Langsung ke konten utama

Tanya Jawab Tentang Bayi Tabung Bersama dr. Indra Nurzam Chalik Anwar Sp.OG


"Udah hamil belum?"

"Perutnya udah isi?"

"Kamu sudah nikah bertahun-tahun, masa belum hamil juga."

Pertanyaan-pertanyaan di atas kerap kali didengar oleh pasangan suami-istri (pasutri) yang belum dikarunai momongan. Mulai dari tetangga, teman-teman, bahkan keluarga sendiri akan bertanya kepada pasangan muda atau keluarga yang baru menikah, apakah sudah hamil atau belum.

Sejatinya, tujuan dari pernikahan selain untuk menyatukan dua insan yang saling mencintai adalah untuk melanjutkan keturunan. Namun, kita semua pasti paham kalau anak adalah rahasia Yang Maha Kuasa. Anak adalah anugerah, pemberian dan titipan ilahi. Sehingga jika belum diberi, mungkin memang belum "dikasih" atau memang belum waktu dan rezekinya.

Sayangnya, sistem patriarki yang dianut oleh banyak masyarakat selalu menyalahkan dan mengkambinghitamkan wanita dalam setiap masalah keluarga. Suami selingkuh, yang salah istri. Belum punya anak, yang salah istri. Padahal sejatinya tak semua kesalahan ada di pihak istri. Bisa saja, laki-laki atau suami yang bersalah.

Merencanakan kehamilan dengan bayi tabung

Bagaimana rasanya bertemu dengan silih berganti orang dan selalu mendapatkan pertanyaan-pertanyaan di atas (di awal pembuka tulisan ini). Pasutri sudah berusaha, namun belum membuahkan hasil. Jika rutin melakukan hubungan suami istri namun belum juga hamil, saatnya memulai ikhtiar dengan ilmu dan usaha. Contohnya lewat bayi tabung.

Beberapa waktu lalu, saya pernah membaca artikel mengenai seorang wanita yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum dikaruniai momongan. Akan tetapi, berkat doa dan usaha, kerinduan akan hadirnya buah hati akhirnya terwujud. Elin Shinta, itulah nama ibu dari kembar tiga MDG (Marien, Diandra, Gaby) yang sukses dilahirkan lewat program bayi tabung.

Elin bercerita, sudah banyak program medis sampai pengobatan alternatif yang dia dan suaminya coba, namun hasilnya nihil. Barulah kala berkonsultasi dengan dr. Indra Nurzam Chalik Anwar, Sp.OG, dia berhasil mengandung dan melahirkan melalui proses bayi tabung.


Pada Minggu (10/3/2019) lalu, saya berkesempatan bertemu dengan dr. Indra yang menjadi pemateri di acara "Seminar & Kelas Promil: Saatnya Mewujudkan Kehamilan Yang Tertunda" di Hotel Savero, Depok. Bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) adalah teknik reproduksi yang mempertemukan sel telur dan sperma di luar tubuh, setelah itu disimpan kembali ke rahim agar bertumbuh dan berkembang seperti kehamilan pada umumnya.

Berikut ini adalah bincang-bincang mengenai bayi tabung bersama dr. Indra Nurzam Chalik Anwar, SpOG.

Dok, bagaimana proses awal program bayi tabung?

Pasutri yang ingin memiliki momongan tentu tidak langsung lewat program bayi tabung. Ada konsultasi terlebih dahulu apakah ini memerlukan bayi tabung atau tidak. Setelah itu, akan ada pemeriksaan apakah pasutri ini layak, belum layak atau tidak layak untuk mengikuti program bayi tabung.

Indikator tidak layak misalnya sel telurnya tidak ada, spermanya tidak ada, rahimnya tidak ada atau rahimnya jelek, dan banyak faktor lainnya. Setelah ditentukan layak, baru diprogram untuk bayi tabung. Jadi, di hari haid ke-2 mereka harus datang untuk dirangsang indung telurnya agar tumbuh, besar dan banyak dengan obat penyubur.

Di hari haid ke-10, mereka datang lagi ke klinik untuk pengambilan sel telur yang sudah matang (target 10-15 embrio, bisa kurang atau lebih). Ada juga pengambilan sperma dan dipilih sperma yang baik dan berkualitas. Dari haid hari ke-2 sampai embrionya ditransfer kembali ke rahim memakan waktu kurang lebih 15 hari.

Apa tujuan program bayi tabung yang sesungguhnya?

Tujuan bayi tabung adalah melahirkan bayi tunggal, kehamilan normal dan kehamilan tunggal. Kita memerlukan sel telur yang banyak supaya melahirkan embrio yang banyak, tapi yang ditransfer ke dalam rahim hanya satu. Supaya jangan terjadi kehamilan kembar.

Bagi pasutri yang mencari klinik yang bagus untuk program bayi tabung, carilah klinik yang mampu menghasilkan embrio yang bagus dan mentransfer satu embrio. Mengapa? Karena dengan begitu angka kehamilan cukup tinggi.

Mengapa program bayi tabung tidak boleh melahirkan bayi kembar?

Kehamilan kembar adalah komplikasi, apakah komplikasi alami atau komplikasi buatan. Alami itu misalnya satu telur atau embrio menjadi dua, itu adalah faktor genetik dan tak bisa dihindarkan (seperti kasus Elin Shita yang melahirkan bayi kembar tiga).

Program bayi tabung bisa menghindari kehamilan kembar dengan hanya mentransfer satu embrio. Kalau kembar maka akan cukup berisiko. Pertama, salah satu akan mati. Entah pada tahap dini atau pertengahan, bisa saja salah satu akan mati. Kedua, mungkin yang satu kecil, sementara satunya besar. Tentu ini akan mengganggu perkembangannya. Ketiga, keduanya sama-sama bertumbuh dan berkembang, tapi lahirnya prematur.


Jika ini terjadi dan sampai harus dirawat di NICU, pastinya akan memerlukan biaya yang lebih besar lagi dan yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Tentu kita menghindarkan masalah-masalah seperti ini. Karena itu, kita berupaya menghasilkan kehamilan yang normal (tunggal) lewat bayi tabung.

Berapa biaya untuk satu kali program bayi tabung?

Ada 3 bagian pembiayaan untuk IVF. Pertama, pemeriksaan darah sekitar Rp 8 juta. Ini sebelum program dan sama rata untuk semua pasien. Kedua, biaya bayi tabung sekitar Rp 36 juta. Ketiga biaya bayi obat-obatan tergantung jenis penyakit dan obatnya dengan range 10-40 juta. Kalau ditotal secara keseluruhan, umumnya sekitar Rp 80 juta.

Bagaimana jika proses bayi tabung gagal? 

Kalau gagal atau tidak hamil, maka kita bisa melakukan frozen embrio transfer. Jadi pada saat pengambilan sel telur, dokter mengambil 10-15 embrio dimana satu diambil untuk ditransfer, sementara sisanya dibekukan sebagai cadangan. Jadi bila gagal, kita tinggal mengencerkan dan mentransfermya kembali ke dalam rahim.

Apakah ada biaya tambahan lagi jika ingin mengulang program bayi tabung?

Biaya bayi tabung itu hanya sampai transfer embrio. Jika ingin melakukan frozen embrio transfer tentu biayanya akan lebih murah, sekitar Rp 5-6 juta. Tapi seandainya sudah tidak punya embrio atau embrionya sudah habis dan harus mengulang bayi tabung dari awal, maka harus membayar lagi sama seperti memulai program bayi tabung.

Apakah semua dokter kandungan (Sp.OG) dapat menangani bayi tabung?

Tidak semua dokter spesialis boleh menangani bayi tabung. Mereka harus mengikuti tes, training dan tahapan kompetensi oleh badan yang menaungi bayi tabung (PERFITRI = Perhimpunan Fertilisasi In Vitro di Indonesia). Setelah mereka sudah mendapatkan kompetensi itu, baru boleh menangani pasien bayi tabung.

Lalu dok, bagaimana kita tahu apakah dokter kandungan tersebut sanggup menangani bayi tabung?

Penanganan pasien bayu tabung itu kadang tergantung kemana pasiennya datang. Karena tidak semuanya beruntung pergi ke dokter yang tepat. Paling aman, mereka bisa datang ke klinik IVF. Karena disana dokternya merupakan tenaga ahli yang kompeten.


Jadi, carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai klinik tersebut. Misalnya, sudah berapa klinik tersebut berdiri, berapa lama dokter kandungan tersebut bekerja disana (karena pengalaman dokter berperan dalam kesuksesan program bayi tabung, selain pasien, obat-obatan, dll), berapa angka kehamilan pada klinik tersebut, berapa banyak program bayi tabung yang dikerjakan, dan sebagainya.

Karena itu jangan terburu-buru memutuskan datang ke klinik IVF yang mana. Carilah info dan referensi terlebih dahulu agar bertemu dengan klinik dan dokter kandungan yang tepat.

Dimana bisa bertemu dan berkonsultasi dengan dr. Indra?

Morula IVF Jakarta Bunda Internasional Clinic (BIC)
Jl. Teuku Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Pusat
(Praktek setiap hari, jam 10.00 - 15.00 WIB)

&

Teratai Fertilitas Clinic
RS Gading Pluit Lt.4, Jl. Boulevard Timur Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
(Dengan perjanjian sebelumnya)

Telp: 021 45866063 - 021 4521001 - 021 452 0202 (Ext. 8433)
Fax: 021 458 76011
SMS Center: 0888-858-6663

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

JNE Kini Bisa Kirim Paket ke Luar Negeri

Pernahkah Anda terpikir untuk touring ke luar negeri dengan kendaraan kesayangan? Para pecinta motor klasik dan legendaris pastinya tak ingin jauh dari tunggangannya. Namun perkara membawa motor ke luar negeri bukan hal yang mudah. Apalagi jika jaraknya terbentur laut, bukan daratan yang bisa dilalui kendaraan roda dua.

Jangan khawatir. JNE sebagai perusahaan kurir terbesar di Indonesia kini memiliki layanan untuk mengirimkan kendaraan roda dua ke luar negeri. Tentu saja keperluan pengiriman juga harus jelas, untuk keperluan pribadi, komersil, atau untuk eksebisi, alat profesional atau kemanusiaan. Karena itu dibutuhkan dokumen ATA Carnet atau CPD Carnet yang berfungsi layaknya paspor sebagai pengganti dokumen pabean nasional.

Dokumen ATA Carnet berfungsi sebagai dokumen impor dan ekspor sementara untuk barang-barang dengan keperluan pameran/eksebisi, alat profesional, pendidikan, keperluan pribadi wisatawan, keperluan pribadi olahraga dan untuk tujuan kemanusiaan. Sementara dokumen …