Langsung ke konten utama

Mewujudkan Indonesia Bebas Asap Rokok dengan Kota Layak Anak


Pernah dengar tentang Kota Layak Anak/Kabupaten Layak Anak? Anak-anak adalah modal pembangunan dan kunci kemajuan bangsa di masa depan. Karena itulah pemerintah harus menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak dengan membangun Kota Layak Anak. Salah satunya dengan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) atau kawasan bebas asap rokok.

Data Kemenkes pada 2018 mencatat baru 43% kota/kabupaten layak anak. Salah satu indikator yang harus dipenuhi untuk menjadi kota layak anak adalah larangan iklan, promosi dan sponsor rokok. Selain itu harus ada Perda (Peraturan Daerah) yang mengatur mengenai kawasan tanpa rokok. Gunanya untuk melindungi anak-anak dari target pemasaran industri rokok dan paparan asap rokok. Saat ini, baru ada 10 kota/kabupaten yang memiliki Perda KTR.


Kota layak anak adalah salah satu langkah untuk mewujudkan Indonesia Bebas Asap Rokok. Karena itulah Kantor Berita Radio-KBR mengulas topik mengenai Kawasan Tanpa Rokok Untuk Wujudkan Kota Layak Anak dalam talkshow #RuangPublikKBR. Talkshow ini mengupas tantangan yang dihadapi dalam membangun KTR serta langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mendorong pembangunan KTR.

Hadir dalam talkshow Ruang Publik KBR sebagai narasumber, yaitu Ibu Sumiati (Pegiat Kampung Tanpa Rokok, Kampung Penas, Jakarta Timur) dan Ir. Yosi Diani Tresna, MPM (Kasubdit Perlindungan Anak, Dit. Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga Kementerian PPN/Bappenas).

Ibu Sumiati bercerita pengalaman pribadinya yang pernah mengidap penyakit paru akibat sering menghirup asap rokok dari suami dan anak yang merokok di dalam rumah tahun 2007 silam. Karena latar belakang inilah beliau berinisiatif membangun Kampung Penas untuk menjaga kesehatan anak-anak dan para ibu.


"Sudah banyak warga yang kena penyakit paru-paru di sini, akibat asap rokok sendiri dan orang lain dari keluarganya sendiri," kata Bu Sumiati.

Sosialisasi bahaya rokok mulai dilakukan di Kampung Penas sejak tahun 2012. Sejak 2017, Warga setempat menginisiasi penerapan aturan pelarangan merokok dan berkomitmen untuk menjadikan Kampung Penas sebagai kawasan tanpa rokok. Pada 10 Juni 2017, Kampung Penas dideklarasikan sebagai Kampung Warna-Warni Tanpa Rokok.

Pada kesempatan yang sama, Ibu Yosi menyampaikan bahwa masih sedikit sekali kota atau kabupaten yang sadar akan bahaya rokok, terutama dampaknya bagi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Beliau juga menegaskan bahwa kota/kabupaten di daerah lain bisa mencontoh Kampung Penas sebagai Kawasan Tanpa Rokok.


"Di Indonesia masih sedikit sekali daerah dengan kesadaran sendiri atau inisiatif untuk menjadikan wilayahnya sebagai Kawasan Tanpa Rokok. Kampung Penas adalah satu dari segelintir kampung yang warganya dengan kesadaran sendiri  menjadikan kawasannya sebagai KTR," jelas Bu Yosi.

KTR adalah perwujudan dari pemenuhan hak anak untuk memperoleh kesehatan. KTR juga dapat melindungi anak-anak agar tidak menjadi perokok pemula, melindungi dari paparan asap rokok dan tidak meniru untuk merokok dari iklan rokok ataupun promosi rokok.

Untuk mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok dan Kota Layak Anak, inisiatif dan kesadaran warga mutlak diperlukan. Dengan menyadari bahaya asap rokok, kesadaran membangun kawasan tanpa asap rokok akan timbul seiring kebutuhan mendapatkan lingkungan bebas asap rokok. Selain itu perlu juga partisipasi anak agar mereka tidak menjadi perokok pemula dengan kita sebagai orang tua/orang dewasa menjadi pendengar untuk anak.

Dengan demikian, Indonesia bebas asap rokok bukan hanya sekedar wacana karena direncanakan dan direalisasikan lewat langkah-langkah kecil seperti Kota Layak Anak dan Kawasan Tanpa Rokok.


N.B:

Siaran Ruang Publik KBR dapat diakses di 100 radio jaringan KBR dari Aceh sampai Papua. Di Jakarta dapat disimak di Power FM 89.2 atau di website KBR atau melalui aplikasi KBR Radio yang dapat diunduh di android dan IOS.

Jika ingin memberikan pertanyaan/komentar:
0800 140 3131 (telepon bebas pulsa)
0812 118 8181 (pesan singkat/WhatsApp)

atau mention di social media:
@halokbr (twitter)
@kbr.id (instagram)
sertakan hashtag #RuangPublikKBR

Komentar

  1. Setuju neh, aku juga nggak suka sama perokok. Harusnya pemerintah gencar ya ngadain seminar seperti ini lebih giat lagi. Mirisnya anak-anak sekolah dasar sudah banyak pecandu rokok tanpa sepengetahuan orang tua. Good artikel bro!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Sudah dapat THR? Waktunya Ganti Gadget!

Hari Raya Idul Fitri sudah sangat dekat. Banyak orang sudah sibuk mencari baju baru buat lebaran, ada juga yang masih mencari tiket untuk mudik. Hal yang paling menyenangkan menjelang lebaran adalah turunnya gaji ke-13 alias THR (Tunjangan Hari Raya). Selain nominalnya yang biasanya setara bahkan lebih dari jumlah gaji, THR juga bisa kita manfaatkan untuk beragam hal.

Bagi Anda yang hobi gonta-ganti gadget, atau yang sudah rindu mengganti gadget usangnya dengan yang baru tentu menanti-nantikan cairnya THR untuk membeli gadget idaman. Salah satu gadget yang paling umum digunakan adalah smartphone. Perkembangan teknologi yang pesat turut berperan pada munculnya beragam smartphone dari berbagai vendor dengan keunggulannya masing-masing, mulai dari spek yang mumpuni sampai harga yang retjeh.

Membeli gadget idaman pakai uang THR sah-sah saja dilakukan. Tentunya dengan pertimbangkan kita sudah memposkan setiap lembar uang THR tersebut seperti untuk beli baju baru, beli kue dan parsel, untu…