Langsung ke konten utama

Interceptor, Alat 'Penutup Keran' Sampah Plastik ke Lautan


Sampah plastik adalah masalah yang cukup pelik. Tak hanya merusak lingkungan, banyaknya sampah plastik juga berpengaruh pada kualitas kesehatan lingkungan dan juga daya tarik wisata. Contohnya, ada pantai yang keindahannya tercoreng akibat sampah di sekelilingnya. Belum lagi banyak biota laut yang menjadi korban banyaknya sampah, terutama sampah plastik, di lautan.

Plastik memang masih menjadi wadah favorit masyarakat. Selain murah, penggunaan plastik juga ringan, mudah dibawa dan praktis. Sayangnya plastik memiliki sifat sulit terurai sehingga tidak ramah lingkungan. Penggunaan plastik sekali pakai juga berpotensi mencemari lingkungan karena akan terbuang menjadi sampah dan limbah plastik.

Sampah plastik yang terhanyut di sungai dan saluran air akan menumpuk dan mengalir hingga bermuara ke laut. Inilah penyebab mengapa kita seringkali melihat sampah di laut. Lalu bagaimana solusi untuk mengurangi beban sampah yang sudah memcemari lingkungan ini?

***


"Solusinya ada dua, yaitu membersihkan yang sudah terlanjur masuk ke lautan, dan menutup keran," tutur Boyan Slat, Founder dan CEO The Ocean Cleanup dalam acara “Innovatin on Waste Management River Plastic Interception” di Hotel Kempinski Jakarta, Kamis (31/10/3019).

"Agar sampah benar-benar hilang dari laut, kita harus membersihkan sampah plastik yang sudah ada di laut dan disaat bersamaan ‘menutup keran’ sampah plastik, yaitu sungai, agar tidak ada lagi aliran sampah plastik masuk ke laut. Dengan 'menutup keran' (closing the tap), kita mencegah sampah-sampah di sungai mengalir ke lautan," jelasnya.

Boyan Slat dan tim The Ocean Cleanup menciptakan alat bernama Interceptor. Alat pertama bernama Interceptor 001 yang telah beroperasi di Jakarta, tepatnya di Cengkareng Drain sejak Mei 2019. Interceptor 001 merupakan kerja sama antara The Ocean Cleanup, Danone-AQUA, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia.


Cara kerja Interceptor sangat sederhana. Alat ini berupa kapal yang memiliki beberapa komponen dengan kinerja otomatis, menggunakan tenaga surya, tidak berbunyi atau bising dan tidak mengeluarkan asap sehingga bebas polusi udara dan polusi suara.

Mekanismenya, sampah terlebih dahulu diarahkan menuju Interceptor menggunakan dua tali penjaring. Begitu sampah menuju bibir Interceptor, terdapat conveyor belt untuk mengangkat sampah-sampah tersebut menuju bagian atas Interceptor. Kemudian dari conveyor belt itu, sampah dimasukkan ke dalam kontainer-kontainer yang tersedia.

Interceptor akan memberitahu collaborator jika kontainer telah penuh melalui sistem. Jika kontainer penuh, petugas tinggal mengosongkan kembali kontainer-kontainer tersebut. Proses memilah sampah dilakukan di darat secara manual.


"Interceptor adalah solusi jangka panjang yang cocok untuk Indonesia. Dengan menaruh Interceptor di sungai akan mencegah sampah-sampah masuk ke lautan. Dengan mekanisme tersebut, Interceptor bisa mengangkut sampai 100 ribu kilogram sampah per hari," ujar Boyan.

Saat ini sudah ada empat Interceptor di dunia. Dua di ataranya, yaitu Interceptor 001 telah beroperasi di Jakarta dan Interceptor 002 beroperasi di Klang (Malaysia). Interceptor 003 akan ditempatkan di Mekong Delta (Vietnam), dan Interceptor 004 yang baru-baru ini dirilis akan ditempatkan di Santo Domingo (Republik Dominika).

***

Pada kesempatan yang sama, Ir Suharti M A PhD selaku Deputi Gubernur Bidang Pengendalian Kependudukan dan Kepemukiman Pemprov DKI Jakarta, mengatakan bahwa produksi sampah di Jakarta terus mengalami peningkatan. Dalam waktu lima tahun terakhir, jumlah sampah di DKI Jakarta bertambah sebanyak 36%.


"Ada 7.700 ton sampah di Jakarta per hari. Setiap hari juga ada 250 ton sampah yang diangkut dari badan air," bebernya.

Hadirnya Interceptor yang merupakan kolaborasi dengan The Ocean Cleanup sangat penting untuk tata kelola sampah. Hal ini juga diamini oleh Direktur Utama PT Tirta Investama (Danone-AQUA), Corine Tap, yang menyebut bahwa AQUA telah menyiapkan perlengkapan untuk daur ulang sejak 10 tahun lalu demi mengurangi sampah plastik.

"Sejak 46 tahun lalu AQUA menjadi pionir minuman kemasan. Kami sadar bahwa sampah plastik menjadi masalah yang serius. Karena itu kemasan kami dirancang untuk bisa didaur ulang," jelas Corine.

"Kami juga mengadakan gerakan bijak berplastik. Hingga kini kami tetap mewujudkan impian untuk terus menjaga lingkungan, seperti sekarang ini kami bekerjasama dengan The Ocean Cleanup," tambahnya.


Interceptor 001 merupakan bagian dari kerja sama penelitian antara Danone dan The Ocean Cleanup yang dimulai Januari 2018. Di Indonesia, kerja sama tersebut dimulai sejak 2018 antara Pemerintah Indonesia dan Belanda, dan dikembangkan lebih lanjut pada Mei 2019 dengan penambahan program penelitian yang dikoordinir oleh AQUA untuk menemukan metode pengumpulan dan pengolahan sampah plastik dari sungai agar sampah tersebut tidak mengotori laut.

Karena permasalahan sampah plastik sangat kompleks dan berdampak negatif, AQUA bekerja sama dengan pemerintah, komunitas pemulung, bank sampah dan pemangku kepentingan lain, membentuk program untuk mengumpulkan 12.000 ton sampah setiap tahun. Melalui 6 unit daur ulang (RBU) yang dikembangan AQUA bersama partner lokal, sampah-sampah itu kemudian diolah kembali menjadi bahan baku botol baru.

"Target kami, pada 2025, semua kemasan air mineral kemasan AQUA merupakan botol daur ulang," tutup Corine.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Perjalanan Menuju Pagi

Gelap gulita menyergap, namun tak menyurutkan kaki untuk melangkah..

Ribuan derap langkah kaki merayap dalam sendu, sebagian terantuk sebagian tertatih..

Cahaya kecil menerangi jalan, dengan keringat yang terhapus dinginnya pagi..

Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, tak ada kata untuk mundur..

Dari balik daun, semburat jingga terbangun dari tidur lelapnya..

Sedikit lagi..

Sedikit lagi..

Hanya tinggal beberapa tapak langkah kaki lagi..

Di atas sana, kaki-kaki yang sudah lelah melangkah beristirahat..

Menunggu..

Menunggu..

Dan menunggu..

Cahaya keemasan itu akhirnya muncul, membayar lelah ribuan pasang mata yang menantinya..

Sebagian terdiam..

Sebagian terkejut..

Sebagian bersikap tak acuh dan menyibukkan diri..

Tak ada yang lebih indah daripada melihat anugerah Tuhan, ciptaanNya yang sempurna..

Yang menandakan, hari ini adalah hari baru, semangat baru dan harapan baru..

Lupakan yang telah berlalu, mari songsong hari baru dengan senyuman..

Selamat pagi dunia..

Ayo, Kurangi Penggunaan Plastik!

Beberapa waktu lalu ramai di media sosial mengenai sampah plastik yang ditemukan dalam perut ikan. Ada pula biota laut yang habitatnya tercemar plastik sehingga mengiranya sebagai makanan. Atau cerita plastik kemasan makanan instan yang ditemukan masih utuh meski sudah lebih dari dua dekade terombang-ambing dan mengapung di laut.

Permasalahan sampah plastik sudah menjadi masalah internasional. Banyak negara yang mengupayakan berbagai cara untuk menekan angka jumlah sampah plastik. Salah satunya dengan memproduksi plastik ramah lingkungan yang mudah hancur dalam waktu relatif singkat. Selain itu, juga dengan cara meminimalisir penggunaan plastik.

Sebagai wujud cinta terhadap bumi yang kita pijak dan hirup udaranya ini, sudah sepatutnya kita berperan serta dalam upaya menekan jumlah sampah plastik. Bukankah banyaknya sampah plastik juga akibat perbuatan manusia. Karena itulah kita bisa turut aktif dalam kampanye minimalisir penggunaan plastik, yaitu dengan cara:


1. Mengganti plastik de…