Langsung ke konten utama

"Koboy Kampus", Cerita Nostalgia, Romansa dan Nasionalisme


"Kampusmu adalah kampusmu, tetap yang terbaik. Orang-orang harus tahu. Semuanya adalah romantisme, sisanya adalah perjuangan."

Bagi penggemar trilogi novel Dilan dan juga adaptasinya yang diangkat ke layar lebar pasti tak asing dengan sosok Pidi 'Surayah' Baiq. Sosok dibalik sukses novel-novel karyanya serta pendiri band The Panasdalam kini kembali dengan karya fenomenal, membesut sebuah film biografi tentang dirinya sendiri yang diberi judul "Koboy Kampus".

Merupakan kolaborasi MNC Pictures dan 69 Production, Koboy Kampus menjadi film pertama dimana Pidi Baiq duduk di bangku sutradara bersama Tubagus Deddy. Keduanya pun juga turut menjadi penulis dari film yang memerlukan riset selama enam tahun ini. Lalu bagaimanakah kisah Pidi Baiq yang terkenal cerdas, absurd dan jenaka ini di masa mudanya ketika duduk di bangku kuliah.

***

Tahun 90-an, kala mahasiswa begitu aktif dalam mengkritisi pemerintah, muncullah sosok Pidi Baiq (Jason Ranti) yang sedang menuntut ilmu di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Bersama Ninu (Ricky Harun), Deni (Bisma Karisma), Erwin (David John Schaap) dan Dikdik (Moqdad Auddasy), kelimanya menyebut diri sebagai Koboy Kampus, sebuah istilah bagi para mahasiswa yang lama menghabiskan waktu di kampus.


Berbeda dengan mahasiswa lainnya yang mengkritisi pemerintahan Orde Baru dengan berdemo dan melakukan orasi turun di jalan, Pidi dan kawan-kawan lebih lebih memilih mengkritik lewat sisi kreatif. Pidi juga membentuk 'negara’ sendiri yang terpisah dari Indonesia bernama Negara Kesatuan Republik The Panasdalam dimana 'penduduknya' adalah teman-teman Pidi sendiri.

Seperti cerita masa kuliah umumnya, para koboy kampus terlibat dengan berbagai permasalahan mulai dari akademi, demonstrasi yang marak dilakukan oleh mahasiswa pada masa itu, persahabatan juga percintaan dengan latar akhir masa Orde Baru.

***


Nostalgia.

Satu kata itu repat untuk menggambarkan bagaimana kisah Koboy Kampus. Mereka yang lahir dan besar di era 90-an, terutama yang duduk di bangku kuliah, pasti familiar dengan segala aktivitas mahasiswa yang sering melakukan orasi dan berdemonstrasi dengan turun di jalan.

Selain itu, nostalgia lain yang diberikan oleh film ini adalah penggambaran jadul tahun 90-an seperti menelepon di wartel atau telepon umum. Ada juga fashion khas 90-an serta gombalan-gombalan di masa pedekate yang hits pada zamannya.


Pidi Baiq juga menyelipkan lagu-lagu The Panasdalam ke dalam dialog yang menjadi pelengkap. Lirik lagu yang dinyanyikan Pidi dkk memiliki makna yang dalam dan bahasa yang unik, seolah mempertegas adegan ketika lagu itu dinyanyikan. Total ada 16 lagu The Panasdalam yang menghiasi Koboy Kampus.

Sisi positif dari Koboy Kampus adalah bagaimana cerita dibuat apa adanya. Tak ada konflik dengan permasalahan yang kompleks mengenai kisah hidup seseorang. Konfliknya sendiri berasal dari para karakter yang ditunjukkan dari keresahan dalam lagu-lagu yang dinyanyikan. Alurnya cukup sederhana dengan balutan komedi yang berasal dari dialog dan gerak-gerik polos ala mahasiswa saat itu.


Pemilihan aktor yang memerankan karakter film ini juga menjadi nilai tambah, dimana Ayah sendiri yang menunjuk Jason Ranti sebagai pemeran 'dirinya'. Semua aktor pun dipilih karena memiliki kedekatan dengan tokoh aslinya. Bahkan, saat syuting mereka dibebaskan untuk menjadi diri sendiri.

Ke-5 aktor yang menjadi pemeran utama memiliki chemistry yang kuat, seolah sudah bersahabat lama. Para pemeran pendukung seperti Vienny JKT48, Jennifer Lepas, Anfa Safitri, Steffi Zamora, Danilla Riyadi, dan Christina Colodam juga bukan hanya menjadi pemanis, tapi juga berperan dalam sejarah The Panasdalam.

Namun, tak ada gading yang tak retak. Meski tidak bisa dikatakan buruk, Koboy Kampus adalah film yang datar. Adegan menghibur, komedi absurd dan lagu jenaka justru kurang mempertegas tema 'nasionalis' yang sejatinya ingin diangkat di film ini, yang tentunya bisa mencapai klimaks maksimal di adegan terakhir.


Koboy Kampus mungkin bukan karya terbaik Pidi Baiq. Film ini seolah ditujukan untuk mereka yang besar di zaman Orde Baru dan rindu masa 90-an, yang ketika menontonnya pasti akan senyum-senyum sendiri. Bagi penggemar Pidi Baiq, film ini akan menjadi tontonan menghibur dari awal hingga akhir dengan pesan nasionalis yang mendalam.

Menonton Koboy Kampus layaknya mengambil buku secara random lalu membaca ceritanya bab demi bab mengenai tragedi dan komedi dengan pesan tersirat. Kemudian pembaca seperti menemukan buku bacaan yang bagus untuk mengisi waktu luang.

Ya, sesederhana itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ariana dan Kata Hatinya

Malam itu hujan deras turun. Dengan tergesa-gesa gue langsung menuju restoran dimana teman-teman janjian kumpul disana. Seperti biasa, yang janji mau ngumpul ada enam-tujuh orang, yang baru nongol baru satu orang. Dari jauh terlihat Cindy sedang sibuk membuka buku menu sambil sesekali melirik smartphone yang ditaruh tepat di sampingnya.

"Baru lu doang nih yang dateng? Yang lain pada kemana?" tanya gue sambil menarik kursi.

"Eh, Wil. Baru nyampe lu? Tau nih, yang lain pada ngaret," jawab Cindy sambil menggerutu.

"By the way kemana aja lu? Sok sibuk banget sih. Kemarin pas mau nonton bareng, bilangnya lagi lembur. Pas diajak CFD, malah meeting sama klien di luar. Sibuk banget lu kerja, kaya juga nggak. Hahhaha.." Cindy tertawa sambil meledek.

"Iya, iya.. sorry. Lagi banyak kerjaan nih," kata gue memelas sambil memanggil pelayan untuk pesan minuman.

Tak berapa lama, terlihat seorang wanita berlari kecil menghampiri kami dengan pakaian yang sedikit lep…

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Hidupkan MalamMu dengan Brilliant Portrait Oppo F11 Pro

Sekitar 10-15 tahun lalu kita mungkin tidak pernah menduga kalau posisi camera digital akan tergantikan oleh kamera ponsel. Memang, saat itu bentuk ponsel masihlah konvensional dimana keyboard fisik masih mendominasi. Kamera dengan layar penuh yang mengandalkan fitur touchscreen (layar sentuh) masih bisa dihitung dengan jari.

2010-an awal, era ponsel pintar (smartphone) dengan layar sentuh mulai menunjukkan tajinya. Dengan fisik yang lebih besar dan layar lebih luas, smartphone menjadi alat telekomunikasi andalan kaum urban.

Fitur yang paling memanjakan pengguna tentu adalah kamera yang semakin canggih serta display layar yang lebih luas. Hal inilah yang membuat kamera digital semakin tergerus, apalagi fitur-fiturnya telah diadopsi oleh smartphone.

Akan tetapi, sebagus atau secanggih apapun kamera smartphone tetaplah memiliki kekurangan. Salah satunya memotret di malam hari. Seperti kita tahu, di ruangan yang gelap dan minim cahaya, kamera ponsel akan menunjukkan "kelemahan"…