Langsung ke konten utama

Sinergi BPJS Kesehatan dan Persi Dalam Meningkatkan Kualitas Layanan Kesehatan


BPJS telah berkomitmen untuk meningkatkan mutu dan kualitas layanan yang diterima oleh peserta, sejalan kenaikan iuran JKN-KIS per 1 Januari 2020. Hal ini dilakukan sesuai dengan kesepakatan antara BPJS Kesehatan (BPJSK) dan Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (Persi) pada November 2019 lalu dalam peningkatan kualitas layanan dari fasilitas kesehatan.

Beberapa peningkatan kualitas pelayanan tersebut antara layanan antrean elektronik dalam rangka memberikan kepastian waktu layanan pada peserta JKN-KIS. Selain itu, rumah sakit (RS) harus memiliki display informasi ketersediaan tempat tidur untuk perawatan. Pendaftaran pelayanan dan informasi ketersediaan tempat tidur kini bisa juga diakses melalui aplikasi Mobile JKN.

Dengan menampilkan display ketersediaan tempat tidur, pasien yang akan rawat inap dapat mengetahui kondisi ketersediaan tempat tidur. Bahkan, kini sudah ada jadwal tindakan atau operasi yang dilakukan di RS.


Ya, jadwal Tindakan Operasi adalah fitur baru lainnya dalam aplikasi Mobile JKN. Fitur ini menjadi sarana informasi jadwal tindakan operasi pribadi peserta, yang terdiri dari informasi jadwal pelaksanaan, nama rumah sakit, SMF dan jenis tindakan.

Fitur ini juga menyediakan informasi jadwal operasi yang ada di rumah sakit yang telah melakukan bridging aplikasi, sehingga dapat memberikan alternatif pilihan rumah sakit sebagai tujuan tempat pelaksanaan tindakan operasi di lokasi terdekat peserta.

BPJSk juga telah mengintegrasikan sistem informasi dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL). Peserta JKN-KIS yang dirujuk dari FKTP bisa langsung didaftarkan ke dalam antrean dengan menggunakan aplikasi Mobile JKN dalam fitur Pendaftaran Layanan.

Fitur baru yang ada dalam Mobile JKN ini terintegrasi dengan data nomor rujukan pada aplikasi Pcare milik FKTP. Fitur ini juga memungkinkan peserta untuk bisa mengubah jadwal kedatangan 1 kali ke RS sehingga ada kepastian kedatangan dan kepastian pelayanan di RS.


Komitmen lainnya yang disepakati BPJSK bersama Persi adalah kemudahan (simplifikasi) pelayanan bagi pasien gagal ginjal kronis yang rutin mendapatkan layanan cuci darah (hemodalisis) di rumah sakit dan sudah terdaftar dengan menggunakan sidik jari (finger print), kini tidak perlu lagi membawa surat rujukan dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Tentu saja simplifikasi ini diharapkan dapat memotong birokrasi dan semakin mempermudah pasien JKN-KIS untuk dapat mengakses layanan cuci darah. Dengan demikian, pasien peserta JKN-KIS tidak harus repot mengurus surat rujukan dari FKTP yang harus diperpanjang setiap tiga bulan sekali untuk mengakses layanan hemodialisis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Menuju Pagi

Gelap gulita menyergap, namun tak menyurutkan kaki untuk melangkah..

Ribuan derap langkah kaki merayap dalam sendu, sebagian terantuk sebagian tertatih..

Cahaya kecil menerangi jalan, dengan keringat yang terhapus dinginnya pagi..

Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, tak ada kata untuk mundur..

Dari balik daun, semburat jingga terbangun dari tidur lelapnya..

Sedikit lagi..

Sedikit lagi..

Hanya tinggal beberapa tapak langkah kaki lagi..

Di atas sana, kaki-kaki yang sudah lelah melangkah beristirahat..

Menunggu..

Menunggu..

Dan menunggu..

Cahaya keemasan itu akhirnya muncul, membayar lelah ribuan pasang mata yang menantinya..

Sebagian terdiam..

Sebagian terkejut..

Sebagian bersikap tak acuh dan menyibukkan diri..

Tak ada yang lebih indah daripada melihat anugerah Tuhan, ciptaanNya yang sempurna..

Yang menandakan, hari ini adalah hari baru, semangat baru dan harapan baru..

Lupakan yang telah berlalu, mari songsong hari baru dengan senyuman..

Selamat pagi dunia..

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Semangkuk Soto, Segelas Anggur dan Peragaan Busana

Beberapa waktu lalu Kementerian Pariwisata telah menetapkan lima makanan yang menjadi kuliner nusantara. Selain menjadi ikon kuliner, makanan-makanan tersebut juga menjadi salah satu media promosi untuk memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Menariknya, Rendang yang saya kira berada di urutan pertama, ternyata ada di posisi kedua. Nomor satu yang menjadi ikon kuliner Indonesia adalah SOTO.
Mengapa soto bisa jadi nomor satu, dibandingkan rendang yang sudah mendunia (apalagi ketika dinyanyikan oleh Bule yang jatuh cinta pada masakan khas Minang itu). Jawabannya adalah selain merupakan kuliner asli Indonesia, soto mudah ditemukan di dimana-mana, bahkan setiap daerah punya ciri khas soto masing-masing. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan atau Soto Banjar dengan bumbu, rempah serta kearifan lokal dari kota asalnya.
Selaras dengan momen tersebut, Summarecon Mal Kelapa Gading bersama Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarak…