Langsung ke konten utama

"Lima Hutan, Satu Cerita", Menyeimbangkan Kelestarian Alam dan Kesejahteraan Masyarakat


"Saya ingin menjadikan cerita ini inspirasi bagi daerah lain. Buku ini untuk memberi sumbangan bagaimana Perhutanan Sosial bisa dipercepat."

Pada peluncuran buku "Lima Hutan, Satu Cerita", Tosca Santoso sebagai penulis menuturkan harapannya agar perhutanan sosial bermanfaat bagi masyarakat. Berisi catatan perjalanan kala berkunjung ke lima hutan di Indonesia, yaitu di Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat, Kerinci Provinsi Jambi, Gunung Kidul Yogyakarta, Madiun Jawa Timur, dan Sarongge, Cianjur, Jawa Barat.

Dalam acara diskusi "Ngobrolin Hutan Sosial" di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat, pada Jumat (5/4/2019) lalu, Tosca yang juga seorang jurnalis dan pegiat lingkungan bagi percepatan program Perhutanan Sosial mengisahkan perjalanannya selama tiga bulan, sejak Oktober 2018, dalam buku setebal 164 halaman.

Dia menceritakan pengalamannya melihat langsung keberhasilan program perhutanan sosial di lima hutan tersebut. Kisah ini tentu bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain karena dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan melestarikan lingkungan.


Dalam buku "Lima Hutan, Satu Cerita", Tosca memberikan saran agar ada percepatan dalam realisasi perhutanan sosial, misalnya dengan mendelegasikan kerja sama di level kabupaten. Usulan lainnya, lahan Perhutani di Jawa menjadi bagian dari proyek Perhutanan Sosial sehingga Perhutani harus lebih aktif dalam program tersebut.

"Pengelola hutan membuat  nota kesepahaman dengan bupati agar Perhutanan Sosial menjadi program kabupaten sehingga bisa bergerak lebih cepat," ujarnya.

Perlunya Pendampingan Dalam Program Perhutanan Sosial

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan, dari 5.572 izin perhutanan sosial, ada 5.245 izin yang penerimanya membentuk kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS). Dari jumlah ini baru 4% (188 unit) yang memiliki unit usaha, memasarkan produk, dan memiliki pasar nasional hingga internasional. Mereka dikelompokkan pada kategori Emas dan Platinum.


Setingkat di bawahnya adalah kategori Perak, yang telah menyusun rencana kerja usaha (RKU) dan menjalankan kegiatan usaha mencapai 33% (1.712 unit). Sebagian besar atau kategori Biru dengan cakupan 63% di antaranya belum menyusun RKU.

"Melihat data ini, maka tugas pengembangan usaha pasca izin untuk meningkatkan kelas KUPS perlu terus menerus didorong dengan melibatkan banyak pihak," kata Bambang Supriyanto, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam diskusi "Ngobrolin Hutan Sosial".

"RKU ini bisa digunakan penerima izin perhutanan sosial untuk mengakses permodalan keuangan melalui kredit usaha rakyat (KUR) maupun badan layanan umum (BLU)," sambungnya.

Namun diakui Bambang, untuk menyusun RKU, masyarakat desa di sekitar hutan masih memiliki keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Mereka membutuhkan tenaga pendamping yang andal yang tampak dari kinerja KUPS yang bisa mengakses permodalan dan meraih pasar.


Mengingat pentingnya peran pendamping, Bambang membuka kesempatan bagi elemen masyarakat mana pun untuk mendampingi masyarakat.

"Orang dari pemerintah daerah, akademisi, peneliti, organisasi masyarakat (NGO), boleh jadi pendamping. Nanti ada modulnya," katanya.

Senada dengan Bambang, Tosca Santoso juga menyebut pendamping masyarakat memerlukan passion (panggilan hati). Menurutnya, pendampingan ke masyarakat membutuhkan kesabaran dan komunikasi yang baik sembari menceritakan kisahnya mendampingi masyarakat Sarongge di Cianjur.

Passion itu dibutuhkan agar negosiasi berorientasi pada keuntungan masyarakat dan keseimbangan alam. Tosca mencontohkan pada penerima izin perhutanan sosial di Desa Pakuwon, Cianjur, Jawa Barat, menggunakan model Kulinkaka atau Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan.

Kelompok masyarakat bekerjasama dengan Perhutani untuk mengakses kawasan hutan tanpa membayar pajak tanah. Tetapi masyarakat dan Perhutani membagi hasil pengelolaan area tersebut. Komposisi pembagian keuntungan minimal 70% untuk warga. Tetapi di Pakuwon, komposisinya Perhutani 80:20 untuk keuntungan kopinya dan wisata 100% untuk masyarakat.


Bambang Soepriyanto menambahkan, KLHK mendorong pengelolaan hutan sosial dengan beragam jenis usaha agar masyarakat dapat memanfaatkan hutan secara lestari. KLHK memiliki bina usaha perhutanan sosial agar kelompok tani hutan mendapat pengembangan kapasitas dalam pengelolaan hutan.

"Praktiknya sangat bervariasi seperti usaha jasa lingkungan, ekowisata, agro-forestry, silvo-pastur biomassa dan bioenergi, hasil hutan bukan kayu, dan industri kayu," tutupnya.

Komentar

  1. Entah dari dulu selalu tertarik tentang hutan dan pengembangannya. Saya akui juga hutan2 yang ada saat ini belum diberdayakan bener dari sumber daya alam yang tersedia. meski banyak pilihan mulai dari dijadikan objek wisata hingga memanfaatkan hasil dari hutan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Perjalanan Menuju Pagi

Gelap gulita menyergap, namun tak menyurutkan kaki untuk melangkah..

Ribuan derap langkah kaki merayap dalam sendu, sebagian terantuk sebagian tertatih..

Cahaya kecil menerangi jalan, dengan keringat yang terhapus dinginnya pagi..

Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, tak ada kata untuk mundur..

Dari balik daun, semburat jingga terbangun dari tidur lelapnya..

Sedikit lagi..

Sedikit lagi..

Hanya tinggal beberapa tapak langkah kaki lagi..

Di atas sana, kaki-kaki yang sudah lelah melangkah beristirahat..

Menunggu..

Menunggu..

Dan menunggu..

Cahaya keemasan itu akhirnya muncul, membayar lelah ribuan pasang mata yang menantinya..

Sebagian terdiam..

Sebagian terkejut..

Sebagian bersikap tak acuh dan menyibukkan diri..

Tak ada yang lebih indah daripada melihat anugerah Tuhan, ciptaanNya yang sempurna..

Yang menandakan, hari ini adalah hari baru, semangat baru dan harapan baru..

Lupakan yang telah berlalu, mari songsong hari baru dengan senyuman..

Selamat pagi dunia..

Ayo, Kurangi Penggunaan Plastik!

Beberapa waktu lalu ramai di media sosial mengenai sampah plastik yang ditemukan dalam perut ikan. Ada pula biota laut yang habitatnya tercemar plastik sehingga mengiranya sebagai makanan. Atau cerita plastik kemasan makanan instan yang ditemukan masih utuh meski sudah lebih dari dua dekade terombang-ambing dan mengapung di laut.

Permasalahan sampah plastik sudah menjadi masalah internasional. Banyak negara yang mengupayakan berbagai cara untuk menekan angka jumlah sampah plastik. Salah satunya dengan memproduksi plastik ramah lingkungan yang mudah hancur dalam waktu relatif singkat. Selain itu, juga dengan cara meminimalisir penggunaan plastik.

Sebagai wujud cinta terhadap bumi yang kita pijak dan hirup udaranya ini, sudah sepatutnya kita berperan serta dalam upaya menekan jumlah sampah plastik. Bukankah banyaknya sampah plastik juga akibat perbuatan manusia. Karena itulah kita bisa turut aktif dalam kampanye minimalisir penggunaan plastik, yaitu dengan cara:


1. Mengganti plastik de…