Langsung ke konten utama

"Bebek Kaleyo" dan Perjalanan Menjadi Kuliner Enak di Jakarta

Bebek Kaleyo Paling Enak dan Paling Ramai
(sumber: Dok.Pribadi)

Sekitar 10 tahun yang lalu, seorang kawan mengajak mencicipi kuliner baru di kawasan Sunter. Hari itu malam minggu dan suasana sangat ramai. Sebagai penyuka pedas saya memesan menu Bebek Cabe Ijo yang lezat dan sukses membuat perut saya melilit setelah pulang dari sana. Ya, itulah pengalaman saya ketika pertama kali berkunjung ke Bebek Kaleyo.

Kalau boleh jujur, itu juga merupakan pengalaman pertama saya mencicipi bebek karena saya lebih menyukai makanan berbahan utama ayam. Alasannya karena bila tidak diolah dengan benar, bebek akan berbau amis (prengus). Namun menu bebek yang saya cicipi di Bebek Kaleyo tidak berbau. Rasanya pun gurih dan lezat sehingga memberikan pengalaman pertama yang berkesan kala menyantap bebek paling enak di Jakarta.

Tanpa diduga, resto yang masih baru tersebut kini berkembang dan membuka banyak cabang. Bebek Kaleyo menjadi resto yang paling enak dan ramai serta menjadi dalah satu kuliner enak di Jakarta. Hal ini tak terlepas dari cita rasanya yang lezat, harga bersahabat serta suasana yang hangat.

Menu Bebek Kaleyo (sumber: Dok.Pribadi)

***

"Mimpimu mungkin tidak terlalu besar, tetapi mulailah dengan langkah besar.."

Siapa sangka mimpi dua keluarga bersaudara yang awalnya hanya ingin mencari penghasilan sampingan di luar jam kantornya berbuah manis. Hendri Prabowo, Paulus Maria, Rini Cahyanti dan Fenty Puspitasari pertama kali mendirikan outlet Bebek Kaleyo pertama di Cempaka Putih pada 15 Januari 2007 dengan hanya bermodal Rp 15 juta. Kini, Bebek Kaleyo Paling Enak dan Paling Ramai di seantero Jakarta itu sudah berkembang dan telah memiliki 28 cabang.

Awalnya mereka mencari bisnis yang mudah digeluti dan memiliki potensi untuk berkembang dan berkelanjutan. Bisnis kuliner adalah bisnis yang tak ada matinya. Karena itulah mereka memilih bebek sebagai bahan baku.

"Dan bukan bisnis musiman, selain tidak mudah ditiru dan bisnis tersebut dapat berkembang dalam sebuah sistem," ujar Hendri.

Bebek Cabe Ijo, salah satu menu favorit
(sumber: Dok.Pribadi)

Proses berdirinya Bebek Kaleyo juga cukup panjang. Dimulai dari trial & error membuat racikan bebek yang ideal, kemudian bagaimana membuat sambel dan kremes yang enak. Percobaan berpuluh kali dilakukan, mereka bahkan melakukan perbandingan dengan resto bebek terkenal di Solo. Mereka juga meminta penilaian dari teman, saudara, kerabat bahkan tetangga atas olahan bebek yang mereka racik.

"Targetnya 80% harus bilang Keleyo lebih enak, baru kami berani jualan," kata Rini.

Cerita tak berhenti sampai di situ. Ternyata penamaan Bebek Kaleyo awalnya tanpa makna dan hanya karena agar pengucapannya enak, mudah diingat dan belum ada di google. Lambat laun orang-orang mulai bertanya apa makna dari "Kaleyo". Akhirnya mereka terpaksa mencari nama untuk arti dari Kaleyo.

"Untungnya ketemu arti yang pas. Kaleh dalam bahasa jawa artinya dua. Dan Yo artinya ayo, mengandung ajakan untuk datang kedua kali. Jadi artinya bisa 'ayo beli 2' atau 'ayo datang lagi' kemari," tandas Hendri.

Menu spesial, nasi campur bebek
(sumber: Dok.Pribadi)

Ibarat bayi ajaib, Bebek Kaleyo tidak perlu belajar merangkak tapi langsung berlari. Resto ini langsung menjadi resto bebek paling ramai. Promosinya? Bebek Kaleyo hanya mengandalkan word of mouth dari konsumen yang memberikan efek bola salju dimana media cetak dan eletronik kemudian meliput tentang resto bebek kaleyo paling enak dan paling ramai ini.

Hal ini juga tak terlepas dari visi Bebek Kaleyo yang ingin menjadi ikon kuliner Indonesia yang terjangkau semua kalangan, serta memiliki misi menjadi berkat bagi banyak orang. Bebek Kaleyo juga memiliki tiga menu unggulan: Bebek Goreng, Bebek Bakar dan Bebek Cabe Ijo. Saat ini Bebek Kaleyo sudah memiliki 28 cabang yang tersebar di Jatabek dan Bandung.

"Kami senantiasa menjaga cita rasa bebek kaleyo sehingga dimanapun pengunjung mendatangi Bebek Kaleyo maka cita rasa yang diharapkan akan sama," jelas Paulus.

Salah satu outlet Bebek Kaleyo (sumber: Dok.Pribadi)

Sudut di resto yang nyaman (sumber: Dok.Pribadi)

Demi mewujudkan visi menjadi ikon kuliner di Indonesia, saat ini Bebek Kaleyo sedang membangun cabang baru di Jababeka Cikarang di bangunan permanen setinggi dua lantai dan lahan seluas 2500m dan kapasitas kursi lebih dari 600. Paulus berharap Bebek Kaleyo dapat terus berkembang dibmasa depan.

"Kami terus meningkatkan kualitas pelayanan, termasuk dalam mengelola sumber daya manusia," tutup Paulus.

Bebek Kaleyo buka pada Senin-Sabtu pukul 11.00 - 23.00 WIB, tutup pada hari Minggu.

***

Cita rasanya yang lezat, harga bersahabat serta suasana yang hangat membuat Bebek Kaleyo menjadi kuliner enak di Jakarta dan favorit semua orang. Rasa bebek yang juicy, lezat dan tidak amis juga membuat pengunjung datang kembali. Di bulan ramadan seperti sekarang ini Bebek Kaleyo juga ramai oleh pengunjung yang ingin buka puasa bersama.

Suasana bukber di salah satu outlet Bebek Kaleyo
(sumber: Dok.Pribadi)

Bebek Kaleyo juga memberikan pengalaman santap kuliner yang memanjakan pengunjung. Pelayanannya juga cepat dan responsif. Tak heran bila banyak investor yang ingin ikut berbisnis kuliner berbahan utama bebek ini. Namun sang pemilik belum berencana mengembangkannya secara franchise karena belum memiliki persiapan matang.

"Jujur kami tidak ingin investor kecewa. Kami ingin memperkuat fundamen dengan target mampu mengkloning diri di setiap cabang baru, setelah itu baru kami menawarkan diri ke investor," terang Hendri.

Harapan saya, Bebek Kaleyo tetap menjadi bebek paling  ramai dan enak dimanapun mereka berada. Tentunya tak melupakan ciri khas dengan rasanya yang lezat dan harga terjangkau. Sehingga, pengunjung pun akan kembali datang serta mengajak kawan dan saudaranya.

Ayo, ke Bebek Kaleyo..

Ayo ke Bebek Kaleyo (sumber: Dok.Pribadi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Hidupkan MalamMu dengan Brilliant Portrait Oppo F11 Pro

Sekitar 10-15 tahun lalu kita mungkin tidak pernah menduga kalau posisi camera digital akan tergantikan oleh kamera ponsel. Memang, saat itu bentuk ponsel masihlah konvensional dimana keyboard fisik masih mendominasi. Kamera dengan layar penuh yang mengandalkan fitur touchscreen (layar sentuh) masih bisa dihitung dengan jari.

2010-an awal, era ponsel pintar (smartphone) dengan layar sentuh mulai menunjukkan tajinya. Dengan fisik yang lebih besar dan layar lebih luas, smartphone menjadi alat telekomunikasi andalan kaum urban.

Fitur yang paling memanjakan pengguna tentu adalah kamera yang semakin canggih serta display layar yang lebih luas. Hal inilah yang membuat kamera digital semakin tergerus, apalagi fitur-fiturnya telah diadopsi oleh smartphone.

Akan tetapi, sebagus atau secanggih apapun kamera smartphone tetaplah memiliki kekurangan. Salah satunya memotret di malam hari. Seperti kita tahu, di ruangan yang gelap dan minim cahaya, kamera ponsel akan menunjukkan "kelemahan"…