh, Palu dan Banten yang menjadi korban terjangan tsunami memang berada di pesisir pantai. Pastinya bila ada gempa dan tsunami kota-kota ini akan menjadi yang pertama terkena imbasnya. Sebuah pertanyaan kritis muncul. Bagaimana denga kota-kota lain yang bersinggungan langsung dengan garis pantai? Salah satunya Jakarta.

Indonesia memang berada di kawasan perairan dan laut dengan dihimpit oleh dua samudera besar. Belum lagi lokasi Indonesia yang berada di ring of fire atau cincin api sehingga berpotensi menimbulkan banyak bencana, mulai dari gempa, gunung meletus, tanah longsor sampai tsunami.

Sebagai ibukota dimana pemerintahan dan perekonomian terpusat di sana, apakah suatu hari Jakarta akan diterjang oleh tsunami? Lalu, amankah Jakarta dari tsunami?

*** 

Dalam diskusi "Ecotalk: Amankah Jakarta dari Tsunami?" yang diselenggarakan oleh Ngobrol@Tempo di Candi Bentar Hall, Putri Duyung Ancol, Jakarta Utara, pada Kamis (28/2/2019), dijelaskan bahwa Jakarta masuk dalam kategori "aman" dari bencana tsunami. Alasannya, potensi timbulnya gempa berasal dari Selat Sunda dan selatan Sukabumi sehingga jauh dari Jakarta.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut wilayah DKI Jakarta aman dari potensi gelombang tsunami kendati terjadi gempa bermagnitudo 8,7 Scala Richter di Selat Sunda.

"Kalau di Jakarta kami modelling-nya kan dari Selat Sunda semua dan dengan magnitudo 8,7 saja tidak begitu signifikan untuk di Jakarta," kata Rahmat Triyono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.

"Sumber gempa yang berdampak di Jakarta itu agak jauh, di selatan Sukabumi, kurang-lebih jaraknya 200 kilometer. Tentunya yang berdampak serius adalah Selat Sunda. Kalau di utara Jakarta, ya mungkin hanya riak-riak saja. Kita sudah modelkan, tidak begitu signifikan," sambungnya.

Rahmat juga menyebut, bila terjadi gempa bermagnitudo 8,7 di Selat Sunda, ketinggian gelombang di pesisir Jakarta diperkirakan hanya mencapai angka puluhan centimeter. Adapun angka magnitudo sebesar 8,7 magnitudo yang diambil oleh BMKG didasari oleh faktor sejarah dan prediksi para pakar.

Namun demikian, bukan berarti wilayah Jakarta aman dari bencana tsunami. Bila terjadi gempa di Selat Sunda bermagnitudo lebih besar dari 8,7 SR, maka Jakarta akan terkena dampak yang lebih serius. Contohnya, tsunami yang melanda Sendai, Jepang, 2011 silam di luar dugaan karena besarnya gempa lebih besar dari catatan sejarah.


"Ada sejarah gempa maksimalnya 8 SR. Maka dibuatlah kalau magnitudonya 8, ketinggian tsunaminya katakanlah tiga meter. Maka dibangun tembok empat meter. Yang terjadi adalah ternyata kemarin gempanya 9,0 SR, keluar dari sejarah," ujar Rahmat.

Tak hanya itu, Rahmat juga mengungkapkan bahwa teknologi untuk pencatat gempa belum ada di Indonesia sebelum 1990. Imbasnya, BMKG baru mengetahui dimana sumber atau titik gempa 1-2 hari setelah gempa atau tsunami terjadi.

"Masyarakat kita baru menyadari ada ancaman besar sejak tsunami Aceh. Karena sebelumnya pada saat kejadian tsunami Aceh, kita belum memiliki sistem teknologi pencatat gempa," tegasnya.

Setelah gempa dan tsunami melanda Aceh, barulah Indonesia memiliki sensor pelacak gempa. Namun, saat itu jumlahnya masih sedikit, yakni 20 sensor. Bandingkan dengan Jepang yang saat itu sudah memiliki ribuan sensor pelacak terjadinya gempa.

"Waktu gempa Aceh, kita Hanya 20 sensor untuk mengawal seluruh Indonesia. Jepang yang wilayahnya hanya seluas Sumatera itu ribuan. Realitanya saat tsunami Aceh melanda 2 jam kemudian kami baru mampu mengetahui dimana sumber gempanya," jelas Rahmat.

***


Pada kesempatan yang sama, Berton Panjaitan, Kepala Subdit Pencegahan BNPB juga membahas pentingnya kesadaran masyarakat akan bencana, khususnya tsunami.

"Masyarakat seperti lupa bencana traumatik tersebut. Buktinya, kini di sepanjang pesisir pantai Aceh yang terkena dampak tsunami 2004 silam malah dibangun rumah-rumah," ujar Berton.

Dalam diskusi tersebut beliau menjelaskan bahwa bencana mungkin akan terjadi lagi pada puluhan tahun mendatang. Namun dengan membangun rumah di garis pantai seperti "mempersiapkan" bencana untuk anak-cucu kita kelak. Karena itulah, masyarakat harus sadar bencana dengan melakukan pencegahan dan kesiapsiagaan. Selain itu diperlukan perencanaan dan melatih diri bila sewaktu-waktu bencana terjadi.

"Pengetahuan kita akan bencana sangat banyak. Tapi kalau tidak dilatihkan maka akan percuma," tutup Berton.


BNPB telah mencanangkan tanggal 26 April sebagai Hari Kesiapsiagaan. Pada tanggal tersebut, masyarakat dihimbau untuk berlatih dan berkumpul di assembly point, seolah-olah sedang terjadi bencana. Bencana seperti gempa dan tsunami memang tidak bisa kita hindari dan sewaktu-waktu bisa terjadi. Karena itu kita harus sudah siap siaga dan tanggap bencana sejak dini.

Sebagai penutup, diskusi tersebut ditutup dengan sebuah pesan.

"Di era digital seperti sekarang ini, ketika terjadi gempa yang ditakutkan bukanlah gempa susulan, melainkan isu-isu susulan. Banyak hoax yang menyebar seperti ke media sosial atau grup WhatsApp. Karena itu, jangan menyebar atau termakan hoax!"

Komentar

  1. Sempet kepikiran juga kalau gempa dan tsunami terjadi di Jakarta. Ah, semoga tidak ya. Aamiin

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

JNE Kini Bisa Kirim Paket ke Luar Negeri

Pernahkah Anda terpikir untuk touring ke luar negeri dengan kendaraan kesayangan? Para pecinta motor klasik dan legendaris pastinya tak ingin jauh dari tunggangannya. Namun perkara membawa motor ke luar negeri bukan hal yang mudah. Apalagi jika jaraknya terbentur laut, bukan daratan yang bisa dilalui kendaraan roda dua.

Jangan khawatir. JNE sebagai perusahaan kurir terbesar di Indonesia kini memiliki layanan untuk mengirimkan kendaraan roda dua ke luar negeri. Tentu saja keperluan pengiriman juga harus jelas, untuk keperluan pribadi, komersil, atau untuk eksebisi, alat profesional atau kemanusiaan. Karena itu dibutuhkan dokumen ATA Carnet atau CPD Carnet yang berfungsi layaknya paspor sebagai pengganti dokumen pabean nasional.

Dokumen ATA Carnet berfungsi sebagai dokumen impor dan ekspor sementara untuk barang-barang dengan keperluan pameran/eksebisi, alat profesional, pendidikan, keperluan pribadi wisatawan, keperluan pribadi olahraga dan untuk tujuan kemanusiaan. Sementara dokumen …