My Mentor, My Boss

Hari itu adalah hari pertama aku bekerja. Katalog-katalog sedang kubaca untuk mempelajari produk-produk dari perusahaan. Tiba-tiba suara langkah kaki itu mendekat. Sedetik kemudian dia bertanya tentang produk-produk apa yang sudah kupelajari.

“Jadi produk A beratnya 52kg. Kamu tahu 1 kilo itu berapa gram?”

Entah grogi atau tidak bisa berpikir jernih, aku lupa kalau 1 kg itu sama dengan 1.000 gram. Aku berusaha mengingat-ngingat tapi lupa. Ah, kenapa otakku tidak bisa dipakai di saat genting seperti ini. Suara itu kembali bertanya, dan dengan lunglai kujawab tidak tahu.

“Wah, kamu nggak bisa dipakai di perusahaan ini. Ya sudah, kamu cukup kerja hari ini saja.” Dia menggelengkan kepala yang membuat tubuhku lemas seketika.

Tak lama dia membawaku ke ruangan meeting. Disitu kami berbicara empat mata. Dia mengatakan bahwa aku harus terus belajar sembari memberikan kesempatan di hari berikutnya. 

Fiuuhhhh...untunglah itu bukan hari pertama dan terakhirku bekerja di kantor tersebut. Tak terbayang aku akan jobless kembali, apalagi hutang juga sudah menumpuk selama menganggur.

*****

Dia adalah bosku, sekaligus mentorku. Dialah yang mengubah mindset dan mengajari banyak hal tentang etos kerja dan disiplin yang tinggi. Aku pertama bertemu dengannya saat interview. Di akhir interview dia memanggil salah seorang karyawannya dan berkata.

“Min, ini partner baru kamu,” katanya seraya menunjukku. Tak lama kemudian dia menyalami dan menepuk bahuku.

“Selamat datang di perusahaan ini.”

Lelaki itu berpostur kurus tinggi dengan kulit putih dan berusia sekitar 50-an. Dari wajahnya yang oriental saja aku tahu dia berasal dari tionghoa suku hokkian, atau biasa disebut ‘Cina Medan’. Tak jarang dengan beberapa karyawan dia berbicara menggunakan bahasa ibunya.

Berbeda dengan bos lain, dia benar-benar memposisikan diri sebagai pemimpin yang ‘nyeleneh’. Mengapa kusebut nyeleneh? Ketika para bos menggunakan mobil untuk ke kantor (beberapa punya sopir pribadi), dia malah berangkat mengendarai motor Honda Beat seorang diri.

“Orang Jakarta itu kalau nggak punya motor sama saja nggak punya kaki. Ya sudah bulan depan gaji kamu naik, cicil saja sepeda motor.”

Kurang lebih begitulah tanggapannya ketika tahu aku selalu berangkat ke kantor naik angkot dan disambung bus. Saat sedang ‘sekolah’ dia mendapratku habis-habisan tapi sekaligus memberi wejangan. Ah, bicara tentang sekolah, itu adalah istilah yang digunakan oleh karyawan lain (dengan nada sedikit mengejek) jika si bos mengajak meeting empat mata di ruangannya. 

Dia memang seorang yang temperamen. Aku berkali-kali melihatnya marah-marah dengan muka yang memerah. Tak terhitung berapa karyawan wanita yang dibuatnya menangis, atau kalimat kasar dan kebun binatang apa saja yang dia tumpahkan saat sedang emosi. Pernah pula dia menendang pintu rolling door ketika melihat cara kerja karyawannya yang menurutnya lelet.

Tapi di samping sifat kasarnya, dia adalah orang yang baik. Mungkin orang-orang hanya melihat dan menilai dari luar saja. Tapi ketika ‘sekolah’ aku bisa menilainya dari dalam, bagaimana bijaknya dia atau ketika berusaha mengajariku, karyawannya yang ‘ndableg’ ini.

“Ikut bapak, kamu bakal jadi pinter.” katanya.

Pada suatu waktu dia pernah bilang begini:

“Jangan bilang kamu Cina. Bilang saja kalau kamu orang Batak. Biar anak buahmu nggak sensi sama kamu.”

Sebuah permintaan aneh, yang kuturuti saja biar tidak ribet. Beberapa hari kemudian ketika harus jalan ke kantor agen untuk urusan pekerjaan, si supir yang mengendarai mobil bertanya:

“Deny orang mana?”

Kaget mendengar pertanyaan itu, dengan gugup aku menjawab.

“Saya orang Batak.”

“Lho, aku pikir kamu Cina. Dari tampangmu terlihat kok.”

Akupun hanya menanggapinya dengan tertawa. Ingin sekali ku membalasnya, “mata anda tak salah kok. Hahahaha.”

Btw, ternyata Om saya adalah langganan perusahaan ini. Banyak karyawan yang mengenalinya dan memanggilnya Ko Ahui. Dan dia terang-terangan menunjukku.

“Ini keponakan saya. Ajarin dia ya kerja disini.”

Dan terbongkarlah rahasia si orang Batak. Hahahaha..

*****

Meskipun hanya 4 bulan bekerja di perusahaan tersebut, aku tak akan melupakan gemblengan bos yang juga kusebut sebagai seorang mentor itu. Dia yang kasar di depan banyak orang, tetapi sangat lembut dan bijaksana ketika berbicara empat mata.

Mungkin dia satu-satunya pemimpin yang aku ‘pandang’ setelah bekerja di berbagai kantor dan perusahaan. Tanpa disadari, aku juga sering membandingkan bosku di perusahaan tempatku bekerja dengan mentorku. Memang, kita tak bisa berharap seseorang melakukan hal yang sama ketika ‘mengembangkan’ karyawannya.

Mentorku itu bersikap layaknya seorang bapak yang keras terhadap para karyawan yang dianggap anak-anaknya sendiri.

Ketika Tahun Baru Imlek tiba dia mengirimkan SMS.

“Selamat tahun baru Imlek. Semoga di tahun macan ini kita punya semangat seperti macan.”

Pernah suatu kali aku diajak makan di sebuah restoran Chinesse Food diboncengi motor Honda Beat miliknya.

“Kamu satu-satunya karyawan yang belum saya ajak makan. Ayo, di meja makan kita bisa belajar banyak hal,” ujarnya dengan mantap.

Setelah resign dari perusahaan tersebut, aku tak tahu bagaimana lagi kabarnya. Karena entah kenapa, bagiku setelah resign artinya aku juga putus kontak dan tali silaturahmi dengan orang-orang disana. Bahkan sampai detik ini aku tak pernah bertemu bos atau rekan-rekan kerja di kantorku dulu.

Tapi, hanya mentorku itulah yang selalu kurindukan. Padahal, rumahnya tak jauh dari tempat tinggalku karena dia sering menyebut daerah pemukimannya (tapi aku tak tahu detil alamatnya).

Semoga beliau sehat-sehat saja, dan bila seandainya pun beliau ternyata sudah tiada, semoga tenang di alam sana. Aku selalu merindukan ajaran dan juga ‘hajaranmu’. Karena, bagiku kau sudah seperti ayah kedua.

Salam hormat untukmu, Pak Salikin.

Komentar

  1. Ah so sweet banget kenangan ama bos pertama dan berkesan banget. Memang ya kalau ketemu bos yang ngemong meski galak itu sangat susah dilupakan. Semoga sehat selalu pak Salikin.

    BalasHapus
  2. Apa orang Batak sebegitu nya ya Stereotipe nya hingga bisa buat orang lain tidak sensi di tempat baru

    BalasHapus
  3. Maka jangan remehkan sekecil apapun itu perbuatan baik. Karena suatu saat pasti ada orang yang akan merindukannya dan berdoa untuk kebaikanmu karena perbuatan baikmu kepadanya.��

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer