Senyum Berjuta Makna dan Kata


“Senyum di wajahku bukan karena aku bahagia telah memiliki segalanya, tetapi karena aku mensyukuri apa yang telah aku miliki.”

Jam 06.00 WIB

Aku terbangun sambil melirik jam di meja samping tempat tidurku. Minggu yang cerah, pikirku. Inilah saat yang tepat untuk berkeliling mencari spot foto yang menarik. Melihat orang-orang berlalu lalang sambil menikmati Car Free Day.

Rumahku yang berdekatan dengan Stausiun Lenteng Agung memudahkan urusan transportasi. Segera saja aku mandi dan menata diri, kulihat ibuku sudah tak ada di kamarnya, mungkin sedang ke pasar. Tak apa, lagi pula aku sudah memberitahu rencanaku hari ini.

“Besok Dinda mau keliling kota bu.” Kurang lebih begitulah percakapan kami semalam. Ibu tersenyum seraya mengizinkan.

Aku melangkahkan kaki. Kupakai outfit terbaik dan nyaman. Tak lupa sebuah tas ransel kecil berisi tumbler, tas kamera, buku notes, pen, tas make up kecil dan barang perintilan lainnya akan menjadi temanku hari ini.

Tak jauh dar rumahku, ada lapak Bu Asih yang menjual nasi uduk. Aku tersenyum pada wanita paruh baya ini yang dibalas senyum seraya bertanya aku hendak kemana. Kujelaskan tujuanku sambil menunjuk gorengan yang memanas di meja lapaknya.

“Nasi uduk bungkus satu, sama bakwan dan tempe goreng ini bu. Jadi berapa semua?”

Selesai membayar, aku kembali melanjutkan perjalanan. Stasiun ini sepertinya sudah khatam dengan kehadiranku. Aku tesenyum dan menyapa Pak Zainal, petugas stasiun yang sangat hafal dengan wajahku si anker (anak kereta) yang sangat setia. Pak Zainal yang pernah membantuku suatu waktu balas menyapa, menanyakan tujuanku dan berpesan untuk hati-hati.

Jam 08.15 WIB

Ahirnya aku tiba di Stasiun Gondangdia. Kulangkahkan kaki mencari lapak penjual minuman, berhenti sejenak untuk menikmati nasi uduk Bu Asih yang lezatnya tiada tara (bagiku). Aku memang sangat lapar. Tak lupa kuambil kamera dari tas untuk mengabadikan aktivitas para pedagang di sekitar stasiun.

Aku melihat wajah-wajah yang berpeluh tapi tak pernah kehilangan semangat untuk mengais rezeki setiap hari. Ketika melihat hasil foto di layar kamera, aku merasakan energi mereka yang seolah dikirim ke tubuhku. 

Perjalanan kulanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri Sarinah dan tiba di kumpulan massa yang sedang menikmati CFD.

Cekrek! Aku mengabadikan orang-orang yang sibuk berlari.

Cekrek! Ah, ada para pesepeda yang muncul dari balik keramaian.

Cekrek! kali ini muncul pawai entah untuk perayaan apa.

Karena suasana cukup ramai, seingkali aku bersenggolan dengan orang-orang. Beberapa kali aku menunduk dan tersenyum menyiratkan tanda maaf. Beberapa tersenyum balik, ada juga yang bersikap cuek. Tak apalah, setidaknya aku sudah bersikap baik.

Karena CFD hanya sampai siang, aku berinisiatif untuk mencari hiburan lain setelah puas berfoto-foto. Kakiku melangkah ke sebuah mall yang berada di kawasan senayan. Tak jauh dari Halte Busway. Rasanya sudah lama tidak me time, aku pun membeli tiket nonton film yang dbintangi aktor favoritku yang sangat tampan dengan rambut pirang dan mata birunya.

Sepanjang film aku terpukau dan terpana menyaksikan aktor tersebut. Ah, andai saja aku bisa bertemu dengannya, pikiranku mulai halu. Selesai menonton dan makan siang, aku kembali berkeliling menyusuri GBK yang ramai oleh lalu lalang orang yang hendak berolahraga. Senang sekali melihat wajah-wajah yang bersemangat ini. 

Jam 18.50 WIB

Tanpa terasa waktu hampir menunjukkan pukul 7 malam. Aku langsung bergegas menuju Stasiun Sudirman. Masuk ke dalam gerbong, aku bersebelahan dengan pria berjaket dan memakai topi. 

Pria itu tersenyum menyapaku, aku balas tersenyum. Tiba-tiba dia bertanya sesuatu, menanyakan tujuanku. Aku yang sedikit gugup karena tiba-tiba ada yang bertanya demikian langsung terbata-bata. “Mau pulang ke rumah,” jawabku singkat. Dia tersenyum dan menjelaskan bahwa tujuannya sama.

Aku tiba di Stasiun Lenteng Agung, sambil mengeluarkan dompet dan mencari kartu KRL. Terburu-buru aku menuruni tangga, dan tiba-tiba aku melihat pria bertopi dan jaket yang menyapaku di gerbong muncul dari belakang.

Tanpa basa-basi dia langsung merebut dompet yang saat itu masih kupegang dan kabur dengan begitu cepat. Aku yang kaget berusaha mengejar tapi langkah kaki pria itu bagaikan peluru yang menembus angin.

“TOLONG...TOLONG...JAMBRETT..!!!”

Aku berteriak tapi tak ada yang mendengar. Aku berhenti dan duduk termenung. Memang sih uangnya tak seberapa, tapi ada banyak kartu dan dokumen penting dalam dompet tersebut. Ah, seandainya ada Pak Zainal si petugas stasiun. Sepertinya dia sudah pulang karena aku tak melihatnya.

Aku berjalan gontai dan ketika mengetuk pintu rumah, ibu membukakan pintu. Spontan aku memeluknya sambil menangis. Kujelaskan apa yang baru saja terjadi. Mendengar ceritaku, ibu hanya tersenyum dan mengatakan,

“Dinda, almarhum bapak pernah bilang, tersenyumlah untuk apapun yang terjadi, kamu tak usah sedih. Anggap saja kamu hari ini sedang tidak bernasib baik. Setidaknya kamu masih baik-baik saja,” begitulah yang diucapkan oleh ibu, bukan lewat bibirnya tetapi melalui gerak tangannya.

Aku mengusap air mata, dan membalasnya melalui gerak tanganku.

“Iya bu, aku bersyukur tidak kenapa-kenapa.”

“Ya sudah, kamu mandi dan makan dulu ya. Ibu sudah masak buat kamu.” Ibu tersenyum dan menggerak-gerakan tangannya.


Bahasa isyarat memang menjadi alat komunikasi aku dan ibu. Orantuaku tak pernah menyebutku tuna rungu, dia hanya mengatakan aku bisu dan tuli serta memiliki kebutuhan khusus. Pak Zainal si petugas stasiun juga adalah orang yang bisa ‘berbicara’ denganku karena anaknya juga sama sepertiku. Bu Asih, meski tak mengerti bahasa isyarat, dia selalu sigap melayani pesanan nasi uduk yang cukup kujelaskan dengan jari telunjuk.

Bapak memang selalu mengajarkan untuk mensyukuri keadaan. Aku pun sudah terbiasa dengan orang-orang yang tak mengerti caraku ‘berbicara’ yang menurut mereka seperti orang bergumam yang lagi nunjuk-nunjuk. Atau bagaimana reaksi mbak petugas tiket bioskop ketika tahu aku bisu dan tuli tapi mau menonton film.

“Tak apa, lagipula ada terjemahan di layar kan.” Aku berusaha menjelaskan dengan menulis di notes dan pen yang selalu kubawa yang dibalas dengan senyum mbak petugas tiket sambil menuliskan “Selamat menonton :)”

Mungkin karena mengetahui kelemahanku itu pula yang membuat pria bertopi dan berjaket yang kutemui dalam gerbong langsung mengincarku sebagai target. Mereka tahu, sekeras apapun aku berusaha berteriak. Tak akan ada yang mendengar, apalagi menolongku.

Aku menghela nafas panjang. Kurebahkan diriku di kasur. Mencoba mencerna apa yang terjadi hari ini. Lalu kembali teringat ucapan Bapak, yang disampaikan lewat bahasa isyarat tentunya.

“Hadapi hidup ini dengan senyuman meski sedang mengalami cobaan berat. Teruslah menyebarkan senyum pada sekitarmu. Karena meski tak mengerti apa yang kamu katakan, mereka pasti mengerti senyummu.”

Memang senyum adalah bahasa yang menular. Mereka akan tesenyum ketika melihatku tersenyum. Dan ada banyak sekali kebaikan yang kurasakan ketika mengawali sesuatu dengan senyum.

Aku termenung, dan sedetik kemudian tersenyum. Seolah membalas Bapak yang sedang tersenyum menatap anak gadisnya dari jauh sana.


Komentar

  1. senyum adalah ibadah, ahh indahnya jika dunia ini selalu dipenuhi orang2 yang tersenyum tapi dengan senyuman penuh makna.. bukan seperti orang yang sedang tebar pesona yahh

    BalasHapus
  2. Smile is simplest language. Even a baby understand.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer