Musik Favoritku Saat Ini Adalah...


Sejak kecil aku sudah akrab dengan musik. Beranjak remaja aku sudah pandai memainkan alat musik. Ketika dewasa aku belajar menikmati setiap alunan musik. Aku tak punya musik favorit. Karena bagiku semua nada, irama, instrumen dan suara yang mengalun dalam harmoni adalah musik yang indah.

Tapi, belakangan ini aku punya musik favorit. Musik yang keluar dari pita suara yang masuk ke gendang telingaku begitu dalam. Sebagian orang mungkin menganggapnya biasa saja, namun bagiku itu adalah musik istimewa.

Musik itu pertama kali terdengar ketika kita jalan berdua. Bagaimana aku mendengarmu bertutur, diiringi tawamu yang indah itu. Terkadang kau tak bisa menahan tawamu hingga aku harus menggodamu untuk diam.

Ingatkah kamu saat kita duduk bersama teman-teman lainnya, saling melempar senda gurau. Kau terlihat begitu nyaman. Aku yang duduk di sebelahmu juga ikut merasa nyaman. Sesekali kau menyenderkan tubuhmu di sampingku diikuti oleh gelak tawamu. Memang terlihat tipis sekali kau bersandar. Atau kau juga tidak sengaja melakukannya. Mungkin karena kita menghindari gunjingan teman-teman yang memperhatikan.

Saat itulah aku mendengar musik itu. Sebuah alunan yang seperti candu bagiku. Pernah suatu waktu ketika kita berbicara lewat telepon genggam, kau berujar dengan malu.

“Aduh, baru kali ini ada orang yang suka sama cara gue ketawa. Biasanya cowok-cowok pada ilfeel. Hahahahahaa..”

Benar. Aku sangat menikmati waktu berbicara denganmu meski dibatasi oleh jarak. Tawamu yang apa adanya dan tak dibuat-buat, menjadi sebuah musik termanis yang pernah kudengar. Ingatkah kau ketika kita pergi ke cafe dimana kau hampir salah masuk pintu. Dimana pintu lift bersebelahan dengan pintu dapur lalu kau menyadari kesalahanmu sambil tertunduk malu dan tertawa.

“Aduh..nggak pernah bener hidup saya.”

Itulah yang kau katakan saat aku menegormu yang salah masuk ke dapur. Tentunya diiringi irama yang indah itu.


Kau punya gitarlele, sebuah alat musik berukuran kecil karena kau merasa ‘kebanting’ jika menggunakan gitar biasa. Aku tertawa mendengarnya, karena tentu saja gitar biasa tak cocok dengan tubuh mungilmu. Kau memberinya nama gimul atau gitar mungil pada alat musik itu.

Sesekali kau memainkan si gimul sambil bersenandung. Memang suaramu tak terlalu merdu, tapi setidaknya tidak membuat telinga sakit. Ketika aku membahas lagu yang kau abadikan dalam sebuah rekaman gambar, kau selau mengelak.

“Njirrrr...malu woe. Udah deh jangan dibahas, gue matiin nih teleponnya...”

Aku pun kembali tertawa karena tahu kau tak mungkin mematikan telepon, dan sekali lagi kau kembali tertawa jika aku menggodamu.

Atau, ingatkah saat tiba-tiba kau bersenandung sebuah lagu yang populer di era tahun 2000-an, yang dinyanyikan oleh vokalis bernama Noe. Memang, usia kita yang hanya berbeda satu tahun membuat obrolan kita lebih nyambung. Mungkin karena tumbuh di era yang sama. 

Kau pernah memintaku bernyanyi. Sesuatu yang awalnya tak kau percayai karena entah kenapa banyak orang berpikir suaraku cempreng dan bisa membuat orang lain kabur, termasuk dirimu yang juga berpikir demikian. Lalu sejurus kemudian kau baru ingat bahwa aku adalah seorang singer dan worship leader.

Pernah suatu kali kita menghabiskan waktu jalan-jalan berdua setelah penatnya aktivitas. Kita berbicara, saling bertatap dan melempar canda tawa. Sesekali aku menyentuh lengan dan juga jemarimu. Atau kau akan membiarkanku membelai rambutmu yang selalu kau sebut ‘megar seperti rambut singa bila tak ditata’.

Disana, kau meminta diabadikan lewat lensa kamera. Kau mengambil pose duduk dan setelah selesai aku mendekati dan menjulurkan tangan untuk membantumu berdiri.

“Aduh, kamu kok peka banget sih,” katamu sambil tersenyum seraya menjemput kedua tanganku dan diiringi musik favorit itu. Ah, rasanya terbuai sekali mendengarnya.

Aku menyukai kekonyolanmu yang tak dibuat-buat. Atau tawamu yang apa adanya. Kau bukanlah orang yang jaim dan tak terlalu suka berdandan. Meski kita terbentur waktu, jarak dan kesibukan masing-masing, aku selalu mencoba mendengarkan musik favorit itu. Ingatkah berapa lama kita biasanya menghabiskan waktu di telepon? Minimal tiga jam! Dan kita selalu baru menyadarinya jika sudah lewat tengah malam atau ketika kantuk menyerang.

Terkadang, bila sedang rindu. Aku selalu memutar voice note kirimanmu yang juga berisi nada termanis itu. Ya, musik favoritku saat ini adalah suara tawamu. Sayang, sudah lama aku tak lagi mendengarnya. Dan kini, aku sangat merindukannya.


Antara Ibu kota dan Planet

13 Oktober 2020




Komentar

  1. Teeettttt Bekasi Bekasiiiii😂😂

    BalasHapus
  2. Ya ke Ke Duan Sri... Wkwkwk. Kapan bisa nyulis kek gini nganan eh Ngiri.. 👍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer