Langsung ke konten utama

Wujudkan Bumi Lestari Dengan Gerakan #OneEarthMovement


Beberapa waktu lalu viral di media sosial sampah plastik dari kemasan makanan instan yang bertahan selama hampir 20 tahun. Meski terombang-ambing di laut lepas, sampah plastik itu tidak hancur dan tulisan di kemasannya menunjukkan berapa "usia" sampah tersebut. Ini membuktikan betapa berbahayanya sampah plastik, terutama yang dibuang di alam bebas.

Permasalahan sampah yang dibuang sembarangan di alam bebas, terutama di tempat keramaian seperti destinasi wisata, sudah sangat memprihatinkan. Meskipun keindahan alam serta flora dan fauna endemik menjadi daya tarik bagi wisatawan, hal ini juga memberikan permasalahan baru dengan banyaknya sampah. Zat-zat kimia yang dibawa oleh sampah seperti sampah plastik dapat mencemari lingkungan dan merusak keindahan tempat wisata tersebut.

Solusinya, kita harus memiliki kepedulian tinggi pada lingkungan serta berperan aktif dalam mengurangi sampah. Contohnya sederhana, dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengganti sedotan plastik dengan sedotan stainless atau kertas, membawa botol minum sendiri, dan sebagainya.

One Earth Movement, Sebuah Gerakan Peduli Lingkungan

Sebagai salah satu jaringan hotel berbintang di Indonesia, BATIQA Hotel Karawang bersama BHM (BATIQA Hotels Management) Hospitality meluncurkan program CSR "One Earth Movement" pada Jumat (17/5/2019). Acara seremoni dengan tema "Pariwisata Yang Memperhatikan Lingkungan" dihadiri oleh rekan media lokal dan nasional, komunitas blogger serta institusi pemerhati lingkungan.


Turut hadir pula Amir Michael Tjahaja, Wakil Presiden Direktur BHM Hospitality, Matthew Lim, Operational Director BHM Hospitality, Budi Santoso, Director of Development The Nature Conservancy dan Annisa Malati, Travel Influencer sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Amir menyatakan bahwa BHM Hospitalitity berkomitmen untuk berperan aktif dalam menjaga kestabilan ekosistem Indonesia yang diwujudkan melalui gerakan #OneEarthMovement. Gerakan ini bertujuan mengajak masyarakat untuk lebih peduli akan kelestarian alam Indonesia dan mengedukasi masyarakat atas isu conscious hospitality.

"Conscious hospitality adalah konsep layanan yang mengaplikasikan keramahtamahan dengan penuh kesadaran, bertujuan, dan pertimbangan yang bijaksana," ujar Amir.

Bentuk nyata dari upaya BATIQA Hotels untuk mengurangi kerusakan lingkungan adalah dengan meminimalisir penggunaan plastik di lingkungan hotel. Amenities hotel yang berbahan dasar plastik menjadi ecoplas yang terbuat dari ketela atau tepung singkong yang dapat terurai dalam waktu enam minggu.

"Berbeda dengan plastik, ecoplas lebih cepat terurai. Tentu hal ini akan membantu kita dalam meminimalisasi jumlah limbah plastik yang beredar baik di daratan maupun di lautan," ujar Amir.


Pada kesempatan yang sama, Budi Santosa juga memaparkan data tentang sampah di tempat wisata Indonesia. Sekitar 5-13 juta ton limbah plastik terbawa ke lautan dan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. Upaya konservasi alam membutuhkan kolaborasi dari banyak pihak. Budi juga mengapresiasi inisiatif BHM Hospitality dalam menjalankan program One Earth Movement.

Sementara itu, Annisa Malati menceritakan pengalamannya saat mengunjungi destinasi pantai dan laut di Indonesia. Sebagai seorang travel influencer, dia juga mengungkapkan keprihatinannya atas masalah sampah yang mencemari lingkungan di destinasi pariwisata.

"Pantai di Bali banyak dipenuhi sampah. Namun pernah suatu kali saya berkunjung ke sebuah pulau di Morotai, disana pantai dan lautnya benar-benar bersih. Masyarakatnya juga sadar lingkungan," kata Annisa.

Annisa juga memberikan tips dan trik berwisata yang ramah lingkungan, serta gaya hidup ramah lingkungan sebagai pelaku wisata. Tak dipungkiri, konsekuensi semakin ramainya suatu tempat wisata turut menyumbang banyaknya sampah disana.


Demi upaya terwujudnya bumi yang lestari, BATIQA Hotels memiliki 3 program yang mengajak para tamu serta masyarakat untuk turut serta dan berperan dalam kelestarian lingkungan melalui gerakan #OneEarthMovement, yaitu:

1. Stay With Purpose

Setiap reservasi walk-in, BATIQA Hotels akan mendonasikan 10.000/transaksi. Sementara untuk setiap reservasi online melalui situs www.batiqa.com, donasi yang diberikan sebesar 5000/transaksi.

2. The Movement

BATIQA Hotels menawarkan amenities ecoplas yang dapat dibeli oleh tamu hotel di bagian front office. Dari setiap ecoplas yang terjual, BATIQA Hotels mendonasikan 15.000.

3. Make a Difference

BATIQA Hotels memfasilitasi mayarakat yang ingin langsung berdonasi secara mandiri melalui link di www.batiqa.com.

Sekilas Tentang BATIQA Hotels

BATIQA Hotels merupakan jaringan hotel lifestyle bintang tiga di Indonesia. BATIQA diambil dari kata “Batik” serta “Quality A” sebagai branding. Batik merupakan salah satu ikon kebanggaan Indonesia, sementara “Quality A” merupakan komitmen untuk selalu memberikan pelayanan terbaik.



Komitmen dan pelayanan ini terlihat dari bagainana fasilitas yang saya dapatkan ketika menginap di BATIQA Hotel Karawang. Kamarnya sangat bersih dan nyaman dengan fasilitas tv kabel, cooler, welcome drink serta peralatan mandi yang lengkap. Ada pula fasilitas lain seperti swimming pool, billiard table serta resto dengan beragam pilihan mulai dari lokal sampai western.

Ada pula kearifan lokal dalam ornamen dan hiasan di front office BATIQA Hotel Karawang, serta oleh-oleh khas yang diproduksi oleh UMKM setempat. Lokasinya yang tak jauh dari pintu keluar tol juga memudahkan tamu yang datang untuk melakukan kunjungan bisnis di kawasan industri Karawang. Bagi yang ingin staycation, tentunya hotel ini adalah pilihan tepat untuk keluar dari hiruk pikuk perkotaan.

BATIQA Hotels bisa Anda temukan di kota-kota seperti Pekanbaru, Palembang, Lampung, Jababeka, Karawang, Cirebon dan Surabaya.

Komentar

  1. mantab batiqa, dengan menginap, juga berdonasi. Ini penting nih, tidur nyaman dan tenang!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Perjalanan Menuju Pagi

Gelap gulita menyergap, namun tak menyurutkan kaki untuk melangkah..

Ribuan derap langkah kaki merayap dalam sendu, sebagian terantuk sebagian tertatih..

Cahaya kecil menerangi jalan, dengan keringat yang terhapus dinginnya pagi..

Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, tak ada kata untuk mundur..

Dari balik daun, semburat jingga terbangun dari tidur lelapnya..

Sedikit lagi..

Sedikit lagi..

Hanya tinggal beberapa tapak langkah kaki lagi..

Di atas sana, kaki-kaki yang sudah lelah melangkah beristirahat..

Menunggu..

Menunggu..

Dan menunggu..

Cahaya keemasan itu akhirnya muncul, membayar lelah ribuan pasang mata yang menantinya..

Sebagian terdiam..

Sebagian terkejut..

Sebagian bersikap tak acuh dan menyibukkan diri..

Tak ada yang lebih indah daripada melihat anugerah Tuhan, ciptaanNya yang sempurna..

Yang menandakan, hari ini adalah hari baru, semangat baru dan harapan baru..

Lupakan yang telah berlalu, mari songsong hari baru dengan senyuman..

Selamat pagi dunia..

Ayo, Kurangi Penggunaan Plastik!

Beberapa waktu lalu ramai di media sosial mengenai sampah plastik yang ditemukan dalam perut ikan. Ada pula biota laut yang habitatnya tercemar plastik sehingga mengiranya sebagai makanan. Atau cerita plastik kemasan makanan instan yang ditemukan masih utuh meski sudah lebih dari dua dekade terombang-ambing dan mengapung di laut.

Permasalahan sampah plastik sudah menjadi masalah internasional. Banyak negara yang mengupayakan berbagai cara untuk menekan angka jumlah sampah plastik. Salah satunya dengan memproduksi plastik ramah lingkungan yang mudah hancur dalam waktu relatif singkat. Selain itu, juga dengan cara meminimalisir penggunaan plastik.

Sebagai wujud cinta terhadap bumi yang kita pijak dan hirup udaranya ini, sudah sepatutnya kita berperan serta dalam upaya menekan jumlah sampah plastik. Bukankah banyaknya sampah plastik juga akibat perbuatan manusia. Karena itulah kita bisa turut aktif dalam kampanye minimalisir penggunaan plastik, yaitu dengan cara:


1. Mengganti plastik de…