Langsung ke konten utama

Libur Lebaran di Jakarta, Keliling Naik MRT Saja


Lebaran tinggal menghitung hari. Sebagian orang telah mudik ke kampung halaman. Sebagian lagi sudah berangkat dan menikmati liburan. Namun, ada juga yang tidak mudik atau liburan dan stay di ibu kota saja. Demi mengisi waktu ada pilihan liburan menarik, salah satunya keliling Jakarta sambil mencoba moda transportasi terbaru dan modern, yaitu Mass Rapid Transit (MRT).

Setelah menungu selama puluhan tahun dan tertinggal jauh dari negara tetangga, Indonesia kini boleh berbangga karena telah memiliki moda transportasi modern, Mass Rapid Transit (MRT). Transportasi yang juga memiliki nama lain Moda Raya Terpadu ini mulai beroperasi sejak Maret 2019. MRT diklaim dapat menghemat waktu perjalanan karena jalurnya yang anti macet dan tepat waktu.

Pengalaman inilah yang coba ditawarkan oleh PT MRT Jakarta dengan memberikan layanan khusus bagi penumpang yang berlibur di ibu kota. Layanan ini berupa paket wisata lebaran dengan perjalanan dari Stasiun Lebak Bulus ke Stasiun HI dan sebaliknya dengan tema "Jelajahi Jakarta Edisi Lebaran" yang berlaku dari tanggal 4 - 9 Juni 2019.


Paket libur lebaran ini mengajak masyarakat untuk mendapatkan experience menggunakan moda transportasi terbaru ibu kota ini. Bukan hanya sekedar piknik dengan naik MRT, namun ada juga edukasi di dalamnya. Tarifnya pun harga normal, yaitu Rp 14.000 untuk sekali perjalanan. Pihak MRT juga sudah menyediakan kartu khusus paket Jelajah Jakarta sehingga tidak perlu repot mengantri.

"Kita beri program edukasi. Dibuat tarifnya dari Bundaran HI ke Lebak Bulus dan balik lagi. Ada kartu yang kita cetak untuk mereka mendapatkan paket tur," kata Dirut PT MRT Jakarta, William Sabandar, di restoran Pikul Coffee, Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (29/5/2019).


Pada kesempatan yang sama, Division Head Corporate Secretary PT MRT Jakarta, Muhammad Kamaluddin mengatakan bahwa layanan paket wisata Jelajah Jakarta hanya berlaku untuk perjalanan dari Stasiun Lebak Bulus sampai Bundaran HI atau sebaliknya. penumpang yang datang sendiri atau rombongan tidak perlu waktu lama saat membeli tiket.

"Jadi untuk trip Lebaran ini tiketnya sudah kita siapkan. Kalau biasanya proses pembelian tiket itu memakan waktu sampai 45 detik, yang khusus Lebaran ini langsung ada," jelas Kamaluddin.

"Program ini bertujuan agar pengguna punya pengalaman naik MRT sampai stasiun terjauh. Kami tidak menganjurkan jika sudah naik minta turun di tengah tengah (rute). Karena karcisnya kan untuk dari ujung ke ujung (Lebak Bulus ke Bundaran HI)," sambungnya.


Di paket wisata Jelajah Jakarta akan ada tour guide yang membantu dan mendampingi selama perjalanan. Mulai dari pembelian tiket, tapping tiket hingga penjelasan tentang tata krama selama di dalam kereta serta memberi penjelasan seputar MRT. Tour guide juga akan menjelaskan informasi setiap stasiun yang dilewati. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menggunakan fasilitasnya saja tetapi juga mendapatkan ilmu.

"Nanti dijelaskan tentang keretanya, seperti apa MRT ini. Tour guide juga membantu saat tapping tiket, kan ada juga yang datang dari luar Jakarta atau baru pertama naik MRT," ujar Kamaluddin.

MRT juga akan membagikan peta lokasi MRT Jakarta dan integrasinya serta promo voucher mulai dari Outback Steakhouse dan tempat menarik lainnya. Diharapkan paket wisata ini dapat menarik pengunjung dari dalam dan luar kota untuk menggunakan MRT.


Buat kamu yang hanya berlibur di Jakarta dan belum berkesempatan mencoba transportasi terbaru ini, tentunya bisa mencoba paket liburan Jelajah Jakarta. Paket wisata dari MRT ini bisa menjadi alternatif liburan selain Ragunan, Ancol atau Taman Mini. Selain juga untuk merasakan betapa nyaman dan modernnya MRT yang fasilitasnya bertaraf internasional, sehingga warga Jakarta bisa beralih ke transportasi publik untuk beraktivitas.

Komentar

  1. Ooo... pakai ada tour guide-nya segala. Sebetulnya jadi penasaran sih, informasi apa ya, yang disampaikan di tour ini.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Hidupkan MalamMu dengan Brilliant Portrait Oppo F11 Pro

Sekitar 10-15 tahun lalu kita mungkin tidak pernah menduga kalau posisi camera digital akan tergantikan oleh kamera ponsel. Memang, saat itu bentuk ponsel masihlah konvensional dimana keyboard fisik masih mendominasi. Kamera dengan layar penuh yang mengandalkan fitur touchscreen (layar sentuh) masih bisa dihitung dengan jari.

2010-an awal, era ponsel pintar (smartphone) dengan layar sentuh mulai menunjukkan tajinya. Dengan fisik yang lebih besar dan layar lebih luas, smartphone menjadi alat telekomunikasi andalan kaum urban.

Fitur yang paling memanjakan pengguna tentu adalah kamera yang semakin canggih serta display layar yang lebih luas. Hal inilah yang membuat kamera digital semakin tergerus, apalagi fitur-fiturnya telah diadopsi oleh smartphone.

Akan tetapi, sebagus atau secanggih apapun kamera smartphone tetaplah memiliki kekurangan. Salah satunya memotret di malam hari. Seperti kita tahu, di ruangan yang gelap dan minim cahaya, kamera ponsel akan menunjukkan "kelemahan"…