Sebuah Memoar



Untuk setiap pundak yang hadir saat kubutuh sandaran..

Untuk setiap senyum dan tawa saat kubutuh hiburan..

Untuk setiap uluran tangan saat kubutuh pertolongan..

Aku ingin mengucapkan, terima kasih kawan..

***

Hari Jumat, seperti biasa, aku duduk di sebelahnya. Meski berbeda kelas, setiap hari Jumat saat pelajaran agama, semua siswa dengan agama yang sama dikumpulkan dalam satu kelas. Sebenarnya saat kelas 10 (1 SMA), kami berdua sekelas. Sayangnya setelah naik kelas, kami juga berbeda kelas.

Seperti biasa, Rendy, kawanku yang kukenal mengeluarkan alkitab miliknya yang disampul tas berbahan kulit yang selalu membuatku iri. Kontras sekali dengan alkitab milikku yang berukuran besar, kertas yang menguning, serta sampul ala kadarnya yang sudah compang-camping.

Saat pertama kali masuk SMA, aku tak kenal siapapun. Rendy adalah teman pertamaku. Biasanya, setelah bel pulang berbunyi kami bermain bola lebih dulu sebelum sama-sama pulang naik angkot, kebetulan rumah kami searah. 

Aku juga beberapa kali main ke rumahnya yang sering kusebut "rumah anjing" saking banyaknya anjing yang dipelihara keluarganya (dan beberapa masih galak). Di rumahnya, dia membuka rental playstation yang pastinya boleh kami mainkan dengan gratis. Hehehe.

Semua berubah ketika kami baru saja naik kelas 12 (3 SMA). Tiba-tiba kami mendapat kabar kalau Rendy masuk ICU. Tak jelas apa penyebabnya. Tiba-tiba saja kolaps. Aku dan kawan-kawan sempat menjenguknya di rumah sakit, melihat tubuh kawan kami terbaring dengan kondisi tak sadar diri dan ada banyak selang dan bunyi mesin yang menyayat hati dan telinga.

Besok lusa, tersiar kabar kalau kondisi Rendy makin drop karena pembuluh darahnya pecah. Seluruh teman-teman satu angkatan berinisiatif membangun solidaritas untuk mendukung sahabat kami. Ya, kami semua kompak untuk "cabut" dari kelas dan ramai-ramai datang ke rumah sakit. Meski sudah diorganisir secara diam-diam, tetap saja rencana itu bocor ke guru dan kepala sekolah.

Serempak kami datang ke RS Husada di Mangga Besar. Memberi support moril untuk keluarga teman kami tanpa menghiraukan hukuman yang siap menanti. Sorenya, setelah aksi solidaritas tersebut, seorang teman mengirim SMS (iya, masih jaman SMS waktu itu).

"Den, ke rumah duka ya. Rendy udah nggak ada."

Sontak kami semua terkaget-kaget. Aku mengingat jelas saat jenazahnya dimasukkan ke dalam peti, dimana saat itu aku menangis dan meraung-raung seperti anak kecil. Tak percaya bahwa aku baru saja kehilangan sahabat yang aku punya, untuk pertama kalinya.

9 November 2007

Rendy Suryadharma, sahabat kami, pergi meninggalkan kami semua di usia yang masih sangat muda. 16 tahun.


***

Pagi itu aku terpaksa naik angkot untuk berangkat kerja. Pasalnya, motorku sedang dipakai oleh saudara karena ada urusan penting. Baru saja berhenti di tepi jalan, seseorang yang kukenal muncul keluar dari gang.

"Ya elah, ngapain lu disini," tanya Adi yang mengendarai motornya hendak berangkat kerja.

"Eh kebetulan banget Cun, anterin gue ke kantor dong." Tanpa ba-bi-bu langsung naik ke atas jok motornya.

"Ah ribet lu Yong," kata Adi sambil ngedumel tapi tetap saja mengantarku ke kantor. (Anyway, kami saling memanggil nama dengan menyebut nama orangtua kami. Wkwk)

Adi adalah teman masa kecilku. Kebetulan rumah kami juga berdekatan. Sebenarnya dia adalah kakak kelasku saat SMP. Namun dia tidak naik kelas setahun sehingga kami seangkatan. Meski setelah lulus SMP aku pindah sekolah, hubungan kami masih tetap akrab.

Aku masih ingat pada Maret 2016, ketika mama meninggal, dengan kondisi basah kuyup Adi datang ke rumah duka. Saat itu hujan turun dengan deras, tapi tak mengurungkan niat kawanku ini untuk datang meski harus naik motor dan hujan-hujanan.

"Wil (ini nama panggilanku yang lain), gue turut berdukacita ya buat nyokap lu," kata Adi yang hampir semua badannya basah kuyup.

"Buset, ujan-ujanan lu! Duduklah, entar gue bawain bubur. Kebetulan banget lu datengnya pas malam kembang."

Adi memang seorang kawan yang baik. Beberapa tahun sebelumnya ketika aku tak bisa jalan dan butuh ke tukang urut, dengan sigap dia datang menjemputku. Ketika aku sedang down pasca kecelakaan hebat, dialah yang memberi semangat dan mendorongku kembali ke gereja (Haleluya!). Ya, dia sosok sahabat yang selalu siap sedia membantuku.

Namun takdir berkata lain. Sebulan kemudian aku mendapat kabar bahwa Adi sedang dirawat di Malaysia. Semua teman-teman memberi dukungan moril lewat Facebook atau Path (sebelum media sosial ini punah). Sayang beribu sayang, kabar duka itu kembali datang. 

Menurut dokter, di paru-paru Adi terdapat tumor ganas (atau kanker, maaf lupa) dan sudah menyebar ke seluruh tubuh. Karena diagnosa yang terlambat, tim medis sudah angkat tangan. Keluarganya berinisiatif membawanya ke rumah sakit di Penang, Malaysia, namun nyawanya tetap tak tertolong.

Sungguh sebuah ironi, terakhir kali aku bertemu Adi ketika dia datang melayat ibuku di rumah duka. Kini, aku malah melihat dia terbaring dan terbujur kaku di rumah duka. Memang benar, usia tidak ada yang tahu.

1 Mei 2016

Aku kehilangan sosok sahabat, Adi Surya Santoso, yang meninggal di usia 28 tahun. Selamat jalan kawan..



***

"Ini yang mana lagi? Baru lagi ya."

"Kok beda sih ama yang lu ceritain kemarin. Siapa lagi ini?"

Kurang lebih itulah yang selalu digumamkan dan ditanyakan oleh Kak Yun setiap kali aku curhat masalah pribadi (tentang cewek, hahaha!). Aku mengenal Kak Yunita dalam sebuah komunitas. Seiring berjalan waktu kami jadi dekat, sering makan atau nongkrong bareng, karokean atau staycation.

Kak Yun adalah orang yang ramah, periang dan supel. Entah bagaimana ceritanya, aku jadi sering curhat ke Kak Yun tentang lawan jenis. Aku masih ingat salah satu pesannya.

"Ya elah, Den. Gimana lu mau dapet cewek. Lu nya aja masih suka kadieu kaditu. Hari ini ke cewek ini, besok ke cewek ono."

Memang, seseorang jomblo karena dua hal. Dia nggak ada yang milih, atau dia kebanyakan milih. Dan (sebenarnya) aku sudah tahu berada di kategori yang mana #sigh #inhale #exhale.

Akhir Februari 2020, tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa Kak Yun masuk rumah sakit. Di ruangan ICU, aku hanya bisa melihatnya terbaring di atas ranjang dari balik jendela. Pembesuk memang tidak diperbolehkan masuk ruangan.

Dua hari kemudian aku mendapat kabar bahwa Kak Yunita sudah bisa dibesuk dan kami diperbolehkan masuk ke dalam ruangan. Sore itu, bersama teman-teman lain kami tiba di rumah sakit. Ketika jam menunjukkan jam 5 sore, tiba-tiba kami dikejutkan oleh kabar buruk.

Di depan ruang ICU semua keluarga Kak Yun tampak sedih dan menundukkan wajah. Aku ingat kalau adik iparnya berkata dengan lirih.

"Yunita udah nggak ada."

Tentu saja kabar duka ini harus kuteruskan ke teman-teman lain. Malam itu juga kami ke rumah Kak Yun karena jenazah akan dimandikan dan disholatkan. Ratap tangis dan kesedihan itu kembali kurasakan. 

Kini aku bukan hanya kehilangan seorang sahabat, tetapi juga kehilangan sosok kakak, partner kerja yang baik dan juga seorang panutan.

29 Februari 2020

Yunita Tresnawati berpulang ke rahmatullah. Ironisnya, keesokan harinya (1 Maret) adalah hari ulang tahunnya yang ke-37. Sayangnya, hari itu menjadi hari ketika Kak Yun kembali ke pusara bumi. Semua yang mengenalnya sangat kehilangan sosok beliau. Tapi, Tuhan memang lebih sayang Kak Yun.

*****

Dalam derap langkah..

Dalam hembus nafas..

Dalam detak jantung..

Aku percaya kau akan selalu di sampingku..

Wahai sahabat..





Komentar

  1. Sedih banget pas baca part kak Yun, masi inget wajah jenazahnya sampe sekarang. Semoga kebaikannya menjadi ladang amalnya untuk ke syurgaNya... amin

    BalasHapus
  2. Mas deny.. betapa kamu kehilangan sahabat2 tercinta yaa. Rasanya pasti sepi banget pas denger mereka ga ada.
    Untuk yg mba yunita, aku jg cukup kenal baik dengan dia.. semoga mereka semua dilapangkn kuburnya yaa..

    BalasHapus
  3. Deny selalu juara kalau bikin cerita. Nggak kuat jadi ikutan sedih, apalagi pas bagian Kak Yun.
    Jadi teringan banyak momen kebersamaan :(

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer