Pentingnya Sanitasi Aman Demi Lingkungan Sehat dan Nyaman


Sekitar tahun 90-an dan ketika masih kecil, saya pernah tinggal di suatu daerah yang memiliki lingkungan sanitasi yang sangat buruk. Saat itu, saya dan ibu mengontrak di suatu rumah yang hanya memiliki bilik untuk mandi dengan sumber air berasal dari sumur. Parahnya lagi tidak ada toilet, jamban, lubang kakus atau sejenisnya.

Jadi, mereka yang ingin buang air besar disediakan tempat di atas selokan dimana terdapat lubang untuk membuang kotoran yang langsung 'jatuh' di selokan. Tak perlu ditanya, selokan dengan lebar sekitar 3 meter itu dipenuhi kotoran yang bertumpuk. Selain menimbulkan bau tak sedap, selokan penuh hajat manusia itu juga menjadi sumber penyakit.

Cerita di atas mengingatkan saya bahwa sanitasi saat itu masih sangat buruk. Bahkan tak semua rumah memiliki septic tank. Padahal, sanitasi yang aman sangat penting agar lingkungan menjadi sehat serta nyaman ditinggali baik oleh pemilik rumah dan juga tetangga di sekitarnya.

Lalu, bagaimana perkembangan sanitasi di zaman now?

***


Saat ini, akses sanitasi di Indonesia sudah mengalami kemajuan. Data pada 2018 menunjukkan bahwa akses sanitasi ke toilet sudah menunjukkan angka lebih dari 74,5% dimana 7% di dalamnya termasuk sanitasi aman. Akan tetapi pemcapaian ini tidak dibarengi dengan penurunan penyakit diare dan stunting.

Data di tahun yang sama menunjukkan rata-rata kejadian diare di Indonesia mencapai 7% dan tingkat stunting masih di atas 30%. Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun akses sanitasi meningkat, namun masih belum aman.

Mengapa? Alasannya meski memiliki septic tank ada juga yang tidak rutin dikuras/disedot. Belum lagi bila limbah tinja dibuang ke selokan terdekat yang bisa mencemari air resapan yang digunakan untuk MCK atau untuk dikonsumsi.


Dalam rangka memperingati Hari Toilet Sedunia yang jatuh pada 19 November, USAID IUWASH PLUS dan PD PAL JAYA bekerjasama dengan menggelar acara "Kumpul Blogger & Vlogger: Sanitasi Aman Mulai Kapan?" pada Selasa (19/11/2019). Acara ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi dan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola sanitasi dengan aman.

Acara ini dihadiri oleh Ika Fransisca selaku Advisor Bidang Pemasaran dan Perubahan Perilaku USAID IUWASH PLUS, Subekti selaku Direktur Utama PD PAL JAYA, dan Zaidah Utami seorang Sanitarian sekaligus pekerja di Bidang Kesehatan Lingkungan dari Puskesmas Kecamatan Tebet.

Masing-masing narasumber memberikan pemaparan sekaligus pengalamannya perihal sanitasi. Misalnya, masih ada daerah di Indonesia bahkan kota besar yang akses sanitasinya sangat buruk. Tak hanya itu, para peserta acara yang hadir juga melakukan kunjungan lapangan ke suatu kawasan di Tebet yang pengolahan tinjanya belum memadai.

***

Sejujurnya saya cukup kaget ketika mendengar bahwa ada kawasan di daerah Tebet yang sanitasinya masih cukup buruk. Padahal, kawasan ini berada di daerah Jakarta Selatan dan terkenal dengan wisata kulinernya. Namun tak disangka, di balik kemewahannya terdapat sisi lain yang tak bisa dilihat dari luar.

Para blogger dan vlogger berkunjung ke RT 8/RW 10 Kelurahan Tebet Timur yang juga masuk dalam program SIMASKOTA (Sanitasi Untuk Masyarakat Kota). Disana kami berkunjung ke tiga lokasi. Pertama adalah rumah milik Pak Wahyono yang membuat septic tank setelah menyadari bahaya dari sanitasi yang buruk. Bahkan, beliau membangun septic tank dari kocek pribadinya.






Kedua, rumah seorang warga dimana sedang dikuras/disedot septic tanknya oleh Layanan Penyedotan Lumpur Tinja milik PD PAL JAYA. Ketiga, sebuah IPAL (Instalasi Pengolahan Air Tinja) KOMUNAL yang dibangun atas kesadaran beberapa warga di wilayah tersebut akan pentingnya sanitasi yang aman dan sehat.

Selain itu, warga setempat juga dihimbau untuk membangun pipa komunal sehingga pembuangan limbah tinja diarahkan ke septic tank bersama (IPAL KOMUNAL), bukan langsung ke selokan. Meskipun 'telat', setidaknya RT 8/RW 10 Kelurahan Tebet Timur sudah memulai langkah awal untuk membangun akses sanitasi yang baik.

Pemerintah juga bekerjasama dengan pihak swasta, LSM dan kelompok masyarat untuk mensosialisasikan sanitasi yang bersih dan aman. Dengan demikian, lingkungan yang bebas polusi bau tak sedap dan bakteri seperti e-coli bukan hanya mimpi. Semoga wilayah lain di Indonesia mendapat pemerataan dengan memiliki sanitasi yang baik, sehat, aman dan nyaman.



Komentar

Postingan Populer