Langsung ke konten utama

Menanam Kembali Pohon Lewat Kampanye ‘FWD Go Green’


Indonesia adalah negeri yang kaya akan alam yang indah. Hutan, gunung, sawah sampai lautan adalah simpanan kekayaan yang mengundang decak kagum siapa saja yang memandanginya. Akan tetapi, Indonesia tak lepas dari masalah yang menyangkut alam. Contohnya, kebakaran hutan yang kerap terjadi dan sering terulang setiap tahunnya.

Masalah kebakaran hutan bukan hanya mengakibatkan polusi udara saja, lahan di sekitar hutan menjadi rusak, tandus dan tidak ada pepohonan. Warga yang tinggal di daerah sekitarnya juga harus dievakuasi karena kualitas udara yang buruk. Untuk mengatasinya harus dengan menanam benih baru sampai tumbuh menjadi pohon.

Atas dasar masalah kebakaran dan misi untuk memulihkan konservasi hutan inilah FWD Life Indonesia dan Yayasan World Wide Fun for Nature (WWF) Indonesia bekerjasama dalam kampanye Go Green. Sebagai perusahaan asuransi jiwa di Indonesia, FWD Life berupaya untuk mendukung kelestarian lingkungan dengan mendorong nasabah menggunakan e-policy (polis elektronik).


Sebagai informasi, FWD Life sudah tidak menggunakan kertas untuk polis asuransi. Sebagai gantinya, nasabah diberikan e-policy berbentuk digital yang berisi informasi penting polisnya, tak jauh berbeda dengan polis fisik. Nantinya, polis asuransi akan dikonversi menjadi pohon yang ditanam untuk kelestarian alam dan konservasi hutan.

“Membeli dan memiliki polis asuransi dalam bentuk fisik dapat menghabiskan banyak kertas yang tentunya memiliki dampak negatif terhadap lingkungan.Kami memulai kampanye Go Green untuk membantu nasabah memahami manfaat di balik e-Policy,” ujar Director and Chief of Proposition and Sharia Officer FWD Life, Ade Bungsudi acara Konferensi Pers “FWD Go Green: Melestarikan Hutan Indonesia dan Apresiasi Kepada Pegiat Konservasi” di Jakarta, Rabu (9/12/2019).

Kampanye ini selain bertujuan untuk melestarikan lingkungan juga mengajak nasabah ikut berkontribusi menyelamatkan Bumi. Setiap e-policy yang terjual akan dikonversi menjadi donasi yang akan digunakan untuk memulihkan dan merestorasi hutan dan lahan di Indonesia.

“Kami memutuskan untuk bekerja sama dengan WWF Indonesia demi membantu menyelesaikan masalah kebakaran hutan dengan cara memulihkan dan menanami kembali hutan dan lahan bekas kebakaran. Kampanye Go Green bertujuan untuk merestorasi hutan yang rusak akibat kebakaran serta memberikan sumbangan kepada orang-orang yang memerangi kebakaran ini,” kata Chief Marketing Officer FWD Life, Maika Randini.


Di sisi lain, WWF Indonesia menyambut baik kerja sama denan FWD Life karena program penyelamatan hutan melalui e-policy ini saling berkaitan dan juga mendukung program 'My Baby Tree' milik WWF. Tak hanya itu, FWD Life juga membantu donasi asuransi para pegiat lingkungan di Pulau Kalimantan dan Sumatera yang telah membantu dalam menanggulangi kebakaran hutan di Tanah Air.

Terhitung ada 36 pegiat konservasi yang membantu memadamkan kebakaran di area yang terkena dampak. Para pegiat konservasi ini akan dilindungi dengan asuransi BEBAS AKSI FLASH, asuransi kecelakaan diri komprehensif dari FWD Life, selama 3 bulan dengan total kompensasi hingga Rp 1,8 miliar.


“FWD Life memiliki semangat yang sama dengan WWF-Indonesia dan percaya bahwa kita harus melestarikan bumi dan menciptakan keharmonisan alam. Para pegiat konservasi yang berada di lapangan telah bekerja tanpa lelah untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan melestarikan alam,” kata Direktur Human Capital abd Legal WWF Indonesia, Apin Aviyan.

“Kampanye ini tidak hanya berarti banyak bagi mereka, tetapi juga membantu kita untuk menginspirasi masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan untuk masa depan kita semua, rakyat Indonesia,” tutupnya.

Tak hanya mendukung para pegiat konservasi, FWD Life juga akan menanam dan merawat pohon di daerah terdampak kebakaran hutan di Sumatera sebagai bagian dari kampanye Go Green. Jumlah pohon yang ditanam juga merupakan hasil konversi dari jumlah e-Policy yang dibeli. Nasabah tidak hanya dapat melindungi diri sendiri dan orang yang mereka cintai, tetapi juga lingkungan dimana pada akhirnya memberikan masa depan yang lebih baik untuk generasi berikutnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Menuju Pagi

Gelap gulita menyergap, namun tak menyurutkan kaki untuk melangkah..

Ribuan derap langkah kaki merayap dalam sendu, sebagian terantuk sebagian tertatih..

Cahaya kecil menerangi jalan, dengan keringat yang terhapus dinginnya pagi..

Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, tak ada kata untuk mundur..

Dari balik daun, semburat jingga terbangun dari tidur lelapnya..

Sedikit lagi..

Sedikit lagi..

Hanya tinggal beberapa tapak langkah kaki lagi..

Di atas sana, kaki-kaki yang sudah lelah melangkah beristirahat..

Menunggu..

Menunggu..

Dan menunggu..

Cahaya keemasan itu akhirnya muncul, membayar lelah ribuan pasang mata yang menantinya..

Sebagian terdiam..

Sebagian terkejut..

Sebagian bersikap tak acuh dan menyibukkan diri..

Tak ada yang lebih indah daripada melihat anugerah Tuhan, ciptaanNya yang sempurna..

Yang menandakan, hari ini adalah hari baru, semangat baru dan harapan baru..

Lupakan yang telah berlalu, mari songsong hari baru dengan senyuman..

Selamat pagi dunia..

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Semangkuk Soto, Segelas Anggur dan Peragaan Busana

Beberapa waktu lalu Kementerian Pariwisata telah menetapkan lima makanan yang menjadi kuliner nusantara. Selain menjadi ikon kuliner, makanan-makanan tersebut juga menjadi salah satu media promosi untuk memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Menariknya, Rendang yang saya kira berada di urutan pertama, ternyata ada di posisi kedua. Nomor satu yang menjadi ikon kuliner Indonesia adalah SOTO.
Mengapa soto bisa jadi nomor satu, dibandingkan rendang yang sudah mendunia (apalagi ketika dinyanyikan oleh Bule yang jatuh cinta pada masakan khas Minang itu). Jawabannya adalah selain merupakan kuliner asli Indonesia, soto mudah ditemukan di dimana-mana, bahkan setiap daerah punya ciri khas soto masing-masing. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan atau Soto Banjar dengan bumbu, rempah serta kearifan lokal dari kota asalnya.
Selaras dengan momen tersebut, Summarecon Mal Kelapa Gading bersama Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarak…