Suatu Hari Nanti


Bagaimana kalau di Singapura?”

Imam menyentuh tangan wanita di sampingnya dengan lembut, meski tersirat ketergesaan di jemarinya. Elisa membeku. Tatapannya kosong. Dia berusaha mendengarkan penjelasan Imam tentang negeri tetangga yang menurut pandangannya cukup aman.

Elisa tak merespon apa yang dikatakan oleh Imam. Bibirnya membisu. Yang dia ingat hanyalah satu jam yang lalu dia mengajak Imam bertemu untuk membahas pesan dari orangtuanya.

“Nak, umur kamu sudah 25 tahun. Sudah dewasa pastinya. Ibu hanya meminta satu hal, tak perlu yang saleh, yang penting kalian bisa doa sama-sama.”

Sama persis, Elisa menyampaikan pesan tersebut pada Imam yang dibalas dengan sikap frustrasi hingga menyebut ide gila "kawin lari" di negara tetangga.

“Artis-artis banyak kok yang melakukan itu. Jadi, kita juga pasti bisa,” Imam mencoba merajuk sambil menggenggam tangan kekasihnya.

Sepersekian detik kemudian, Elisa akhirnya bersuara.

“Imam, kamu sayang aku?”

“Ya, Elisa. Aku sayang kamu.”

“Kamu sayang orangtua kamu?”

“Tentu aku juga sayang mereka.” Imam mulai frustrasi.

“Apakah rasa cintamu padaku lebih besar daripada rasa cintamu pada Tuhanmu?”

Kali ini Imam terdiam. Tak tahu jawaban apa yang harus diberikan.

“Aku mencintai Tuhanku dan mengagumi ciptaanNya.” Perlahan jarinya menyentuh wajah putih wanita yang dicintainya itu.

“Sa..kita hanya menyebut Tuhan dengan nama berbeda.”

Sejurus kemudian, Elisa bersuara lagi dengan lebih lantang, seolah dia sudah berlatih dan menghafal kalimat tersebut berulang kali.

“Imam, jujur saja aku mencintaimu. Aku juga menyukai keluargamu. Tapi ada tembok kasat mata yang menghalangi kita. Tak bisa dipisahkan. Satu-satunya jalan adalah salah satu dari kita harus berpindah sisi agar tetap bersama. Apa kamu siap? Atau, apakah aku yang sudah siap?”

Imam hendak menyela sebelum Elisa mengangkat telunjuknya sebagai perintah untuk tetap diam.

“Kamu tahu, kan. Ayah dan ibuku adalah seorang pendeta. Tentu saja mereka menentang hubungan ini. Tapi mereka akan melunak jika kamu berbesar hati untuk...” 

Elisa tiba-tiba tercekat. Tak sanggup dia melanjutkan kalimat berikutnya.

“Kita seperti berada di perahu yang berbeda dan saat ini sedang berjalan bersama. Tapi akan tiba saatnya perahu tersebut berjalan di dua arah berbeda. Tak mungkin menempatkan kedua kaki kita di dua perahu berbeda terus menerus. Kita harus memilih salah satu perahu, atau tenggelam,” tegas Elisa setelah menemukan analogi yang cocok untuk hubungan mereka.

Imam kembali terdiam, hatinya bimbang. Dia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya menyesap kopi hitam di kafe yang, sebuah kebetulan, merupakan tempat kencan pertama mereka. Imam beranjak, membisikkan sesuatu ke telinga Elisa, kemudian bergegas pergi.

Tiga bulan setelah pertemuan itu, Elisa duduk menyendiri di sudut kafe. Bukan. Bukan di kafe tempat dia dan Imam terakhir bertemu. Tapi kafe yang berada persis di seberangnya.

Elisa termenung, menyusun potongan-potongan memori sambil memandangi meja dan kursi yang menjadi saksi bisu kisah mereka. Elisa masih ingat, setelah pertemuan itu dia pulang ke rumah, mengunci diri di kamar, dan berdoa, atau katakanlah mencoba berdialog dengan Sang Pencipta.

Bagiku, lonceng yang berdentang dan adzan yang berkumandang sama indah dan merdunya..

Bila harus memilih, aku suka pada salib yang membuatku tenang maupun kiblat yang menentukan arahnya pulang..

Dahsyatnya syafaat, bagiku sama dengan manisnya syahadat..

Di antara hitungan tasbih dan kalungan rosario, aku percaya sujudnya dan genggam tanganku akan bertemu di amin yang sama..

Elisa tersadar dari lamunannya. Sekali lagi dia melihat sebuah foto seseorang yang amat dikenalnya. Tepatnya bukan hanya foto, di bawahnya tersemat pesan yang dikirim secara berantai.

Pernikahan Imam & Dinda

Itulah judul pesannya dengan foto pasangan pengantin pria dengan busana putih dan wanita yang terlihat cantik dengan hijab berwarna senada dan hena di tangannya.

Elisa termenung. Sudah lama dia membuang kesedihan dan patah hatinya yang klise. Samar-samar dia mengucapkan kalimat yang dibisikkan oleh Imam sebelum mereka berpisah.

“Aku berjanji, suatu hari nanti kita akan hidup bersama. Itu pasti, percayalah padaku.”

Ya, suatu hari nanti.


Komentar

  1. "Kita harus memilih salah satu perahu, atau tenggelam."
    Noted Kaka. ㅋㅋㅋ

    BalasHapus
  2. Aaakkkk kenapaaa hati aku yg nyeeesssss padahal Elisa yang di tinggal nikah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer