Langsung ke konten utama

Kita Sama-sama Berjuang


Ahmad pulang dengan lunglai. Tatapannya sendu. Jalannya pun gontai. Di tangannya ada sebuah secarik kertas, dengan goresan tinta hitam yang membubuhkan namanya. Hari pun baru menjelang terik. Tapi dia sudah pulang dari pabrik, tempatnya mencari nafkah.

Suara berdering di saku. Sebuah panggilan video datang. Terlihat wajah anak batita cantik dengan rambutnya yang dikepang dan dari mulutnya keluar lelehan es krim. Wajah lesu Ahmad terlihat bersemangat, meski senyum getir tersungging di balik bibirnya.

Hari ini memang hari pertamanya berkerja lagi sejak pabrik meliburkan para pekerja. Namun bukan tugas yang didapat, melainkan keputusan yang membuatnya serasa didamprat. Pandemi memaksa jajaran direksi menutup pabrik. Seluruh pekerja akhirnya dirumahkan.

Dua bulan silam mereka memang terpaksa menghentikan produksi. Tujuannya hanya agar penyebaran virus segera berhenti. Akan tetapi, malah rejeki mereka yang ikut terhenti. Belum lagi potongan yang hanya separuh gaji. Mau marah, sedih, kecewa rasanya sudah tiada guna lagi.

Ahmad memanggil gadis kecil itu di telepon genggamnya. Sambil berpikir apa yang harus diceritakan nanti pada istrinya. Panjang umurnya, ibu dari gadis kecil tersebut mengambil alih panggilan videonya.

"Ayah, hari ini kakak harus bayar uang sekolahnya yang tertunggak dua bulan. Belum lagi bayar tagihan listrik karena sudah diancam akan dicabut. Jangan lupa, pulang nanti bawakan makanan buat anak-anak di rumah ya."

***

Hanum tak henti-hentinya membalas pesan yang masuk di hapenya. Ada banyak sekali pesanan, mulai dari dalam kota sampai luar kota. Tak jarang pintu rumahnya terbuka untuk orang-orang yang ingin mengambil langsung pesanannya.

Tepat satu bulan sebelum pandemi dan masa karantina diberlakukan, Hanum keluar dari pekerjaannya. Dia mencoba merintis sendiri usahanya. Hanya sebuah makanan beku, yang dijajakan melalui media daring. Dimana olahan beku itu bisa menjadi makanan rebus atau garing.


Awalnya pesanannya hanya sedikit. Mungkin hanya teman-teman dan para tetangga. Satu bulan kemudian terjadilah ledakan itu. Pesanan muncul bertubi-tubi. Banyak orang enggan keluar rumah. Mereka memilih untuk menyimpan stok pangan untuk beberapa hari ke depan.

Bisa dibilang, Hanum adalah orang yang berhasil mengais rezeki di tengah pandemi. Ketika banyak orang kesusahan, dia malah hidup lebih dari berkecukupan. Hati kecilnya tak henti-hentinya mensyukuri keadaan ini.

Ah, ada dua pesan baru di WhatsApp. Mereka memesan berkilo-kilo makanan beku.

***

Yeni bangun dan mematut diri. Dia hanya mencuci mukanya saja dan segera melapisinya dengan bedak tipis dan lipstik natural. Tak lupa dia mengenakan blouse favoritnya. Sebentar lagi dia siap-siap bekerja. Tapi tunggu, mengapa dia masih memakai celana piyamanya?

Usut punya usut, dia duduk di meja samping tempat tidurnya, menyalakan laptopnya, memulai conference call untuk absensi. Ternyata beginilah rasanya bekerja dari rumah. Harus siap siaga selama jam kerja. Menyerahkan tugas tepat waktu dimana data dikirimkan via online.

Pandemi membuat caranya bekerja jadi berubah. Tak perlu menembus kemacetan, berhimpit-himpit di dalam transportasi publik, belum lagi drama menunggu ojek online. Bekerja bisa dilakukan di rumah, work from home.


Hanya satu hal yang dikeluhkan sekaligus juga disyukuri oleh Yeni. Gajinya hanya dibayarkan tujuh puluh lima persen. Dia menghela nafas sambil memikirkan adiknya yang dirumahkan dan gajinya sama sekali tak dibayarkan. Setidaknya, dia masih memiliki pekerjaan.

Ketika sedang sibuk presentasi, terdengar suara di kejauhan.

"Yeeenniiii..jangan lupa angkat jemuran...!!!"

Wajah Yeni merah padam, teman-temannya hanya mesam mesem.

***

Malam sebelumnya, Yeni mendapat kabar bahwa mendapat kabar bahwa kantornya kini sudah bisa memulai work from office kembali. Sistem shifting dimana pekerja masuk secara bergantian diberlakukan. Karena satu kantor dilarang menumpuk banyak orang.

Yeni menyantap lahap otak-otak dan siomay di piringnya. Sudah hampir seminggu dia pre-order karena pesanannya selalu membludak. Tak disangka, rasanya memang sangat enak. Tak lupa dia mengirimkan testimoni lewat media sosialnya, sambil menunjuk sebuah akun bernama "Pawon Hanum".

Keesokannya dia bangun, mematut diri, kali ini mengganti celana piyamanya dengan celana kerja. Karena tidak ingin berdesak-desakan di bus, dia memesan ojek daring. Tak lama pengemudi datang, untunglah Hanum membawa penutup kepala sendiri, sesuai protokol kesehatan. Tak lupa, masker sudah terpasang dari wajahnya sejak dia meninggalkan rumah.

Di perjalanan Yeni berbincang bersama pengemudi. Ternyata Si Pak Pengemudi baru satu bulan menjadi ojek daring. Alasannya, dulu dia diberhentikan karena pandemi, tak ada pesangon, gaji pun dipotong. Sementara di rumah ada istri dan anak dua yang harus diberi nafkah. Belum lagi biaya sekolah dan kontrakan rumah yang terus berjalan.


Istrinya kini berjualan di rumah, sementara dia akhirnya menarik ojek dari subuh hingga malam.

"Yah nggak apa-apa, pak. Pekerjaan apapun halal kok. Kita semua sedang berjuang untuk bertahan hidup. Yang penting masih bisa makan dan kebutuhan terpenuhi."

Yeni bersimpati.

"Iya, mbak. Dulu waktu awal-awal jadi ojek daring sebenarnya sepi orderan juga. Alhamdulilah tiga hari terakhir lumayan, karena kita sudah diperbolehkan bawa penumpang lagi."

Yeni tersenyum, sedikit bersimpati sekaligus ikut senang melihat kebahagiaan kecil Si Pak Pengemudi. Tak lama dia akhirnya sampai di kantornya. Setelah turun, tak lupa dia menyelipkan sebuah lembaran biru ke tangan si pengemudi. Untuk jajan anak, begitu katanya.

Pak pengemudi tak henti-hentinya mengucapkan banyak terima kasih, seraya mendoakan agar Si Mbak Penumpang mendapat banyak rejeki. Yeni masuk ke kantornya, bertegur sapa dengan satpam yang sudah tiga bulan tak ditemuinya.

Dalam ruangan kubikel miliknya. Dia kembali membuka telepon genggamnya. Kembali memberikan tip untuk pengemudi yang telah mengantarkannya sampai ke kantor. Ditambah dengan sebuah ucapan.

"Terima kasih Pak Ahmad. Semangat untuk mencari rezeki. Tertanda, penumpangmu yang cerewet dan baru saja diantar ke kantor di kawasan Sudirman."

***

Untuk mengakhiri rangakaian cerita ini, ijinkan saya menyadur sebuah prosa.

Banyak orang mengatakan, kita berada di kapal yang sama di tengah pandemi ini.
Kenyataannya tidak.
Kita berada di lautan yang sama, tetapi tidak di kapal yang sama.
Ada yang berada di sebuah kapal pesiar mewah.
Ada yang berada di sebuah kapal berjangkar yang kuat, kokoh dan aman.
Tapi banyak di antara kita yang diam di sebuah perahu kayu.
Bahkan ada yang bertahan di sebuah rakit yang rapuh.
Dan banyak di antaranya sudah tenggelam.
Pandemi ini seperti gelombang yang mengombang-ambingkan.
Mereka yang tinggal di perahu kuat akan bertahan.
Sementara sisanya harus berjuang agar tidak tenggelam dan mati.


N.B: Cerita diadaptasi dari kejadian nyata


Komentar

  1. Relate sekali, memang pendemi ini memberikan efek luar biasa untuk semua kalangan. Semoga kita semua tetap bertahan sampai semua ini selesai.

    Btw "Alhamdulilah tiga terakhir lumayan, karena kita sudah diperbolehkan bawa penumpang lagi." ini maksudnya tiga apa? tiga hari? tiga minggu? apa tiga bulan? *pembaca bawel haha

    BalasHapus
  2. Setuju banget sama prosa diatas. Kita berada di lautan yang sama tapi tidak di kapal yang sama.
    Buat aku pandemi ini mengajarkan banyak bersyukur. Bersyukur masih ada tempat yang dituju untuk mencari nafkah walaupun rindu keluarga di kampung halaman.
    Stay safe and healthy.

    BalasHapus
  3. Di tahun dengan angka yang yang cantik ini emang unik, banyak hal2 yang tadinya ngga kepikir bisa terjadi malah beneran kejadian.. bisa dibilang lucu, unik, ngenes, dll tapi bisa diliat juga ada hikmahnya disitu..

    BalasHapus
  4. Wowww....sebuah Insight yang sangat luar biasa.... Setuju sihh ini semua orang punya treatment berbeda menghadapi pandemi ini... Semoga dimanapun posisi kita, tetap selalu semangat ya. Karena katanya dibalik badai akan muncul pelangi indah.... Love you all..

    BalasHapus
  5. Di situasi pandemi ini mengharuskan kita berjuang lebih extra, teruntuk orang2 yang hidup sehari-harinya bergantung pada penghasilan dari usahanya.. Kalian kuat, kalian bisa dan kita semua pasti bisa melewati situasi ini, semoga Allah akan selalu memberikan jalan rezeki dan kesehatan untuk kita yang masih berjuang mencari nafkah. aamiin

    BalasHapus
  6. Banyak hal yg dapat dipetik dari pandemi ini. Lebih banyak belajar bersyukur atas segala yang kita punya, lebih banyak berbagi walau kita sendiri dlm keadaan sempit, lebih care dalam hal kesehatan dan kebersihan, lebih care dengan sesama.
    Saduran prosanya keren banget. Kita berada di gelombang yg sama, dengan kapal yang berbeda. Harus saling bahu membahu agar tak tenggelam dalam buasnya gelombang...
    Maaksih, bebs udah menguatkan.

    BalasHapus
  7. Aku kok nangis bacanya?

    Berasa banget, kalau kita sama sama berjuang. Dengan cara masing-masing

    BalasHapus
  8. Kondisi pandemic, menjadi rentetan kenyataan luar biasa yang semula diyakini sebagian pihak, sulit mampir ke Indonesia. Bergulirnya dinamika hidup baru, yang tidak cukup hanya direnungi. Walaupun sempit, tetap masih ada hal baik di depan sana. Thanks Bank untuk sketsa yang humanis ini.

    BalasHapus
  9. Bener banget. Pandemi ini memang ibarat alat kejut jantung buat semua orang, terlebih bagi mereka yang tiba-tiba diputuskan hubungan kerja. Aku sih ngebayanginnya kayak kehilangan arah gitu. Syukur-syukur ngga ada utang yg harus dibayar. Namun ya, di balik semua itu, setiap orang pasti menemukan ide-ide baru untuk menghadapi keadaan ini dan planning untuk kehidupan New Normal. Saling menguatkan meski memang kita tidak berada di kapal yang sama. Meski sudah tidak ada lagi gaji, namun yakinlah bahwa setiap kita punya rezeki.

    BalasHapus
  10. Semua pastinkerkena dampaknya, baik yang kaya maupun yang pas pas-an. Kembali lagi pada individu masing masing dalam menyikapinya.

    Diantara cerita cerita sedih ada juga cerita yang positif yaitu banyak orang orang yang tergerak untuk membantu sesama dimasa pandemi ini.



    BalasHapus
  11. ah menyentuh sekali kutipan akhirnya koh, terimakasih sudah mengingatkan aku yang kurang bersyukur ini

    BalasHapus
  12. Pamdemic memang mebuat kita semua beradaptasi menjadi lebih kuat dalam menghadapi semua tantangan yg ada. Dan kita punya tantangan masing2 sesuai kapasitas yg Tuhan kasih.

    BalasHapus
  13. di masa pandemi seperti sekarang ini memaksa kita untuk beradaptasi dengan hal-hal baru yang mungkin belum pernah kita lakukan.
    Memang kita berada di kondisi yang sama, namun kita berada dalam kapasitas masing-masing. Adaptasi dengan keadaan adalah jalan yang mesti kita lalui bersama.

    BalasHapus
  14. Wow Deni bagus banget cara tuturnya. Banyak sisi yang diangkat, realita yang ada. Saya baca cerita pertama sedih banget, langsung dijungkirbalikkan ke cerita kedua. Lalu ketawa-ketawa karena serasa bercermin di cerita ketiga. Dan endingnya menohok, setuju banget: kita tidak di kapal yang sama. Untuk kasus saya yang mirip di cerita ketiga, seharusnya betul-betul bersyukur karena masih tidak "tenggelam" seperti cerita pertama. Keren Den, thanks ya tulisannya.

    BalasHapus
  15. Suka sama semua ceritanya dan relate banget. Di masa pandemic ini semua orang punya sisi berjuangnya masing2 ya

    BalasHapus
  16. keren.
    semua memiliki kapal yg berbeda-beda namun di tengah lautan yang sama. Ini bener bgt. Bersyukur masih ada yg mempekerjakan.

    BalasHapus
  17. Betul hanya yang kuat yang akan bertahan namun setidaknya kita masih diberikan kesempatan menghirup udara dengan leluasa maka kita manfaatkan sebaik2 nya semoga apapun usaha kita menjadi berkah untuk sesama Amin

    BalasHapus
  18. Berjuang bersama menaklukkan badai yang menghadang meski berbeda kapal yang dimiliki. Saling menguatkan, membantu sebisanya dan tetap melangitkan doa untuk semua.
    Aku pernah mengalami masa krisis sebelumnya, tahun 1998 pas baru lulus..nyari kerja di saat banyak orang diberhentikan kerja. Kalau ingat itu rasanya...
    Tapi kini kondisinya (menurutku) lebih parah, karena hampir semua terdampak...Semoga setelah badai ini ada pelangi indah menghiasi.

    Btw, suka dengan cara bertuturnya...Keren!!

    BalasHapus
  19. tulisannya dalem tapi disampaikan dengan halus dan ringan, meresaaapppphhh.
    di tengah kebisingan sosial media, chaotic dampak dari pandemil, tulisan ini menyegarkan bangettt...kereennn


    bikin pengen menjelajah blog ini lebih jauh lagi...terima kasih beb

    BalasHapus
  20. Wow ini prosa yang menarik. 3 cerita dijadikan satu kesatuan, masing-masing punya alur, konflik dan ending. Pembaca senang, ending ketiganya bahagia. Hehehe.. Keren Den!

    BalasHapus
  21. Cerita-ceritanya bener-bener dari kisah nyata rata-rata orang saat pandemi ini kak. Bahkan cerita hidupku pun ada di salah satu cerita yang kakak tulis: work from home, meeting bawahannya baju tidur.
    Untuk yang ceritanya sedih karena covid, bersemangat yaa

    BalasHapus
  22. Iyaa betul, kita di lautan yang sama hanya kapal kita yang berbeda. Aku di posisi Yeni, sampai baru kali ini kerja ingin menangis karena tugasnya banyak banget. Mungkin yang membuat capek itu karena meetingnya beberapa kali hingga larut. Punggung jadi pegal2. Ketika ingin menangis, langsung berusaha tegar karena mengingat ada tagihan2 setiap bulan yang harus dibayar.

    Ceritaya related dengan kondisi saat ini dan bahasa yang digunakan pun sederhana. Suka.

    BalasHapus
  23. Ceritanya menggambarkan kondisi saat ini banget. Seperti mendengarkan curhat banyak orang. Prosanya bagus, suka.. :)

    BalasHapus
  24. Huaaaa relate sekali. Beneran kejadian. Semiga kita semua tetap kuat dan pandemi inj cepat usai ya

    BalasHapus
  25. Dengan adanya pandemi ini memang banyak perusahaan yang menutup perusahaannya, bersyukurnya yang masih punya pekerjaan dan tidak di phk, tapi Tuhan tidak akan memberi cobaan tanpa ada solusi, dengan adanya peristiwa ini banyak hal yang dapat dilakukan dulu merasa ga bisa masak mau jualan takutnya tidak laku ternyata disitu malah ada sumber rezeki, yang tadinya ga kepikiran jualan. dengan kondisi seperti ini jadi muter otak gimana cara dpt duit.

    BalasHapus
  26. tulisannya tjakeepppp asli, dan emang relate bangeeettttt. bener sih kita semua emang ada di laut yang sama, tapi kapalnya beda. bertahan atau tenggelam tergantung dari sikap dan cara kita setiap individu.. Prosa penutupnya kereen paraah.

    BalasHapus
  27. Tulisannya realita sekali, Bang. Memang ya kondisi baru ini membawa banyak sekali dampak berbeda-beda buat manusia (dan makhluk hidup lain). Suka sekali btw dengan prosa penutupnya :)

    BalasHapus
  28. membaca ini seperti aku ngaca dengan sekelilingku, selama pademi banyak di sekelilingku yang berdagang juga krn ada yg di phk ataupun pengurang gaji. aaaaa aku sedih baca tulisan iniii..

    BalasHapus
  29. Keadaan pandemi ini bener-bener bikin pikiran terbuka tidak peduli bagaimana bentuk kapal kita, yang paling menentukan adalah semangat dan keteguhan hati melewati lautan yang sedang "badai" ini, meskipun rasanya berat dan sulit tapi badai ini pasti berlalu *tsaaah

    BalasHapus
  30. Sedih banget rasanya pandemi ini benar-benar membuat krisis ekonomi, semua kalangan merasakan dampaknya. Apalagi saudara-saudara kita yang ekonominya menengah kebawah. Pandemi saat ini membukakan mata saya, akan roda yang selalu berputar. Sedih rasanya denger teman-teman atau keluarga yang tiba-tiba kena phk. Semoga kita bisa lalui bersama dan segera berakhir.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Menuju Pagi

Gelap gulita menyergap, namun tak menyurutkan kaki untuk melangkah..

Ribuan derap langkah kaki merayap dalam sendu, sebagian terantuk sebagian tertatih..

Cahaya kecil menerangi jalan, dengan keringat yang terhapus dinginnya pagi..

Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah, tak ada kata untuk mundur..

Dari balik daun, semburat jingga terbangun dari tidur lelapnya..

Sedikit lagi..

Sedikit lagi..

Hanya tinggal beberapa tapak langkah kaki lagi..

Di atas sana, kaki-kaki yang sudah lelah melangkah beristirahat..

Menunggu..

Menunggu..

Dan menunggu..

Cahaya keemasan itu akhirnya muncul, membayar lelah ribuan pasang mata yang menantinya..

Sebagian terdiam..

Sebagian terkejut..

Sebagian bersikap tak acuh dan menyibukkan diri..

Tak ada yang lebih indah daripada melihat anugerah Tuhan, ciptaanNya yang sempurna..

Yang menandakan, hari ini adalah hari baru, semangat baru dan harapan baru..

Lupakan yang telah berlalu, mari songsong hari baru dengan senyuman..

Selamat pagi dunia..

Tak Hanya Outfit, Jam Tangan Juga Bisa "Saltum"

Beberapa waktu lalu di suatu acara resmi, saya bertemu dengan seorang kawan. Ia memakai outfit batik lengkap dengan pantofel, namun ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Ternyata ia memakai jam tangan digital bertipe sport. Tentu ini sedikit mengurangi tingkat "kekerenan"-nya hanya karena "saltum" jam tangan.

Lain halnya dengan seorang kawan lainnya dimana ketika kami traveling trekking ke curug, ia menggunakan jam tangan dengan bracelet stainless steel. Memang tipe ini tahan air, tapi untuk kegiatan outdoor sangat tidak disarankan karena selain lebih berat, bahan stainless steel juga berpotensi mencederai tangan dan tidak nyaman untuk heavy activity.

Berkaca pada kedua kasus ini, ternyata bukan hanya outfit saja yang bisa salah kostum. Aksesoris seperti jam tangan juga harus memiliki penempatan yang sesuai agar tidak saltum. Jangan sampai penampilan sempurna kita dari atas sampai bawah ternoda hanya karena menggunakan jam tangan yang kurang tepat. Jam tangan yang …

Semangkuk Soto, Segelas Anggur dan Peragaan Busana

Beberapa waktu lalu Kementerian Pariwisata telah menetapkan lima makanan yang menjadi kuliner nusantara. Selain menjadi ikon kuliner, makanan-makanan tersebut juga menjadi salah satu media promosi untuk memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Menariknya, Rendang yang saya kira berada di urutan pertama, ternyata ada di posisi kedua. Nomor satu yang menjadi ikon kuliner Indonesia adalah SOTO.
Mengapa soto bisa jadi nomor satu, dibandingkan rendang yang sudah mendunia (apalagi ketika dinyanyikan oleh Bule yang jatuh cinta pada masakan khas Minang itu). Jawabannya adalah selain merupakan kuliner asli Indonesia, soto mudah ditemukan di dimana-mana, bahkan setiap daerah punya ciri khas soto masing-masing. Sebut saja Soto Kudus, Soto Lamongan atau Soto Banjar dengan bumbu, rempah serta kearifan lokal dari kota asalnya.
Selaras dengan momen tersebut, Summarecon Mal Kelapa Gading bersama Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarak…