Langsung ke konten utama

Cegah dan Kendalikan Penyakit Tidak Menular Dengan Hidup "CERDIK"


Tanpa kita sadari, Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan masalah kesehatan utama dan penyebab kematian terbesar. PTM kini bukan hanya penyakit degeneratif karena kaum muda juga banyak yang terserang akibat pola dan gaya hidup. Bahkan, hanya 30% penderita PTM yang terdeteksi dan hanya 30%-nya yang berobat. Sisanya terdiagnosa setelah terjadi serangan penyakit.

Dalam "Workshop Blogger Kesehatan: Cegah dan Kendalikan PTM, Hari Tembakau Sedunia 2019" yang dihelat pada 18-19 Juni 2019, permasalahan tentang PTM menjadi topik utama. Dalam pembukaan, dr. Cut Putri Arianie selaku Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular (P2PTM) membahas korelasi antara rokok dengan penyakit tidak menular.

"Merokok adalah pintu gerbang dari segala penyakit seperti kanker, obesitas, hipertensi, stroke, jantung dan lain-lain," jelas beliau.


PTM sangat erat kaitannya dengan kualitas dan keseimbangan gizi seseorang. Dengan konsumsi GGL (gula, garam, lemak) berlebih, seseorang bisa terjangkit penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes dan obesitas. Belum lagi ada tembakau dan diet berisiko yang turut menyumbangkan angka penyebab PTM.

80% PTM juga disebabkan oleh perilaku tidak sehat. Contohnya, kurangnya aktivitas fisik, kurangnya konsumsi buah dan sayur, serta konsumsi rokok dan alkohol. Saat ini jumlah remaja dengan rentang usia 10-18 tahun yang merokok juga terus meningkat. Bila terus dibiarkan, penyebaran PTM juga akan semakin meningkat.

Pada kesempatan yang sama, dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes memberikan pemaparan mengenai diet seimbang dan aktivitas fisik untuk pencegahan PTM. Untuk mencegah PTM, diperlukan aktivitas fisik (gerakan sehari-sehari), latihan fisik (gerakan terstruktur dan terencana) dan olahraga (gerakan terstruktur dan terencana untuk prestasi/kompetisi).


Selain itu, ada aturan konsumsi buah dan sayur untuk orang dewasa, yakni 3-4 porsi sayur per hari, dan 2-3 porsi buah per hari. Ada juga aturan porsi makan yang seimbang dengan makanan pokok sebesar 35% (nasi atau penukarnya), 15% lauk hewani dan nabati, 35% sayur dan 15% buah-buahan. Bagi yang sudah terlanjur gemuk, ada pembagian porsi makan model T yang terdiri dari 1/2 piring sayur, dan 1/2 piring lainnya terdiri dari karbohidrat (2/3) dan protein (1/3). Konsumsi buah bisa menjadi selingan.

Pada hari ke-2, saya dan beberapa teman blogger lainnya mendapat kesempatan berkunjung ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Di Poliklinik Edukasi Diabetes Melitus terpadu, dr. Imam Subekti, SpPD memberikan pemaparan mengenai penyakit Diabetes Melitus (DM) di Indonesia. DM terbagi menjadi dua, yaitu DM1 yang muncul akibat pola makan, dan DM2 yang merupakan faktor genetik.

Ciri-ciri DM sendiri biasanya adalah berat badan yang turun serta sering buang air kecil tiap malam. Selain itu, dr. Imam juga menggarisbawahi semakin meningkatnya jumlah penderita Diabetes Melitus dan masih rendahnya upaya pengendalian penyakit ini.


"Permasalahan Diabetes Melitus di Indonesia bukan hanya jumlahnya yang besar, tetapi juga pengendalian penyakit DM yang belum memuaskan," jelasnya.

Diabetes melitus sejatinya bisa ditekan dengan pengendalian gaya hidup, diantaranya pola makan, aktivitas fisik serta aktivitas pikiran. Bila sudah akut, cara menekannya bisa dengan diet, olahraga, obat dan manajemen stres.

Selain diabetes melitus, kami juga berkesempatan melihat langsung hemodialisis atau proses pembersihan darah (yang dulu sering salah kaprah dengan sebutan "cuci darah").

Hemodialisis dilakukan bila pasien menderita penyakit gagal ginjal. Ada pula sharing dengan pasien hemodialisis yang berbagi pengalamannya ketika didiagnosa menderita gagal ginjal dan menjalani proses hemodialisis bertahun-tahun di RSCM.

Akhir kata, PTM sejatinya bisa dikendalikan dan dicegah. Caranya dengan meningkatkan gaya hidup sehat dengan perilaku CERDIK.

  • Cek kondisi kesehatan secara berkala
  • Enyahkan asap rokok
  • Rajin aktifitas fisik
  • Diet dengan gizi seimbang
  • Istirahat yang cukup, dan
  • Kelola stres

Dengan perilaku CERDIK, kita bisa menekan dan mengendalikan penyakit tidak menular. Mari menuju masa muda sehat dan masa tua nikmat dengan hidup "cerdik".


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

JNE Kini Bisa Kirim Paket ke Luar Negeri

Pernahkah Anda terpikir untuk touring ke luar negeri dengan kendaraan kesayangan? Para pecinta motor klasik dan legendaris pastinya tak ingin jauh dari tunggangannya. Namun perkara membawa motor ke luar negeri bukan hal yang mudah. Apalagi jika jaraknya terbentur laut, bukan daratan yang bisa dilalui kendaraan roda dua.

Jangan khawatir. JNE sebagai perusahaan kurir terbesar di Indonesia kini memiliki layanan untuk mengirimkan kendaraan roda dua ke luar negeri. Tentu saja keperluan pengiriman juga harus jelas, untuk keperluan pribadi, komersil, atau untuk eksebisi, alat profesional atau kemanusiaan. Karena itu dibutuhkan dokumen ATA Carnet atau CPD Carnet yang berfungsi layaknya paspor sebagai pengganti dokumen pabean nasional.

Dokumen ATA Carnet berfungsi sebagai dokumen impor dan ekspor sementara untuk barang-barang dengan keperluan pameran/eksebisi, alat profesional, pendidikan, keperluan pribadi wisatawan, keperluan pribadi olahraga dan untuk tujuan kemanusiaan. Sementara dokumen …