Bentuk Kebahagiaan


Harapan akan membuat seseorang tetap hidup. Harapan itu misalnya untuk menggapai impian dan cita-cita, harapan untuk menimbun materi, serta harapan untuk bertemu pasangan hidup. Dan bila harapan terwujud, itu akan menjadi sebuah bentuk kebahagiaan.

“Menikahlah. Temukan kebahagiaanmu sendiri.”

Itulah yang sering dikatakan oleh banyak orang bahwa dengan menikah seseorang akan mendapatkan rasa bahagia. Benarkah demikian?

Cinta dan kebahagiaan memang tak bisa dipisahkan. Banyak orang ketika sudah berkepala dua sangat ‘mengharapkan’ kebahagiaan ini. Ada yang sudah mendapatkannya. Ada yang masih sibuk mencarinya. Ada juga yang sudah menyerah.

Aku termasuk orang yang tidak memedulikan atau memusingkan pertanyaan “kapan nikah?” Aku juga bukan orang yang terburu-buru ingin segera melepas masa lajang hanya demi mendapatkan bentuk kebahagiaan yang diharapkan oleh banyak orang itu.

Namun, bukan berarti aku tidak berusaha. Setidaknya aku sudah beberapa kali mencoba mewujudkannya. Beberapa ada yang kandas di tengah jalan. Ada pula yang terpaksa kalah sebelum berperang. Aku juga sempat beberapa kali mengistirahatkan hati karena terlanjur lelah.

Sejak akhir tahun lalu, aku memaksakan hati untuk bertempur kembali. Tentunya dengan harapan untuk mewujudkan kebahagiaan itu. Sayangnya, tidak semua sesuai harapan. Entah berapa jemari yang kugenggam, atau berapa helai rambut yang kubelai. Aku masih gagal!

Terkadang aku bertanya pada diri sendiri, “apa yang sebenarnya kau cari? apa kau menginginkan sosok yang sempurna?” Padahal kita tahu bahwa di dunia ini tak ada yang sempurna.

***

Sampai akhirnya aku bertemu denganmu. Sosok yang masih menjadi tanda tanya pada diriku, atau mungkin pada dirimu juga. Kau selalu bertanya kenapa aku bisa menemukanmu? Apakah aku datang dengan sengaja atau tanpa rencana? Ingin seriuskah atau bermain-main saja?

Kau pernah bertanya apa aku sedang mendekatimu dan aku tak menjawabnya dengan gamblang. Kau juga bertanya apa ada orang lain yang kudekati dan kujawab “tidak”, lalu kau bisa melihat bahwa jawabanku tak sepenuhnya jujur.

Mungkin kau lupa, sejak awal kita bertemu ketika seorang kawan yang memperkenalkan kita, aku sudah memperhatikanmu. Memang belum ke arah sana, hanya saja aku sudah tertarik denganmu.

Atau saat kita bertemu di suatu acara, dimana kau datang dan menyapaku meski kau mengakui dengan jujur kalau lupa siapa namaku. Aku hanya tersenyum, menggenggam tanganmu untuk kedua kalinya dan kita ‘berkenalan’ lagi.

Kau ingat hari ulang tahunmu ketika aku mengucapkan kata selamat. Kau menyebut disaat itulah aku mulai mendekatimu, meski aku tak menganggapnya demikian. Aku ingat ketika mencoba mengajakmu bertemu berdua saja untuk pertama kalinya. Meski awalnya kau tak menganggapnya serius namun akhirnya kau mengiyakannya. 

Kau memang membuatku nyaman dalam arti lain. Meski sejujurnya aku tak suka menyebut kata “nyaman” karena siapapun yang dekat denganku, aku pasti merasa nyaman dengannya.

Aku suka  mendengar suara tawamu yang apa adanya, meski kau suka malu sendiri bila mendengarnya. Aku pun terus merayu dan menggodamu. Entah apakah kau menyukai kalimat-kalimat manis itu atau tidak, tapi setidaknya bisa menyunggingkan senyum di wajahmu.

***

Sayangnya, terkadang harapan tak sesuai dengan kenyataan. Meski merasa nyaman aku sendiri masih belum yakin dengan perasaanku. Begitu juga dirimu yang merasa bahwa mungkin kita cukup sampai disini saja dan tak perlu melangkah lebih jauh.

Kau bilang kau tak suka dengan diriku yang dekat dengan banyak teman wanita, meski beberapa di antaranya adalah orang-orang yang kau kenal. Sementara aku berpikir, kita sulit bersama karena bukan berasal dari leluhur yang sama, meskipun kita menyebut Tuhan yang sama.

Aku berkompromi. Beberapa kali aku mencoba mempelajari budayamu, yang diturunkan para leluhurmu. Kau berkata keluargamu memegang teguh adat tersebut. Kita juga pernah berkata, bahwa bila berlanjut maka ini akan menjadi yang pertama kalinya dalam keluarga kita masing-masing untuk menerima “orang baru dan asing”.

Katamu kau masih sulit membuka hati. Apalagi pada orang yang menurutmu berpotensi kembali menyakiti. Padahal kita masih bisa berkompromi. Aku bertanya-tanya apakah kau sudah terlanjur menutup pintu hati.

Dulu, aku berkata kita memiliki banyak kesamaan. Salah duanya adalah kita sama-sama anak piatu dan sama-sama dikhianati dalam “hubungan” terakhir dimana kita sama-sama mencoba serius dengan “orang itu”. Aku mencoba meyakinkanmu bahwa aku tak ingin menyakitimu atau disakiti olehmu.

Akan tetapi, mungkin ada banyak hal yang sama-sama kita pertimbangkan. Terkadang aku benci dengan konsep bahwa pernikahan adalah tentang menyatukan dua keluarga, bukan dua insan saja. Bagiku, yang terpenting adalah sah di mata Sang Pencipta dan sah secara hukum. Yang lainnya hanyalah pelampiasan demi gengsi semata.

Pada akhirnya saat ini kita berjalan menjauh dan saling memunggungi masing-masing. Mencoba berjalan kembali dengan harapan untuk mendapatkan bentuk kebahagiaan di jalan kita sendiri. Harapan untuk menemukan seseorang yang tak akan membuat patah hati atau mengkhianati lagi.

Kesibukan telah membuatku lupa tentang dirimu. Namun di waktu-waktu tertentu aku sempat memikirkanmu. Seperti sekarng ini ketika aku ingin bercerita tentangmu begitu saja. Tentang harapan-harapan yang pernah kita rangkai dalam canda yang mungkin tak akan pernah terwujud nyata.

Kau bilang tidak ingin memberikanku harapan, dan sejujurnya aku tak menginginkannya. Karena yang kuinginkan hanyalah sebuah kesempatan.

Komentar

  1. Gimana bang drn, saya aminkan ya semoga disegerakan semua harapan tsb.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer