Kenali dan Cegah Bunuh Diri Sejak Dini


Saya pernah membaca tentang bagaimana cara kita merespon status seseorang, terutama yang kita kenal, di media sosial bila terindikasi ingin mengakhiri hidup. Bukan menganggapnya sebagai lelucon, namun kita harus meresponnya dengan cepat dan tanggap. Karena bisa jadi mereka memang terindikasi ingin bunuh diri.

Contoh lain, bila kita mengetik "Club 27" di Google, kita akan mendapatkan informasi para artis dan publik figur yang meninggal di usia 27 tahun dimana mayoritas meninggal karena bunuh diri. Selain itu, sekitar awal tahun 2010-an juga sempat heboh berita orang bunuh diri yang terjun dari lantai atas sebuah mall atau pusat perbelanjaan.

Tanpa disadari ketiga contoh di atas adalah trigger tindakan bunuh diri yang banyak dilakukan oleh orang-orang. Adanya artis yang bunuh diri, banyaknya berita tentang bunuh diri sampai lingkungan sekitar dimana bunuh diri marak dilakukan menjadi pemicu sebuah tindakan bunuh diri.

***

Dalam memperingati World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2019 yang jatuh pada 10 Oktober, Kementerian Kesehatan mengadakan acara Temu Blogger dengan tema "Mental Health Promotion And Suicide Prevention". Turut hadir sebagai narasumber dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si, dr. Fidiansyah, SpKJ, dan psikolog Novi Yulianty M. PSi.

Acara ini bertujuan untuk mengupayakan tindak promotif serta preventif atau pencegahan bunuh diri. Bunuh diri adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri juga berkaitan erat dengan kesehatan jiwa seseorang. Dan bunuh diri juga menjadi penyebab kematian nomor 2 untuk masyarakat berusia 15-29 tahun.


Beberapa faktor yang menimbulkan keinginan untuk bunuh diri antara lain: kesepian, merasa tidak dibutuhkan, putus asa, merasa tertekan, dan lain-lain. Mereka yang mengalami bullying, trauma, diskriminasi, riwayat anggota keluarga bunuh diri sampai mudahnya mendapatkan alat untuk bunuh diri (pil, tali, pistol, dll) juga berisiko terdorong melakukan tindak bunuh diri.

Yang lebih mengerikan, masyarakat ternyata dapat memperberat risiko bunuh diri dengan cara memberi perlakuan diskriminatif, stigma negatif sampai cerita tentang bunuh diri yang tidak tepat. Bunuh diri pun juga bisa menular. Caranya melalui trigger yang sudah saya bahas sebelumnya (celebrity suicide, berita bunuh diri).

***


Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah tindakan bunuh diri? Pertama, kenali tanda-tandanya. Kedua, waspadai anak atau remaja yang rentan atau berisiko bunuh diri. Ketiga, memberi dukungan sosial. Bila kita melihat tanda-tanda seseorang yang terindikasi ingin bunuh diri, bantu dengan menunjukkan empati, mengajaknya bicara untuk menyelesaikan masalah. Bila perlu, cari bantuan profesional untuk mengatasinya.

Sementara itu, media massa juga bisa ikut membantu mencegah tindak bunuh diri, antara lain:

  • Menekankan informasi bahwa bunuh diri merugikan masyarakat.
  • Hati-hati dalam menayangkan "celebrity suicide".
  • Berkoordinasi dengan petugas kesehatan sebelum menayangkan berita bunuh diri.
  • Menginformasikan cara menghindari tindakan bunuh diri.



Sejatinya, bunuh diri terjadi karena banyak faktor. Maka dari itu kita tak bisa angsung menyalahkan korban. Adanya tanda-tanda tidak berarti orang tersebut mau bunuh diri, namun kita perlu meresponnya dengan serius. Mari kenali dan cegah bunuh diri sejak dini.

Komentar

Postingan Populer