Kupu-kupu Dalam Gelas

“Jadi, siapa kamu?”

Aku tersedak seketika. Sebuah pertanyaan retoris, entah sedang berbasa-basi atau tak ada materi yang bisa diperbincangkan. Sorot mata itu berkilat-kilat seolah menunggu jawaban meluncur dari bibirku.

Aku mengelap mulutku untuk dua alasan. Pertama, membersihkan sisa-sisa spaghetti aglio olio yang menempel. Kedua, untuk mengatasi rasa gugupku.

“Aku adalah lulusan salah satu perguruan tinggi negeri dengan jaket alamameternya yang berwarna kuning cerah.”

Bisu. Datar. Tak ada tanggapan apapun.

“Saat ini aku bekerja sebagai salah satu staf di kementerian perdagangan, dengan status PNS tentunya.”

Terdengar dengusan di seberangku. Kupikir dengan menjelaskan latar belakangku akan memberikan impresi yang bagus. Sayangnya kali ini tidak.

“Bukan itu maksudku. Bukankah kau sudah menceritakan pekerjaan serta kampusmu di pertemuan pertama kita.”

Sinyum simpul tersungging. Sekilas namun membuat nyali menciut.

“Aku adalah anak berdarah campuran. Ayahku seorang keturunan Arab, sementara Ibu adalah orang Minang. Ibu selalu mengajarkanku tentang kerja keras dan....”

Belum sempat aku melanjutkan kalimat, tiba-tiba dia memotong pembicaraan.

“Hei, aku bertanya siapa kamu. Bukan keluargamu.”

Aku mengambil gelas berisi lychee tea. Kubiarkan dingin dan segarnya minuman berkafein itu membasahi kerongkonganku. Jujur, aku kehilangan akal.

Di hadapanku, hadir seorang wanita yang sedang kudekati selama dua bulan terakhir. Karena kesibukan masing-masing, kami jarang bertemu. Ini adalah pertemuan ketiga kami, di sebuah restoran yang menyajikan nuansa khas negeri pisa.

Senyum dan tawanya membuatku terpaku. Banyak orang mengatakan jika ingin membuat seseorang jatuh cinta, maka buatlah dia tertawa. Namun setiap kali dia tertawa, akulah yang jatuh hati.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”

Suara renyah itu kembali bergema, lengkap dengan tawanya yang memesona itu.

Lalu aku tersadar, pertanyaannya bukanlah tentang aku bagi diriku sendiri. Tetapi siapa aku bagi dirinya. Dengan lantang aku menjawab pertanyaannya. Sayangnya kupu-kupu yang berputar di perutku, yang sepertinya masuk ketika aku menyeruput teh, membuat suaraku bergumam seperti kerumunan lebah.

“Tadi kau bilang apa?”

Sebuah kalimat penuh selidik. 

Aku yang sudah bisa mengatur emosi akhirnya bisa kembali bersuara.

“Aku bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang mengagumimu.”

Seketika kupu-kupu itu terbang melintasi ruang.

Komentar

  1. Aaiihhhhh ceritanya simpleee tapi daleem

    BalasHapus
  2. Ihhh gimana vara bikin cerita gini, asik banget dibaca...kohmin ajarin please...

    BalasHapus
  3. Selalu juara deh kalau bikin cerita gini, bikin buku den.
    Ceritanya singkat tapi ngena banget ini, sukaaaa

    BalasHapus
  4. adduhh mas deny.. kok nyesek yaa akhirnya.
    awalnya aku kira bakal bikin perbedaan antara identitas dan personalitas melalui sebuah cerita.. ternyata, aku salah duga.
    kereen

    BalasHapus
  5. Uos banget cerita siapa aku nya bangden.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer